BANDA ACEH – Rangkaian webinar sebagai bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital yang pada 20 Mei 2021 lalu telah dibuka oleh Presiden Jokowi kembali bergulir. Kali ini di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh dengan mengusung tema “Yuk, Aktif dan Kreatif di Era Digital”.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 25 Juni 2021 pukul 14.00–17.00 WIB ini mengupas tentang tips dan trik untuk memulai bisnis di usia muda pada era digital.
Pada webinar yang menyasar target segmen UMKM, mahasiswa, dan umum ini sukses dihadiri oleh sekitar 530 peserta daring. Hadir dan memberikan materinya secara virtual, para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, yakni dosen dan praktisi, Doni Yusri; dosen dan praktisi bisnis digital, Muamar Khadafi; Programer PT Global Tekno IDE, Juanda BJ, dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Hendra. Penggiat media sosial yang juga Co-Founder & CMO of Bicara Project, Chika Audhika, bertindak sebagai key opinion leader dan memberikan pengalamannya. Hadir pula selaku Keynote Speaker, Samuel A Pangerapan, Dirjen Aptika Kementerian Kominfo.
Pada sesi pertama Doni Yusri membawakan materi “Kreativitas Milenial di Ranah Digital”. Pandemi kata dia, semestinya membuat para individu menjadi terampil, karena kita dipaksa untuk menjadi kreatif di tengah kondisi yang kritis ini. Banyak perubahan yang terjadi pada milenial, di antaranya perubahan perspektif, perubahan gaya hidup, perubahan gaya kerja, dan juga penguasaan hard skill berupa penguasaan teknologi digital.
“Kita harus bisa menguasai teknologi aplikasi, karena kita harus mengikuti pergerakan arus dan pasar, dan kita juga harus menguasai teknologi pemasaran. Teknologi harus kita jadikan sahabat, bagaimana kita dapat menjadi aktif dan kreatif di era digital. Sektor pertanian pun sudah tersentuh digitalisasi, Indonesia memiliki pasar pada sektor pertanian untuk dipasarkan secara digital. Ini dapat menjadi contoh peluang pasar kita yang dapat kita manfaatkan,” ujarnya.
Tampil sebagai pembicara kedua Muamar Khadafi, menjelaskan tentang bagaimana mengubah mindset yang konsumtif menjadi produktif. Jangan hanya menjadi pasar di dunia digital, tetapi juga harus dapat mengambil peran di pasar yang sangat besar ini. Ia mencontohkan Khabi Lame Net Worth. Dia adalah seorang Tiktokers yang dapat meraup uang walau kontennya tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Yang menarik juga ternyata karena pandemi kita harus mempelajari tentang e-learning etika semua guru dan murid menggunakan kelas digital. Dan ini dapat menjadi sebuah peluang untuk kita untuk memulai bisnis yang relevan dengan zaman. Kita harus dapat membaca peluang-peluang di sekitar kita.”
Sebagai pembicara ketiga tampil Juanda BJ yang memaparkan bahwa perbedaan antara digital security dan digital safety. Digital security berbicara tentang keamanan, sedangkan digital safety berbicara tentang keselamatan. Privasi adalah hal yang paling utama untuk melindungi diri saat berinteraksi di ranah internet. Bagaimana kita selaku pengguna yang berada di era di era digital haruslah sadar akan keselamatan kita. Keamanan internet menjadi hal yang sangat penting bagi kita. Sebisa mungkin jangan pernah memberikan informasi pribadi pada orang lain. Kita wajib membaca term and service pada setiap aplikasi yang akan kita gunakan.
“Penipu dapat menyamar sebagai orang yang terpercaya untuk dapat mengambil data pribadi kita dan mengambil keuntungan dari hal tersebut. Penipu dapat menggunakan data-data kita untuk melakukan hal-hal yang kita tidak inginkan,” katanya.
Pembicara keempat, Hendra Syahputra, menjelaskan tentang “merk” seorang individu, yakni apa yang orang lain katakan tentang orang lain saat mereka tidak berada di ruangan itu. Apa yang orang pikirkan tentang orang lain belum tentu sama dengan yang mereka pikirkan. Dengan personal branding yang baik maka akan membawa peluang rezeki yang baik untuk kita.
“Jika kita tidak memberikan eksposure tentang diri kita tentu orang lain tidak akan tahu. Kita mesti memiliki personal branding karena persaingan semakin maju, kita harus membentuk persepsi orang lain terhadap kita. Kita menjadi merek atas diri kita sendiri dan itu yang membedakan kita dengan orang lain juga dapat memaksimalkan potensi karier kita,” katanya.
Chika Audhika sebagai key opinion leader dalam webinar kali ini menuturkan ia menggunakan media sosial seperti pembayaran digital dan aplikasi ojek online untuk mempermudah jangkauannya. Chika memulai Bicara Project sejak tahun 2020 awal sejak pandemi sehingga memberikan segala informasi semua melalui digital. Chika menekankan bahwa banyaknya peluang di dalam dunia digital yang dapat kita peroleh.
Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Salah satunya Muharil, bertanya kepada Juanda BJ tentang bagaimana seorang guru dan murid dapat aman dalam berselancar digital agar tidak terjerat hukum dan aman dalam menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada?
Juanda menjelaskan, yang perlu dijaga adalah agar tidak menginformasikan sesuatu yang tidak perlu diketahui orang lain, karena hal itu dapat disalahgunakan oleh orang lain. Pihak sekolah harus mengedukasi para siswa terlebih dahulu terkait penggunaan aplikasi agar mereka senantiasa menjaga setiap informasi mereka, dan edukasi mereka agar dapat memilah aplikasi-aplikasi yang kurang terpercaya.
Webinar ini merupakan satu dari ribuan webinar yang secara simultan dan masif diselenggarakan di seluruh daerah di Indonesia. Kegiatan mssif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoax serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.
Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen.
Namun pada saat bersamaan, data menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital Indonesia masih di bawah tingkatan baik. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.[]










