Semarang – Kafilah perwakilan dari Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Selatan berhasil menyabet juara 1 dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 cabang Fahmil Qur’an. Provinsi Aceh menang untuk sesi putri dan Provinsi Sumsel menang di sesi putra.
Musabaqah Fahmil Qur’an sesi 1 untuk putri dilaksanakan pagi tadi di Auditorium UIN Walisongo Semarang. Regu A dari Provinsi Aceh melawan kafilah regu lain dari Provinsi Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
Regu putri Aceh diikuti tiga santri Pondok Pesantren Insan Qurani, yakni Azka Dara Maulidya (18), Kayyisa Farras (18), dan Izza Mushviya (18). Mereka tampak unggul dalam babak soal paket dan berebut poin dengan regu dari Jawa Tengah.
Salah satu kafilah dari Aceh, Azka, mengaku sempat deg-degan menghadapi babak final. Terlebih, persaingan semakin ketat dan salah satu lawannya merupakan tuan rumah, Jawa Tengah.
“Tentunya kami deg-degan karena lawannya juga saingannya berat dengan tuan rumah, tapi alhamdulillah juga semua ini karena Allah yang membantu, kami layak untuk mendapatkan ini,” kata Azka kepada detikJateng di lokasi, Jumat (18/9/2026).
Bagi Azka, kemenangan ini menjadi momen istimewa karena merupakan keikutsertaannya yang pertama sekaligus terakhir di MTQ Nasional.
“Ini yang pertama dan ini yang terakhir kali karena tahun depan nggak ikut lagi. Umurnya sudah lewat,” ujarnya.
Azka mengatakan kemenangan tersebut tidak diraih dengan persiapan singkat. Tim Aceh telah menjalani training center (TC) sejak Mei 2026, dan terus belajar secara intens.
“Setiap bulan latihan 8-10 hari dan kami TC cuma ada 4 tahap. Setiap tahap 8 hari. Kami memang dari sekolah yang sama dan sering mewakili untuk Fahmil antarsekolah,” ucapnya.
Menurut Azka, tantangan terbesar selama mengikuti perlombaan adalah menjaga mental. Apalagi, mereka harus menghadapi persaingan ketat sejak babak penyisihan hingga final.
“Ketat sekali. Sesuai dengan standar final nasional. Kami sempat terintimidasi, semenjak semifinal itu kami putra-putri lawan Jawa Tengah, memang langsung tuan rumahnya,” katanya.
“Tapi kami tetap tenang dan menjawab sesuai kemampuan. Karena memang kita sama-sama belajar. Kalau belajar bisa jawab, kalau nggak ya sudah. Kami jawab semampu kami,” imbuhnya.
Azka mengatakan mengikuti Fahmil Qur’an memberikan pengalaman dan pengetahuan baru tentang Al-Qur’an. Menurutnya, kompetisi tersebut membuat mereka semakin dekat dengan Allah sekaligus memperluas pemahaman keislaman.
“Pastinya kedekatan dengan Allah. Kita lebih tahu banyak ilmunya, hafalan Al-Qur’an yang mungkin dulu nggak tahu apa-apa, sekarang lebih banyak tahu,” jelasnya.
Dia pun menyampaikan terima kasih kepada orang tua, keluarga, guru, pembimbing, dan masyarakat Aceh yang terus memberikan dukungan dan doa.
“Kalau nggak karena doa mereka, dukungan mereka mungkin kami enggak bisa juara satu sekarang. Dan semua ini karena Allah,” sambung Azka.
Pelatih tim Fahmil Quran Aceh, Muhammad Riza Nurdin, menambahkan ketiga peserta telah memiliki pengalaman berkompetisi sejak tingkat kabupaten hingga provinsi. Tim pelatih kemudian fokus mengasah kemampuan dan pemahaman mereka.
“Mereka sudah tampil di level paling rendah ya, dari kabupaten, provinsi dan sebagainya. Kita pelatih ini moles saja bakat-bakat mereka, kecerdasan mereka,” kata Riza.
“Kita coba tingkatkan mental mereka. Kita sampaikan kalau sudah di final itu alhamdulillah. Dapat 2, 1 alhamdulillah, luar biasa,” lanjutnya.
Ia menyebut kemenangan tersebut menjadi catatan bersejarah bagi Aceh karena untuk pertama kalinya regu Fahmil Qur’an putri Aceh berhasil mencapai final sekaligus meraih juara 1 di tingkat nasional.
“MTQ Nasional ini yang Fahmil putrinya mencatat sejarah bagi kita. Dan alhamdulillah orang Fahmil tadi mulai dari penyisihan, semifinal sampai dengan final, semangatnya terus bertambah,” katanya.
Riza menyebut kemenangan di Semarang akan menjadi modal bagi Aceh untuk menghadapi MTQ Nasional. Ia menyebut akan terus berusaha memepertahankan pencapaian ini.
“Meraihnya sudah susah, mempertahankan kan lebih susah lagi. Nah, jadi itu yang kita coba pertahankan baik putri maupun putra,” jelasnya.
Sumsel Raih Juara 1 Regu Putra
Sementara itu, Kafilah Sumsel berhasil meraih juara 1 di regu putra. Mereka melawan empat kafilah lainnya dari Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Kalimantan Timur. Meski sempat dikurangi poin beberapa kali, mereka tetap bangkit dan unggul.
Regu Sumsel diikuti Muhammad Zain Abdillah (18), Dimas Pradinata (18), dan Ahmad Azka Anabil (18). Ketiganya merupakan perwakilan dari Ponpes Al Kautsar, Pondok Pena Kita, Pondok Nurul Quran, Pondok Al Fath, dan Pondok Al-Ittifaqiah.
Zain mengaku, kemenangan tersebut menjadi karunia yang sulit digambarkan. Sebab, perjalanan mereka di ajang Fahmil Qur’an bukan baru dimulai tahun ini.
“Alhamdulillah tahun ini, hari ini, bulan ini di Jawa Tengah kami mendapatkan juara satu. Sumsel menyala, Sumsel juara,” kata Zain usai lomba.
Dia mengatakan Sumsel sebelumnya meraih juara 2 pada ajang tahun 2022 di Kalimantan Selatan dan kembali berada di posisi kedua pada MTQ Nasional 2024 di Kalimantan Timur.
Perjalanan mereka untuk menuju juara 1 pun tak mudah. Ia mengaku mental mereka sempat terguncang ketika berada di posisi rendah dalam pertandingan final.
“Sangat-sangat terguncang. Tapi kemudian mencoba bangkit kembali. Kami pantang mundur dan terus mencatat jarak dari yang lain tadi,” tuturnya.
Zain juga menceritakan salah satu strategi mereka ketika harus menjawab soal, yakni saat ada jeda sebelum peserta lain menjawab, dia berusaha mengenali potongan ayat yang dibacakan dewan hakim untuk kemudian melanjutkannya.
“Kan ada jeda beberapa detik di antara kami mencet bel dan menjawab. Semuanya (tim) hebat, respect kepada semuanya,” katanya.
Di balik kemenangan itu, ia bercerita para kafilah Sumsel juga harus membatasi penggunaan ponsel masa karantina dan training center (TC). Meski sempat keberatan, mereka tetap menjalaninya demi biaa menang lomba.
“Kami wajib salat Subuh berjamaah, dan kalau setiap jam 21.00 WIB itu HP dikumpul ke official. Jadi nggak bisa begadang main HP hampir selama dua bulan seperti itu,” ujarnya.
Ketua LPTQ Sumsel Ahmad Iskandar Zulkarnain menambahkan, pembatasan HP merupakan bagian dari upaya menjaga fokus dan mental peserta.
“Untuk menjaga semangat anak-anak kita motivasi. Yang kedua tentu dijauhkan dari gangguan-gangguan handphone,” kata Iskandar.
“Seorang yang sudah matang pun ketika mendengar berita tidak baik kan bisa rusak mentalnya. Nah, apalagi anak-anak kita yang masih berproses,” sambungnya.
Meski demikian, pembatasan tersebut tidak berarti peserta dilarang berkomunikasi dengan keluarga. Pelatihan intensif mereka pun dilakukan selama kurang lebih satu tahun.
“Ini adalah capaian tertinggi di Fahmil Qur’an putra untuk Sumatera Selatan. Mereka kita latih secara ketat. Kita berikan pelatihan jangka panjang, sehingga alhamdulillah berkat kerja sama pelatihan yang baik, kesiapan, kedisiplinan, dan dukungan pemerintah provinsi, anak-anak bisa mendapatkan prestasi ini,” ucapnya.
PIC Fahmil Qur’an, Karina menjelaskan, pada golongan putri, juara 1 diraih Aceh dengan nilai 1.505. Juara 2 diraih Kalimantan Timur dengan nilai 1.290. Sedangkan juara 3 diraih Jawa Tengah dengan nilai 1.170 dan Jawa Timur 835.
Sementara untuk golongan putra, juara 1 diraih Sumsel dengan nilai 1.335, disusul juara 2 dari Kalimantan Timur dengan nilai 1.270. Kemudian juara 3 diraih Jawa Tengah dengan nilai 1.265 dan Sumatera Utara 1.090.
“Tamu undangan atau para penonton sangat antusias, animo yang luar biasa dari masyarakat. Saking antusiasnya pada babak final ini suporter itu sampai memenuhi hingga lantai dua,” ujarnya.








