SIGLI – Bursa kepemimpinan nasional menjelang Kongres HMI ke-XXXIII dan Musyawarah Nasional (Munas) KOHATI di Lampung pada November 2026 mulai menjadi perhatian. Sejumlah nama kader perempuan mulai diperbincangkan, salah satunya Melati Sari Maisara, kader HMI asal Tanah Rencong yang dinilai memiliki kapasitas dan rekam jejak untuk diperhitungkan dalam bursa kepemimpinan KOHATI PB HMI.
Penilaian tersebut disampaikan Muhammad Andri Mila, alumni HMI yang mengenal perjalanan Melati sejak masa perkuliahan. Menurutnya, perjalanan organisasi Melati menunjukkan proses kaderisasi yang cukup panjang, mulai dari lingkungan HMI Cabang Sigli hingga dipercaya memimpin KOHATI Badko HMI Aceh periode 2021–2023.
“Perjalanan Melati tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses kaderisasi, pengalaman organisasi, serta tanggung jawab kepemimpinan yang telah dilaluinya secara bertahap,” ujar Andri Mila.
Ia menilai pengalaman Melati di tingkat daerah hingga keterlibatannya dalam kepengurusan KOHATI PB HMI menjadi modal penting untuk memahami dinamika organisasi secara lebih luas.
Ingatan Andri Mila kemudian kembali pada masa ketika dirinya masih mengampu salah satu mata kuliah di Perguruan Tinggi Islam Al Hilal Sigli. Dari ruang kelas tersebut, ia mengaku melihat langsung perkembangan Melati sebagai mahasiswa sekaligus kader HMI.
“Dia representasi kader yang cukup lengkap. Ada keseimbangan antara pengalaman organisasi, kemampuan akademik, dan kemandirian dalam berwirausaha,” katanya.
Menurut Andri, potensi kepemimpinan Melati sudah terlihat sejak masa perkuliahan. Ia menggambarkan Melati sebagai sosok yang aktif dalam diskusi, mampu menyampaikan gagasan secara terstruktur, serta memiliki keberanian dalam mengemukakan argumentasi.
“Ketika saya mengampu mata kuliah dulu, dia sudah terlihat berbeda. Aktif, gagasannya bagus dan argumentasinya tersusun rapi ketika berdiskusi di kelas. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian ia mampu melangkah lebih jauh dalam perjalanan organisasi HMI,” ujarnya.
Selain pengalaman di organisasi dan akademik, Melati juga dinilai memiliki pengalaman dalam membangun kemandirian melalui aktivitas kewirausahaan. Bagi Andri, kombinasi pengalaman tersebut menjadi nilai tambah bagi seorang kader yang hendak mengambil peran lebih besar di tingkat nasional.
“KOHATI membutuhkan figur yang tidak hanya mampu mengolah wacana, tetapi juga memiliki pengalaman dalam menghadirkan karya nyata. Pengalaman mengelola dinamika dalam organisasi dari daerah hingga tingkat nasional merupakan modal sosial yang penting untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar,” tutup Andri Mila.[M]









