BANDA ACEH – Dayah Mishrul Huda Malikussaleh Banda Aceh menggelar doa bersama dan istighosah sebagai bentuk dukungan moral kepada mantan Menteri Agama Republik Indonesia, H Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut, Kamis (5/11/2026) setelah shalat Isya berjamaah
Kegiatan yang dipimpin pimpinan Dayah Mishrul Huda Malikussaleh, Waled Rusli (Tgk. H. Rusli Daud, S.HI., M.Ag.), tersebut dihadiri jamaah dari berbagai unsur Nahdliyin, ulama, tokoh masyarakat, serta elemen masyarakat lainnya.
Doa dan istighosah ini menjadi ikhtiar batin sekaligus ungkapan kepedulian kalangan pesantren terhadap proses hukum yang sedang dihadapi Gus Yaqut.
Waled Rusli mengatakan, doa dan istighosah merupakan bagian dari ikhtiar spiritual umat Islam untuk memohon pertolongan Allah SWT, khususnya agar Gus Yaqut diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan dalam menghadapi persoalan hukum.
“Kita mendoakan agar Allah SWT memberikan kekuatan dan kesabaran kepada Gus Yaqut. Kita juga berharap proses hukum yang sedang berjalan dapat berlangsung secara jujur, objektif, dan adil sehingga kebenaran benar-benar terungkap,” ujar Waled Rusli
Mengedepankan Tabayyun dan Praduga Tak Bersalah
Waled Rusli mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru membangun kesimpulan terhadap seseorang sebelum seluruh proses hukum selesai. Menurutnya, asas praduga tak bersalah harus tetap dihormati oleh semua pihak.
Ia menilai, perkara yang sedang dihadapi Gus Yaqut perlu dilihat secara utuh dengan memperhatikan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, bukan semata-mata berdasarkan pemberitaan maupun opini yang berkembang di tengah masyarakat.
“Sebagai masyarakat, kita harus mengedepankan tabayyun. Jangan sampai seseorang sudah dihakimi melalui opini publik, sementara proses pembuktian di pengadilan masih berjalan,” tegasnya.
Ia juga mengajak warga Nahdliyin untuk menjaga sikap dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Pesantren dan NU Harus Tetap Menjaga Persatuan
Lebih lanjut, Waled Rusli mengajak para ulama, santri, alumni pesantren, serta masyarakat Nahdliyin untuk menjaga persatuan dan memperkuat tradisi saling mendoakan.
Menurutnya, pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk mengedepankan nilai-nilai keadilan, akhlak, dan persaudaraan dalam menyikapi berbagai persoalan, termasuk persoalan hukum yang melibatkan tokoh Nahdlatul Ulama.
Ia menegaskan bahwa dukungan kepada Gus Yaqut harus diwujudkan melalui cara-cara yang santun, konstitusional, dan bermartabat, tanpa mengabaikan proses hukum yang berlaku.
“Ikhtiar kita bukan hanya melalui langkah lahiriah, tetapi juga melalui doa. Kita berharap keadilan benar-benar ditegakkan dan siapa pun yang berproses hukum mendapatkan haknya secara adil,” ungkapnya.
Melalui kegiatan doa dan istighosah tersebut, pimpinan Dayah Mishrul Huda Malikussaleh berharap suasana tetap kondusif serta seluruh elemen masyarakat dapat menghormati proses hukum dengan mengedepankan sikap bijaksana.
“Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa doa, tabayyun, dan komitmen terhadap keadilan merupakan bagian penting dari tradisi keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat pesantren, ” pintanya.









