BANDA ACEH — Tradisi Seudati Tunang yang mulai jarang digelar di Aceh akan kembali dihidupkan. Komunitas Saleum menghadirkan pertunjukan Seudati Tunang dalam kegiatan Pentas Budaya Sudut Kota yang akan berlangsung di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, 11 September 2026.
Kegiatan mengusung tema “Tradisi Lestari, Budaya Bangkit” dan mendapat dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI tahun 2026.
Yang menarik, Seudati Tunang kali ini mempertemukan dua kelompok seudati dari daerah berbeda. Seudati Komunitas Saleum akan bertunang dengan Seudati Sanggar Rawali dari Nagan Raya.
Dua Syeh Seudati, Syeh Dhan Geunta dan Syeh Indismi, akan beradu kepiawaian, kelincahan gerak, syair, serta kisah dalam setiap rukun Seudati. Bukan sekadar pertunjukan, tunang ini menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan masing-masing kelompok dalam menjaga marwah seni tradisi Aceh.
Pertunjukan tersebut akan menjadi bagian dari rangkaian acara yang berkolaborasi dengan Aceh Culinary Festival. Selain Seudati Tunang, masyarakat juga akan disuguhi berbagai kesenian tradisional Aceh, termasuk tarian dan ca’e Aceh.
Pentas Budaya Sudut Kota sendiri merupakan program Komunitas Saleum yang digelar di dua wilayah, yakni Kabupaten Pidie dan Kota Banda Aceh.
Kegiatan perdana telah sukses dilaksanakan di Lamlo, Kota Bakti, Kabupaten Pidie, pada April 2026 lalu. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan di Banda Aceh dengan menghadirkan kembali tradisi Seudati Tunang yang kini semakin jarang ditemukan.
Ketua Komunitas Saleum, Imam Juaini, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi bagian dari upaya menjaga tradisi agar tetap hidup dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Menurutnya, Seudati Tunang perlu kembali dikenalkan kepada generasi muda karena tradisi tersebut mulai jarang dipraktikkan di tengah masyarakat.
“Seudati Tunang sudah jarang diadakan.
Kalau terus dibiarkan, bukan tidak mungkin tradisi ini akan hilang dan punah pada suatu masa,” ujar Imam Juaini.
Ia berharap Pentas Budaya Sudut Kota dapat menjadi ruang pertemuan antara seni tradisional dan generasi masa kini.
Melalui panggung tersebut, Komunitas Saleum ingin menunjukkan bahwa kesenian tradisional Aceh bukan warisan masa lalu semata, tetapi dapat terus bergerak, berkembang, dan mendapat tempat di tengah perubahan zaman.
11 September nanti, bukan hanya dua kelompok Seudati yang bertemu. Tradisi lama akan berhadapan dengan zaman baru—dan panggung menjadi ruang untuk membuktikan bahwa budaya Aceh masih hidup.
Kalau ingin, saya juga bisa �buatkan 5 pilihan judul yang lebih “meledak” untuk portal berita dan Facebook, misalnya dengan gaya “Dua Syeh Adu Kehebatan.”[]








