IDI – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur melalui Dinas Perikanan membangun rumah perebusan garam guna memulihkan usaha masyarakat pascabencana hidrometeorologi di kabupaten tersebut.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Syarifuddin di Aceh Timur, Rabu, mengatakan rumah perebusan garam tersebut dibangun Gampong Kuala Idi Cut, Kecamatan Darul Aman.
“Pembangunan rumah perebusan garam tersebut merupakan upaya pemulihan usaha masyarakat yang terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Timur,” katanya.
Syarifuddin mengatakan pembangunan rumah perebusan garam tersebut didukung melalui Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) dan pemerintah provinsi.
“Selain di Gampong Kuala Idi Cut, pembangunan tunnel atau rumah garam juga dilakukan di sejumlah wilayah lainnya, termasuk Kecamatan Peureulak. Pembangunan rumah garam tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan usaha garam masyarakat,” katanya.
Syarifuddin mengatakan pihaknya terus mengidentifikasi kebutuhan penanganan lanjutan pascabanjir guna memulihkan sektor kelautan dan perikanan.
“Proses pemulihan sektor kelautan dan perikanan dilakukan bertahap, baik bagi nelayan perikanan tangkap, budi daya, maupun masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada usaha pengolahan garam,” kata Syarifuddin.
Sebelumnya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh menyatakan anggaran pemulihan usaha garam masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di provinsi ujung barat Indonesia tersebut pada tahun ini mencapai Rp5,1 miliar lebih.
Kepala DKP Provinsi Aceh Safrizal mengatakan pemulihan tersebut masuk dalam program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam rakyat dengan anggaran dari transfer ke daerah atau TKD tahun anggaran 2026.
“Total pagu anggaran yang dialokasikan untuk program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam rakyat di Aceh mencapai Rp5,1 miliar lebih,” katanya.
Safrizal mengatakan pemulihan tersebut merupakan upaya strategis memperkuat ketahanan ekonomi petambak garam sekaligus menanggulangi kerentanan sektor usaha akibat tingginya dinamika cuaca dan iklan ekstrem yang kerap memicu bencana hidrometeorologi.
“Anggaran program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam tersebut didistribusikan secara terarah ke tiga kabupaten di Provinsi Aceh,” katanya.
Anggaran digunakan untuk pembangunan rumah perebusan serta tunnel garam meliputi rumah kaca beserta kelengkapan peralatan pendukung produksi.
Adapun kabupaten mendapatkan alokasi program tersebut yakni Kabupaten Bireuen sebanyak Rp2,96 miliar, Kabupaten Aceh Utara sebesar Rp839,64 juta, serta Kabupaten Aceh Timur dengan total pagu anggaran mencapai Rp1,29 miliar.
“Kami berharap program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam ini mampu menjaga kuantitas dan kualitas produksi secara berkelanjutan dan dapat meningkatkan pendapatan petani garam,” kata Safrizal.










![Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.04.57-350x250.jpeg)