Banda Aceh – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Provinsi Aceh menargetkan penerimaan bea dan cukai di provinsi ujung barat Indonesia tersebut sebanyak Rp52,2 miliar lebih pada 2023.
Kepala Kantor Wilayah DJBC Provinsi Aceh Safuadi di Banda Aceh, Jumat, mengatakan target tersebut lebih banyak dibandingkan pada 2022. Target penerimaan bea cukai pada 2022 sebesar Rp42,8 miliar.
“Tahun ini, target penerimaan bea cukai di Aceh sebesar Rp52,2 miliar. Kami optimis target tersebut tercapai karena realisasi penerimaan bea cukai pada 2022 mencapai 150,4 persen,” kata Safuadi.
Adapun target Rp52,2 miliar tersebut meliputi target bea masuk sebesar Rp1,26 miliar dan target bea keluar Rp50,42 miliar. Target penerimaan bea cukai tersebut bersumber dari hasil tembakau, produk plastik, dan minuman bergula dalam kemasan.
Safuadi mengatakan penerimaan bea cukai tersebut akan dikumpulkan dari lima kantor pengawasan dan pelayanan bea cukai (KPPBC). Yakni KPPBC TMP C Banda Aceh dengan target Rp901,9 juta.
Kemudian, KPPBC TMP C Meulaboh dengan target Rp14 miliar, KPPBC TMP C Lhokseumawe dengan target Rp37,32 miliar, serta KPPBC TMP C Langsa hanya Rp12,1 juta. Sedangkan, KPPBC TMP C Sabang target penerimaan bea cukai nihil.
Sebelumnya, Safuadi mengatakan realisasi penerimaan bea cukai di Aceh pada 2022 mencapai 150,49 persen atau sebesar Rp63,9 miliar dari target Rp42,48 miliar.
Realisasi tersebut, kata Safuadi, melebihi penerimaan bea cukai pada tahun anggaran 2021. Penerimaan bea cukai pada tahun anggaran 2021 di Provinsi Aceh sebesar Rp50,84 miliar.
“Hal ini menunjukkan penerimaan bea cukai di Aceh pada 2022 tumbuh positif dibandingkan pada 2021. Dan ini menunjukkan perekonomian masyarakat perlahan pulih setelah terdampak pandemi COVID-19,” kata Safuadi.
Safuadi mengatakan penerimaan sebesar Rp63,9 miliar tersebut dari bea masuk sebesar Rp13,62 miliar dari target Rp8,28 miliar atau capaiannya sebesar 164,37 persen.
Kemudian, kata Safuadi, penerimaan cukai sebanyak Rp2,08 miliar dari target Rp290 juta atau tercapai sebesar 708,76 persen.
Serta penerimaan bea keluar sebesar Rp48,23 miliar dari target Rp33,9 miliar atau realisasi capaian 142,26 persen. Penerimaan bea keluar semuanya dari produk kelapa sawit, kata Safuadi.
“Kami terus berupaya meningkatkan penerimaan negara dari sektor bea cukai. Di antaranya mendorong ekspor minyak mentah sawit atau CPO dari Aceh serta pembentukan kawasan ekonomi khusus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Safuadi.









