Ujian terberat belum usai, kini musibah langganan kembali menerjang. Itulah nasib yang dialami warga Aceh di ujung Pulau Sumatera. Berat tapi mau tak mau harus dijalani. Semua ini harus dijalani dalam nuansa Ramadan yang menjadi bulan sangkal bagi muslim di seluruh dunia.
Adalah pandemi Corona yang merebak di sejumlah negara sejak awal 2020 lalu. Indonesia, termasuk Aceh, ikut merasakan wabah yang kabarnya telah merenggut nyawa ratusan ribu warga di dunia.
Hingga kini memang baru satu orang yang meninggal dunia di Aceh serta dinyatakan positif Corona.
Namun keberadaan wabah Corona mengakibatkan aktivitas warga di Aceh tak senormal sebelumnya.
Ribuan warga di Aceh, terutama para pekerja lepas, ikut terpapar ekonomi akibat Corona dan pemerintah belum mampu memberi solusi kepada mereka.
Ratusan usaha kecil bangkrut. Para pekerja fotocopy menjerit dan terpaksa menutup usahanya.
Demikian juga dengan hotel berbintang di Aceh. Pemasukan yang kurang selama Corona membuat mereka merumahkan sejumlah karyawan tanpa pesangon jelang Ramadan.
Mereka juga belum tersentuh bantuan pemerintah. Ramadan kali ini dijalani dengan program ‘ikat pinggang’ sambil berdoa agar wabah ini segera berlalu agar mereka bisa mencari pekerjaan baru untuk bisa hidup.
Kini, dalam keadaan semberaut seperti sekarang, musibah langganan kembali menghampiri. Hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari terakhir, menyebabkan sejumlah daerah diterjang banjir.
Ribuan warga di Banda Aceh dan Aceh Besar terpaksa mengungsi. Sejumlah warga di Teunom, Aceh Jaya, juga mengalami hal yang sama. Rumah mereka hanyut ke sungai akibat longsor.
Pemerintah harus segera mencari solusi atas persoalan yang mendera masyarakat saat ini. Jangan biarkan masyarakat melalui cobaan ini sendiri. Pemerintah harus hadir dan memberi solusi atas apa yang terjadi.
Jangan biarkan masyarakat menjadi sapi peras. Menarik pajak dari semua sector tapi kemudian dilupakan atau pura-pura saat derita menghadang.[]









