TAKENGON — Film dokumenter “Pesta Babi” diputar di Temas River Park, Aceh Tengah, dalam suasana penuh khidmat di tengah rintik hujan.
Puluhan penonton tetap bertahan menyaksikan jalannya film hingga selesai, larut dalam kisah penderitaan masyarakat Papua yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut.
Antusiasme penonton begitu terasa sejak awal pemutaran. Tidak sedikit penonton yang tampak meneteskan air mata saat menyaksikan gambaran kehidupan rakyat Papua yang kehilangan ruang hidup akibat kerusakan lingkungan dan eksploitasi alam.
Salah seorang penonton mengatakan bahwa perbedaan suku, bahasa, agama, dan budaya tidak boleh menghilangkan rasa kemanusiaan terhadap sesama anak bangsa.
“Kita memang berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda agama, dan berbeda budaya.
Namun sebagai manusia kita wajib prihatin atas derita rakyat Papua,” ujarnya.
Kegiatan nonton bareng tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari relawan sosial, pegiat lingkungan, hingga masyarakat umum di Aceh Tengah.
Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi bertema dampak sosio-lingkungan deforestasi dan pertambangan di wilayah hulu terhadap ekosistem hilir.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan pemerhati lingkungan, di antaranya:
Abrar Syarif — Ketua Gayo Rimba Bersatu (Moderator)
Khalisuddin — Ketua Koperasi Alam Gayo (Penanggap)
M. Ibnu Akbar — Tokoh Pegiat Lingkungan Aceh Tengah (Penanggap)
M. Saleh — Ketua Lembaga Perhutanan Sosial Negeri Linge (Penanggap)
Sayid Fadil Asqar — Pembina Forum Lingkar Pena Aceh Tengah (Penanggap)
Musrafiyan — Legal Officer Yayasan HAkA (Penanggap)
Dalam diskusi tersebut, para narasumber menyoroti pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan masyarakat, terutama di kawasan dataran tinggi Gayo yang sangat
bergantung pada keseimbangan ekosistem alam.
Mereka juga mengingatkan bahwa kerusakan hutan di wilayah hulu akan berdampak langsung terhadap masyarakat di hilir, mulai dari ancaman banjir, longsor, berkurangnya sumber air, hingga terganggunya kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan lingkungan.
Kegiatan nonton bareng dan diskusi bertajuk “Dampak Sosio-Lingkungan Deforestasi dan Pertambangan Hulu terhadap Ekosistem Hilir” tersebut terlaksana atas kerja sama Koperasi Wisata Alam Gayo bersama Yayasan HAkA.
Acara berlangsung hangat dan menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama manusia di berbagai penjuru Nusantara.








