Entah kenapa. Tali takdir kemudian terus menghubungkan saya dengan almarhum Bang Budi.
Usaha Warnet yang sempat saya rintis, bangkrut jelang pernikahan saya di akhir 2010. Mau menikah tapi usaha justru bangkrut dan saya benar-benar stres. Namun, almarhum-lah yang menjadi orang pertama sebagai penguat saat itu.
Setelah saya menikah di akhir 2010, istri saya ternyata juga kawan dekat dari istri almarhum semasa masih di MUQ Langsa. Anak-anak kami juga sempat mengenyam pendidikan di sekolah yang sama, dari TK hingga SD.
Di 2012, giliran Harian Aceh yang tutup dan status saya menjadi pengangguran. Namun almarhum Bang Budi tak pernah membeda-beda kami saat ngopi bersama. Ia selalu menelpon saat saya terpuruk, dan mengajak ngopi bersama untuk sekedar melepas beban pikiran.
“Ka teubit keunoe. Masalah hana selesai cie meunyoe cuma kaduek di rumoh,” ujarnya kala itu.
Di saat-saat saya paling terpuruk, almarhum-lah yang selalu menggulurkan tangan. Bukan soal uang, tapi teman yang selalu menguatkan kala sedih dan susah. Sisi ini tentu tak bisa diukur dengan banyaknya yang dimiliki.
Tahun 2012, saya pindah kerja ke media atjehpost, dan lagi-lagi gulung tikar di 2015. Ide dari almarhum menguatkan saya untuk membangun portalsatu.com, meski cuma 6 bulan kembali saya tinggalkan dan mendirikan mediaaceh.co.
Berbeda dengan saya, pendapatan almarhum cenderung lebih stabil karena posisinya sebagai dosen ASN di UIN Ar-Raniry. Namun yang namanya hidup, tetap ada saja masalah yang kami hadapi setiap hari. Tapi keberadaan almarhum Bang Budi selalu saja menjadi factor ‘penghangat’ di Warkop. Tak peduli berapa banyak masalah yang ia hadapi, ia selalu tersenyum dan membangkitkan suasana.
Dari fase 2010 hingga sekarang, hampir tiap hari kami bertemu. Bercanda soal realita hidup, politik persoalan yang menimpa kami sehari-hari. Teror yang kerap menghantui saya dan peliknya jalur akademisi dan birokrasi yang ia hadapi, semua kami bahas di meja kopi.
Mungkin, agar berlebihan jika saya mengatakan saya lebih sering berinteraksi dengan almarhum dibanding dengan saudara kandung.
Tak hanya untuk saya, Bang Budi juga baik dengan hampir semua orang yang ia temui. Dari meja ngopi yang awalnya di isi beberapa senior berupa menjadi perkumpulan lintas generasi, organisasi serta politik.
Ada dosen dari lintas kampus, mantan aktivis lintas kampus, serta mantan aktivis yang kini beralih sebagai birokrat Aceh. Ada juga rekan rekan yang memilih bergabung dengan partai politik berbeda pula.
Semua perbedaan seolah hilang di meja ngopi dan almarhum-lah leader-nya.
Perkumpulan ini kemudian dinamai dengan Van Dekmi Universiti. Istilah ajakan ngopi menjadi ajakan ke ‘Kampus Dekmi.’ Dan almarhum didaulat sebagai ‘Rektor Van Dekmi Universiti dengan jabatan seumur hidup.
[Bersambung]
Baca juga:
Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]
![Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.04.57-750x375.jpeg)




![Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.04.57-120x86.jpeg)




