“Maksud saya, nama saya Rindu, kak,” ujarnya sedikit gagap dan kaku. Kepala-nya masih menunduk.
Aku tersenyum. Hatiku berbunga. Langkah pertama dari rahasia ‘Menaklukan Cewek Impian’ sudah diterapkan.
“Hmm, oo. Saya pikir, kamu merindukan saya,” kataku lagi dengan santai dan pede.
Suasana riuh kembali terdengar dari para Maba perempuan. Ada yang tepuk tangan dan ada juga yang saling sikut. Sedangkan Maba lelaki terlihat tertunduk lesu. Namun wajah mereka pasrah. Ini kekuatan senioritas yang tak mungkin dilawan.
“Kasih Caping-mu,” ujarku ke arah Rindu. Ia sempat terdiam beberapa saat sebelum aku mengulang kalimat yang hampir sama.
“Itu topi anyaman bambu di atas kepala-mu. Tolong kasih ke saya,” ulangku. Rindu mengangguk. Ia memegang caping di kepalanya dan menyerahkannya kepadaku sambil tersenyum super manis. Jantungku hampir copot melihat senyumannya. Wajahku sedikit memerah. Lututku tiba-tiba bergetar. Namun demi mempertahankan marwah senioritas, aku mencoba bersikap tenang.
Aku mengambil spidol tinta hitam di saku jas almamater yang kukenakan. Spidol ini menjadi barang wajib yang menyertaiku selama setahun terakhir. Maklum, selain panitia penyambutan mahasiswa baru, aku juga pimpinan ruang untuk angkatan kami.
“Ini langkah kedua,” gumamku dalam hati.
Aku menulis sesuatu di Caping Rindu. Tulisannya cukup besar dan dengan mudah bisa dilihat dari jarak jauh.
“Ihi mohon dipakai kembali. Jangan dibuang dan diganti sama Maba lainnya. Kalau aku lihat Caping ini kamu ganti atau tukar, aku akan kasih hukuman berat,” ujarku dengan mimik serius ke Rindu.
Rindu menerima kembali Caping-nya dengan wajah memerah. Di Caping tadi tertulis, “Milik Gusti.”
Ia pasrah dan tetap mengangguk. Tangannya meraih caping dan meletakan kembali di kepala. Suara siulan seolah bergema di sekeliling.
“Aku Gusti. Mulai sekarang, kamu adalah milikku. Ini tandanya,” ujarku singkat ke arahnya.
“Arah tulisan di Caping harus ke depan. Biar lebih mudah dibaca dan diawasi,” ujarku lagi sambil membetulkan letak capingnya agar tulisan tadi mengarah kedepan.
Suasana kembali heboh. Namun aku tak peduli. “Ia mangsa yang akan kutaklukan,” gumamku dalam hati.
Aku bergegas meninggalkan Rindu dan kehebohan dari para Maba. Aku bergerak kembali ke depan. Di sana, beberapa pria berjas almamater memandangku dengan senyum lebar. Seolah menyambut panglima yang pulang dengan kemenangan dari medan perang.
[Bersambung]
Baca juga
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)





![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)



