Oleh: Riza Nobel
Tiga gadis itu baru saja melewati ruang Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) Pesantren, markas saban waktu kami mengayun tenaga dan berteduh kerja.
Aku tidak mengenal satu pun ketiganya, yang kutahu mereka adalah santri yang tengah membalik badan menuju lokasi asrama putri.
“Nak, maukah membantu angkut kursi?” Sapaku pelan, memastikan sebelum memerintah.
Sekalipun kuketahui, tanpa pun harus meminta kesediaan biasanya santri-santri toh pasti mau. Entah keberatan atau tidaknya.
Tapi bagiku, meminta kesudian adalah hak atas diri mereka untuk menyutejui atau tidak. Disamping memang siang itu tubuhku terasa lelah tak biasa.
“Iya ustaz, angkat ke mana?” Jawab mereka ringan seraya membalik badan kembali.
Aku meminta mereka mengangkat meja itu ke ruang KMI yang hanya belasan langkah dengan posisi kursi. Tidak lama kemudian ketiga kursi mendarat di ruangan tersebut. Mereka bersegera membalik badan bersiap kembali ke asrama.
“Terima kasih ya nak, semoga kalian mudah rezeki, sehat selalu, dimudahkan segala urusan dan cita-citanya,” doaku mengiringi terima kasih.
Mendengar untaian doa-doa tak terundang, kegembiraan mereka bukan kepalang. Satu persatu meneriaki amin layaknya mereka baru saja mendapatkan intan permata.
Aku tak menaruh heran, mungkin saja mereka benar-benar mengimpikan itu selama ini.
*
“Barusan aku disamperin anak-anak, mereka dari jauh sengaja menghampiriku untuk menyampaikan cerita,” ujar istriku saat kami di dapur menyiapkan lauk malam.
“Ustazah, tadi kan kami diminta bantu angkat kursi, trus didoain lah oleh ustaz Riza, masyaallah senaang kali kami ustazah, besok-besok mau lah membantu kalau disuruh,” ungkap istriku mengulang kisah mereka.
Seketika ingatanku kembali merenung reaksi mereka saat sehari yang lalu begitu bergembira.
Jika saat itu aku hanya menduga hal lumrah sebab didoakan kebaikan-kebaikan, namun ketika istri pun mendapat curahan hati atas apa yang baru saja mereka alami, aku kembali mencerna sikap emosi tersebut dengan pendekatan psikologi.
“Mungkin saja mereka haus akan pujian, atau kurang mendapati sentuhan-sentuhan yang menyejukkan layaknya doa-doa itu,” terangku ke hadapan istri.
Bukankah kita sama-sama mengetahui, bagaimana pun para santri di pesantren, mereka tidak bersama orang tua, tidak satu anggota keluarga pun yang membersamai, kecuali pengasuh mereka yang mengawal, menjaga dan membimbing sehari-hari. []








