JAKARTA – Kuncuran bantuan untuk musibah tsunami Aceh mengalir deras usai Tsunami. Beberapa, diduga diantaranya dilaporkan tak pernah singgah di Aceh sama sekali.
Hal ini diungkapkan salah seorang mantan pejabat RI asal Aceh, yang enggan disebutkan namanya, kepada atjehwatch.com, Kamis malam 26 Desember 2019.
“Kalau tidak salah saya sekitar 7,5 juta dolar AS. Kalau tidak salah sekitar 2009 masih mengendap di kementerian. Tahun 2010, sempat rebut rebut soal dana ini. Kemudian apakah dana ini sudah diberikan ke pemerintah Aceh semasa itu, atau masih di kementerian, tak jelas,” ujar politisi salah satu partai nasional ini.
“Itu ada beritanya kalau gak salah. Bisa ditelusuri.”
Sementara itu, hasil penelusuran atjehwat.com, ditemukan berita dari tribunnews.com, tertanggal 4 Mei 2010 bahwa ada sejumlah 7,5 juta dolar AS dana hibah bantuan tsunami dari Asia Development Bank (ADB) masih mengendap di pusat (Jakarta).
Berdasarkan pemberitaan tersebut, Forum Bersama (Forbes) DPR/DPD RI asal Aceh mendesak Jakarta agar dana tersebut segera diserahkan kepada Pemerintah Aceh.
Ketua Forbes M Nasir Djamil menyatakan kaget karena ternyata masih ada jutaan dolar (sekitar Rp 71,2 miliar) lagi dana bantuan tsunami yang diparkir di Jakarta.
“Ini benar-benar keterlaluan. Kami akan segera bertemu pejabat dari kementerian terkait untuk menuntaskan masalah ini. Saya betul-betul kaget mendengar informasi ini,” sebut Nasir Djamil sesaat setelah bertemu dengan delegasi Pemerintah Aceh yang terdiri atas Kepala Biro Perekonomian Setda Aceh Teuku Sofyan, Koordinator Tim Ekonomi Prof Said Muhammad, dan lain-lain di Senayan, Jakarta, Selasa (3/5/2010).
Bantuan hibah tersebut seluruhnya berjumlah 8,5 juta dolar AS. Sebanyak 1,5 juta dolar sudah diserahkan pengelolaannya kepada Perusahaan Daerah (PD) BPR Mustaqim Banda Aceh. Pemerintah Aceh minta agar sisa dana segera disalurkan ke Aceh (saat itu-red). []







