BLANGPIDIE — Kabar gembira datang dari petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Hasil panen padi di wilayah Kecamatan Blangpidie pada musim tanam Gadu tahun 2026 ini mencatatkan rekor fantastis, mencapai 8,7 Ton per Hektare (GKP). Ini merupakan rekor tertinggi selama 6 tahun terakhir.
Capaian tersebut jauh di atas rata-rata produktivitas nasional yang hanya berkisar 5 – 6 Ton per Hektare. Hasil yang melimpah ini membuat petani Blangpidie tersenyum lebar setelah beberapa tahun terakhir dilanda banjir dan serangan hama.
Salah seorang petani di (Cot Situi) Keudee Siblah Blangpidie mengaku hasil panen tahun ini di luar dugaan. Jika tahun-tahun sebelumnya hanya mampu mencapai 6-7 ton, tahun ini bisa tembus 8,7 ton.
“Alhamdulillah, tahun ini luar biasa. Padi berisi semua, bulirnya panjang-panjang. Dalam satu hektare bisa dapat 8,7 ton. Ini rekor selama saya bertani 6 tahun terakhir,” ujar Mawardi dengan wajah sumringah, Jum’at (18/09/2026).
Tak hanya hasil panen yang melimpah, harga gabah seluruh Abdya di tingkat petani juga cukup stabil dan menguntungkan. Saat ini, Gabah Panen Basah atau yang sering disebut sebagai Gabah Kering Panen (GKP) dibeli oleh agen / toke di sawah dengan harga Rp 7.000 per Kg.
“Harga Rp 7.000 itu sudah sangat bagus untuk kami. Agen langsung jemput ke sawah, petani tidak perlu lagi susah-susah bawa ke penggilingan. Kalau hasil 8,7 ton dikali Rp 7.000, itu sudah sangat membantu ekonomi kami,” tambahnya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari penggunaan bibit unggul, pola tanam yang teratur, serta dukungan pupuk bersubsidi dan pendampingan dari pemerintah daerah, Dinas Pertanian Abdya, dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Para petani berharap, harga Rp 7.000 ini dapat terus bertahan hingga akhir musim panen dan pemerintah dapat menjaga stabilitas harga agar petani tidak dirugikan oleh permainan tengkulak.
Dengan capaian 8,7 Ton/Ha ini, Blangpidie diprediksi akan menjadi salah satu lumbung padi terbesar di wilayah Barat Selatan Aceh tahun ini.









