BANDA ACEH – Ketua Yayasan Tabina Aceh, Teungku Muhammad Nur, yang menangani rehab ratusan warga yang mengalami ketergantungan narkoba di Aceh, mengatakan maraknya peredaran narkoba di Aceh, biasanya disebabkan oleh dua factor.
Pertama, karena himpitan ekonomi masyarakat sehingga menyebabkan sebahagian warga mencari jalan pintas meskipun beresiko tinggi.
Sedangkan yang kedua adalah rasa frustrasi yang dialami warga karena pemerintah gagal mensejahterakan masyarakatnya.
“Dua-duanya ini terjadi di Aceh sehingga peredaran narkoba di Aceh masuk dalam kategori mengkhawatirkan. Himpitan ekonomi di Aceh membuat warga fustrasi,” kata Teungku Muhammad Nur.
Hal ini disampaikan Teungku Muhammad Nur kepada atjehwatch.com di salah satu Warkop dalam Kota Banda Aceh, Rabu 25 Agustus 2021.
“Uang banyak tapi tak mengalir ke masyarakat. Hanya di tataran elit,” ujarnya lagi.
Perdagangan narkoba di Aceh, kata Teungku M Nur, berlangsung dari level terendah hingga kelas kakap.
Termasuk menjadi pemasok untuk sabu internasional, seperti yang pernah dibongkar di Pulau Aceh beberapa waktu lalu.
“Mereka butuh uang sehingga berani melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum,” kata dia.
“Kondisi Aceh membuat warga frustrasi, banyak warga kesulitan mencari uang. Hal ini pula yang menyebabkan angka perceraian tinggi. Akhirnya lari ke narkoba. Awalnya pemakaian kecil-kecilan, akhirnya jadi pengedar hingga bandar.”
“Yang kita rawat, hanya sebahagian kecil. Itu rata-rata ekonomi menengah ke bawah,” katanya lagi.










