Karang Baru – Rangkaian webinar sebagai bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital yang pada 20 Mei 2021 lalu telah dibuka oleh Presiden Jokowi kembali bergulir. Kali ini di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, dengan mengusung tema “Muda Berkarya, Mudah Berwirausaha di Era Digital?”
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 24 Juni 2021 pukul 09.00–12.00 WIB ini mengupas tentang pentingnya kebenaran informasi harus disaring dulu sebelum dibagikan.
Pada webinar yang menyasar target segmen wirausaha, mahasiswa, ASN, dan umum ini sukses dihadiri oleh 520 peserta daring. Hadir dan memberikan materinya secara virtual, para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, yakni dosen, entrepreneur, dan influencer, Sherly Annavita Rahmi; owner Saesha Cantika Indonesia, Inna Dinovita; Certified Life Coach, Owner kampungkaleng.com, Muhamad Arif Rahmat; dan book author dan wirausahawan muda, Hijrah Saputra. Tampil sebagai key opinion leader adalah Leon Ray Legoh (owner @rmlegoh). Hadir pula selaku Keynote Speaker, Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Samuel A Pangerapan.
Pada sesi pertama tampil Sherly Annavita Rahmi. Ia menyampaikan bahwa kondisi digital literasi sekarang diisi oleh anak muda, seperti generasi Milenial, generasi Z dan lainnya. Disebutkan bahwa 8-13 jam waktu anak muda dihabiskan di dunia internet. Masa ini kita mengenal kata “viral” jika suatu konten sangat amat diminati. Lalu mana yang lebih muda viral antara konten sensasional dan edukasi?.
Mereka yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman otomatis akan tertinggal. Masa digital era sekarang ini berbeda dengan zaman orang tua terdahulu yang minim informasi, zaman ini justru memiliki informasi yang berlebih, sehingga akan sulit membedakan mana yang hoaks dan yang bukan. Erat kaitannya beropini di media sosial tanpa hoaks, media sosial menjadi wadah tempat orang-orang beropini dan menyampaikan pendapatnya. Namun, ia menyebutkan bahwa sebelum tahun 2018 berdiskusi tatap muka lebih efektif dan akan minim “prasangka” sehingga semua masalah akan clear di tempat daripada harus menyampaikannya di media sosial.
“Era digitalisasi 4.0 yang terjadi sekarang ini ditandai oleh perubahan zaman menjadi digitalisasi dan konektivitas di segala hal, semua berhubungan dengan internet, lalu muncul big data, percetakan 3D, kecerdasan buatan, AI, dan lainnya,” katanya..
Inna Dinovita tampil sebagai pembicara kedua. Ia menyampaikan materi tentang media sosial merupakan hal yang sangat erat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari kita. Media sosial ini bisa diakses dari mana saja dan kapan saja tanpa batas ruang. Media sosial ini sangat terbuka untuk siapa saja yang ingin menggunakan, media sosial juga memiliki fitur profil agar mempermudah kita mengenalkan diri kepada orang lain. Lalu di dalam media sosial kita juga bisa berbagi dan berinteraksi ke sesama pengguna.
Media sosial memiliki jenis-jenisnya seperti proyek kolaborasi seperti Wikipedia. Blog dan microblog seperti Twitter dan Facebook. Lalu media sosial untuk konten seperti Instagram, TikTok, YouTube. Kemudian, jenis situs jejaring sosial (dapat berinteraksi dengan orang banyak) seperti Instagram, Facebook, Twitter. Media sosial yang banyak digunakan masyarakat Indonesia yang pertama yaitu YouTube, merupakan situs web video sharing dan layanan streaming yang memungkinkan pengguna dapat memuat, menonton, dan berbagi video.
“Di aplikasi ini masyarakat bisa juga memberikan saran dan kritik melalui kolom komentar. Kemudian aplikasi yang paling sering digunakan juga yaitu WhatsApp, aplikasi berbasis internet yang penggunanya bisa berinteraksi melalui fitur chat dan call. Whatsapp juga memiliki fitur galeri yang mana penggunanya bisa berbagi foto melalui chat atau story,” katanya.
Sebagai pembicara ketiga tampil Muhamad Arif Rahmat. Ia menyampaikan materi selanjutnya tentang memahami fitur keamanan di media sosial. Saat bersentuhan dengan dunia digital pasti akan sejalan dengan risiko yang ada di media sosial. Lalu bagaimana caranya agar kita aman saat berselancar di media sosial? Sebelumnya, mari pahami “risiko siber”, bentuknya bisa berupa kerugian yang terkait dengan sistem teknologi. Misalnya, akun media sosial yang tiba-tiba digunakan oleh orang lain sehingga dapat mengganggu kegiatan kita di media sosial.
Yang sering terjadi saat akun media sosial kita digunakan orang lain adalah penipuan dengan dalih meminjam uang atas nama pengguna akun. Maka dari itu, sebelum menggunakan media sosial, kita harus memahami aset atau perangkat yang dipakai, misalnya laptop, ponsel, tablet, atau lainnya. Lalu juga harus memahami jaringan yang kita gunakan karena makin aman jaringan yang kita gunakan maka makin aman pula kita dapat menggunakan media sosial. Lalu sebanyak apa akun yang kita miliki, seperti email, password, nomor ponsel, karena penting untuk melakukan verifikasi dan proteksi terhadap akun kita.
Kita juga harus membatasi akses perangkat dan akun untuk mengurangi risiko pembobolan data. Selanjutnya, selalu memperbarui perangkat seperti update OS, aplikasi, perangkat lunak, dan lainnya. Karena biasanya versi baru ini dapat mengatasi kerusakan yang terjadi di versi sebelumnya. Sama halnya seperti vaksin.
“Dan yang paling penting adalah tidak membagikan kata sandi kepada orang lain, lalu tidak menggunakan kata sandi yang umum digunakan seperti ‘1234’, ‘0000’, dan lainnya. Lalu sebaliknya, kita disarankan menggunakan kata sandi yang hanya dimengerti oleh diri sendiri,” kata Rahmat.
Pembicara keempat Hijrah Saputra menyampaikan materi tentang “Menjadi Generasi Muda yang Cerdas Berinternet, Kreatif, dan Produktif”. Internet memiliki dua sisi yaitu manfaat dan kekurangannya. Penting halnya mengetahui tujuan menggunakan internet. Hijrah sendiri awalnya menggunakan internet karena ingin mengubah citra nama “Hijrah Saputra” di Google dari “pembunuh berantai” untuk menjadi nama yang baik. Ia mengatakan, hasil tergantung dari apa yang kita tanam, merawatnya, sampai berbuah, sama halnya seperti internet.
Menurutnya, internet juga dapat membantu pembangunan kota, seperti yang ia lakukan dengan membangun komunitas “Revitalisasi Kota Sabang”. Seperti saat ada permasalahan di Aceh yang bisa diselesaikan dengan karya kreatif. Karena kita harus berpikir bijak sebelum kita online dan posting. Ia juga memanfaatkan media untuk mempromosikan makanan khas Aceh untuk memperkenalkan ke masyarakat luas sehingga banyak yang tahu tentang makanan Indonesia ini.
“Melalui internet siapa pun bisa berjelajah, membuat komunitas, membangun Indonesia, dan membuat hal-hal baru lainnya. Menggunakan internet secara bijak dan positif, tentunya akan berdampak baik kepada diri sendiri,” katanya.
Leon Ray Legoh sebagai key opinion leader dalam webinar kali ini menuturkan bahwa melakukan usaha di era sekarang tidak sulit karena ada dunia digital, tidak harus menyewa tempat seperti zaman dulu. Kita bisa mulai dengan menaruh lapak di media sosial. Ia menyampaikan, zaman sekarang memang semua dipermudah namun tidak mudah juga, karena tantangannya jauh lebih besar, kita bisa langsung bersaing dengan perusahaan besar. Sehingga tetap harus ada usaha untuk memanfaatkan media sebaik mungkin.
Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Salah satu pertanyaan menarik datang dari Adrian. Ia bertanya bagaimana mengembangkan usaha di saat seperti ini. Pertanyaan ini dijawab Hijrah Saputra. Menurutnya gunakanlah internet. Namun tergantung usaha apa yang akan dikerjakan, jika seperti dirinya yang tetap buka orderan design karena bisa dilakukan di mana saja. Kita tetap harus mengetahui apa yang pasar kita inginkan. Bisa diawali dengan kumpul dengan komunitas yang memiliki satu visi agar mempermudah diskusi. Lalu carilah mentor yang mempunyai visi yang sama, karena bagaimana pun kita butuh support system untuk meminimalisasi kegagalan.
Webinar ini merupakan satu dari ribuan webinar yang secara simultan dan massif diselenggarakan di seluruh daerah di Indonesia. Kegiatan massif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoax serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.
Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen.
Namun pada saat bersamaan, data menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital Indonesia masih di bawah tingkatan baik. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.[]










