BANDA ACEH – Pesantren Modern Al Zahrah Bireuen melalui Al Zahrah Literacy Center (ALC) melakukan kunjungan silaturahmi ke Balai Bahasa Provinsi Aceh di Lampineung, Banda Aceh, Rabu (16/9/2026).
Rombongan yang dipimpin Ketua ALC, Ikhwan Ramadhana, S.Pd., M.Ag., disambut langsung oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, S.S., M.Hum., di Aula kantor setempat.
Kunjungan ini merupakan silaturahmi awal sekaligus penjajakan kerja sama dalam pengembangan mutu pendidikan pesantren, khususnya penguatan literasi bahasa Indonesia. Belum ada penandatanganan nota kesepahaman (MoU), namun kedua pihak sepakat membuka peluang kolaborasi ke depan.
Kepala Balai Bahasa Aceh, Muhammad Irsan, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menegaskan bahwa Balai Bahasa berada di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang mengemban tugas pembinaan, pengembangan, dan perlindungan bahasa dan sastra Indonesia.
“Terima kasih atas kunjungan ini. Kami membuka peluang kolaborasi tidak hanya pada satu program, tetapi juga dalam pembinaan, pengembangan, dan perlindungan bahasa dan sastra Indonesia secara luas,” ujar Irsan.
Tawarkan Dua Program Unggulan: Aksara dan UKBI
Dalam pertemuan tersebut, Balai Bahasa memaparkan dua program unggulan yang ditawarkan untuk pesantren. Pertama, program Aksara (Aktualisasi Karya Sastra dan Kebahasaan) dan kedua, program UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia).
Irsan menjelaskan, Program Aksara merupakan inovasi yang lahir dari pengamatan terhadap karya peserta sayembara. Program ini bertujuan membantu penulis, calon penulis, mahasiswa, siswa, dan masyarakat umum yang belum terampil menulis bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai kaidah.
“Prinsipnya adalah penulis harus bisa menulis dan mengedukasi. Program ini kami laksanakan secara hibrid dan offline, dipandu oleh narasumber yang ahli di bidang bahasa,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga fokus pada program Perjenjangan Buku, yaitu proses penyuntingan naskah agar buku yang dihasilkan bermutu dan sesuai dengan usia pembaca, serta program penyediaan buku bermutu untuk PAUD, SD, dan SMP dengan tujuan mengenalkan bahasa daerah agar tidak punah.
Sementara untuk UKBI, Irsan menyebutnya sebagai alat uji untuk mengetahui tingkat kemahiran berbahasa Indonesia. Hasilnya akan mencerminkan proses pembelajaran bahasa di sekolah dan bahkan tergambar dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Literasi kita tidak aman-aman saja. Sekadar membaca tidak cukup, tapi harus memahami. Karena itu kita perlu memasifkan UKBI di sekolah,” tegasnya.
Menurutnya, UKBI penting untuk membiasakan kembali siswa pada suasana ujian, mengingat dampak Covid-19 yang membuat siswa dan guru tidak lagi terbiasa menghadapi ujian.
Ia berharap UKBI dapat menjadi program rutin dan unggulan di Pesantren Al Zahrah, yang pelaksanaannya direncanakan pada bulan Oktober yang merupakan Bulan Bahasa dan Sastra. Nantinya, Balai Bahasa akan melakukan sosialisasi kepada pengelola laboratorium bahasa/komputer dan mendaftarkan santri secara kolektif.
Harap Tingkatkan Kompetensi Menulis Santri
Menanggapi hal itu, Ketua ALC, Ikhwan Ramadhana, berharap penjajakan ini dapat meningkatkan kompetensi santri dalam menulis.
“Kami berharap melalui silaturahmi ini anak-anak kami lebih baik dan berkembang lagi dalam penulisan. Kami masih membutuhkan penambahan ilmu tentang bagaimana menulis bahasa dengan baik dan benar, termasuk dalam membuat kalimat dan penulisan yang panjang,” ujar Ikhwan.
Senada, Kasubbag Umum Balai Bahasa Provinsi Aceh, Dr. Baun Thoib Soaloon SGR, S.Ag., M.Ag., turut mengapresiasi kunjungan tersebut dan melihat adanya keselarasan program.
“Peluang kolaborasi untuk saling mengisi dan mendukung program kegiatan masing-masing. Bukan hanya visi misi Balai Bahasa, tapi juga membantu pengembangan kegiatan di Al Zahrah,” sebut Baun.
Ia menilai, selama ini kecenderungan pesantren lebih fokus pada bahasa asing, padahal kemampuan literasi berbahasa Indonesia anak-anak Aceh masih di bawah rata-rata nasional, terutama dalam kemampuan memahami teks yang diperparah oleh penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Melalui penguatan seperti menulis buku dan esai harus terus ditingkatkan. Untuk bisa menulis, seseorang harus membaca. Aktivitas santri seperti lomba bercerita dan pidato harus terus digalakkan,” katanya.
Baun menegaskan prinsip kebahasaan yang harus dipegang: Bahasa asing untuk akses global, bahasa Indonesia sebagai kebanggaan, dan bahasa daerah untuk dilestarikan.
“Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing,” pungkasnya.
Turut hadir Kasubbag Umum Balai Bahasa Provinsi Aceh Dr. Baun Thoib Soaloon SGR, S.Ag., M.Ag., serta rombongan Al Zahrah yakni Riza Mulia, S.Sos.I., M.A., Intan Aliya Yuskar, S.Pd., Nanda Rezeki, S.I.Kom., Jumiati, S.Pd., Az-Zahraturrima, dan beberapa santri putri Al Zahrah. []









