LHOKSEUMAWE – Ketua Partai Adil Sejahtera (PAS) Aceh Kabupaten Aceh Utara, Teungku Muhammad Nur M.Si, atau akrab disapa Waled Tabina Aceh, mengencam tindakan brutal dari tiga oknum TNI, yang salah satunya anggota Paspampres, yang menculik dan menganiaya seorang warga asal Aceh di Jakarta hingga tewas.
“Kita minta pelaku dihukum seberat-beratnya,” ujar Waled Tabina Aceh.
“Tak peduli siapapun mereka, pelaku harus dihukum seberat-beratnya. Darah masyarakat Aceh mendidik karena kasus ini,” kata Teungku Muhammad Nur.
“Kepercayaan masyarakat Aceh terhadap TNI baru saja pulih pasca konflik yang bertahun-tahun. Namun kasus ini membuat luka tersebut kembali terbuka,” ujarnya lagi.
Teungku Muhammad Nur mengajak seluruh masyarakat Aceh dan para ulama yang tergabung dalam PAS Aceh untuk mengawal kasus tersebut hingga tuntas.
Ia juga menuntut Panglima TNI atau jajaran terkait untuk berkunjung ke rumah duka guna menyambangi keluarga dan meminta maaf secara langsung.
“Masyarakat di Aceh sudah terlanjur panas. Makanya tak cukup dengan statemen di media dan menghukum pelaku. Ini potensi konflik, apalagi video pelaku tersiksa sudah menyebar di sosial media. Kalau bisa, datang langsung ke rumah duka dan permintaan maaf di depan keluarga,” ujar Teungku Muhammad Nur lagi.
“Kami tuntut permintaan maaf langsung di rumah duka,” ujarnya lagi.
Sebelumnya, Senator DPD RI asal Aceh, HM Fadhil Rahmi Lc MA, juga meminta pelaku pembunuhan warga Aceh di Jakarta untuk dituntut hukuman yang setimpal.
“Pertama, kita sudah koordinasi dengan beberapa teman di Jakarta, agar pelaku diproses dan diberi hukuman yang setimpal,” kata pria yang akrab disapa Syech Fadhil ini.
“Kedua, saya kebetulan sedang bersama dengan Dek Fad anggota Komisi I DPR RI dari Gerindra dalam perjalanan ke Singkil. Beliau juga sudah menghubungi Kasad TNI Pak Dudung agar menangani kasus ini dengan segera. Alhamdulillah, respon kasad juga baik dan telah memerintahkan Pangdam Jaya untuk menangani kasus ini dengan segera,” kata Syech Fadhil lagi.
Sedangkan yang ketiga, kata Syech Fadhil, dirinya berharap agar kasus serupa tidak terjadi lagi kedepan dan meminta Panglima TNI untuk memerintahkan jajaran terkait di Aceh agar datang ke rumah duka di Bireuen untuk menyatakan permintaan maaf.
“Karena kasus ini berpotensi mengungkit kasus lama dan konflik di Aceh. Jadi demi ketentraman bersama, ada baiknya keluarga korban di Gandapura di Bireuen Aceh dikunjungi sebagai bentuk perhatian,” kata Syech Fadhil.
Sebelumnya diberitakan bahwa Imam Masykur, warga asal Aceh yang bekerja di Jakarta diculik oleh beberapa anggota Batalyon Pengawal Protokoler Kenegaraan Paspampres, Sabtu (12/8).
Setelah kejadian tersebut, keluarga dari Imam mendapatkan telepon dan juga video Imam yang sedang disiksa oleh para penculik. Imam juga dipaksa untuk meminta uang Rp 50 juta kepada keluarganya. Setelah beberapa saat tidak ada berita dari Imam, keluarga mendapatkan Imam sudah tewas.
Polisi Militer Kodam Jaya melalui surat keterangan jenazah yang diberikan kepada keluarga Imam menyatakan bahwa adalah Praka RM yang diduga melakukan aksi penculikan dan penganiayaan tersebut bersama dua orang temannya.










