BANDA ACEH – Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Azhari Cage S.IP, menilai pemahaman Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, tentang anggaran BRA dinilai gagal.
“Yang kita bicarakan adalah dana reuguler yang kita ajukan Rp550 miliar. Namun setelah 3 kali pemotongan, tinggal Rp24.8 miliar,” kata Azhari Cage.
“Bukan dana Pokir karena dana Pokir sudah ada by name by andress nama-nama dan peruntukan nya tersendiri,” kata mantan Ketua Komisi 1 DPR Aceh ini lagi.
Kata dia, BRA untuk 2023 fokus terhadap pembangunan kebun eks kombatan, Tapol Napol dan masyarakat korban konflik, dan pemberdayaan ekonomi serta rehabilitasi sosial. Sedangkan pokir adalah peruntukan tersendiri dari para anggota dewan.
“Itupun saya dengar TAPA yang tolak usulan Pokir DPRA untuk BRA. Mari beri penjelasan yang tepat agar tidak ada dusta diantara kita tujuan reintegrasi dan perdamaian Aceh sesuai amanah MoU Helsinki.”
“Harus kita pahami bersama yang bahwa dana Otsus itu adalah dana dari hasil perang, nyawa darah dan air mata tapi apa yg bisa dirasakan oleh eks kombatan, Tapol Napol dan masyarakat korban konflik. Kita tidak bisa terus menutup mata tentang hal ini, mari kita berpikir positif dan mencari solusi agar permasalahan pembangunan kebun dan pemberdayaan ekonomi eks kombatan,tapol napol dan masyarakat korban konflik bisa terealisasikan,” ujar dia.
Karena, kata Cage, sudah 17 tahun perdamaian Aceh tapi nasib eks kombatan, Tapol Napol dan korban konflik masih blm mendapat perhatian yang penuh.
“Dana yang 24,8 tersebut hanya cukup utk gaji PNS, gaji badan, KKR, Hari damai Aceh, dan operasional kantor maka nyaris BRA tidak bisa berbuat apa-apa untuk program lainnya,” ujar Cage lagi.










