Empat Desember tinggal menghitung hari. Ini merupakan momen bersejarah bagi bangsa Aceh.
Hari dimana Hasan Tiro kembali mengploklamasikan kemerdekaan Aceh yang terpisah dari NKRI. Melanjutkan gerakan DI/TII yang dikobarkan oleh Daud Beureueh.
Jika dihitung dari 4 Desember 1976 hingga 4 Desember 2019, artinya sudah hampir 43 tahun kegiatan itu berlangsung. Gerakan yang awalnya dicetus oleh beberapa orang di tahun 1976, berubah menjadi gerakan massa pada era 1997-2005.
Sedangkan fase 2005-2019 adalah titik balik dari era sebelumnya. Kian tahun, peringatan 4 Desember kian sepi. Antusias masyarakat tak lagi sebesar dulu. Perpecahan yang terjadi di barisan kombatan GAM menjadi awal penyebab menurunnya animo masyarakat terhadap perjuangan Aceh.
Setiap tahun, pengurus dan simpatisan PA serta KPA yang merupakan wardah kombatan usai penandatanganan damai, memperingati 4 Desember, di komplek Meureu atau makam Hasan Tiro. Sedangkan PNA, biasanya memperingati 4 Desember di Makam Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.
Sama-sama memperingati, tapi karena lokasi yang terpisah-pisah, membuat masyarakat enggan memperingati momen bersejarah itu.
Namun untuk peringatan 4 Desember 2019 ini, angin segar berhembus dari kabupaten Aceh Selatan. PA, KPA, serta PNA di Aceh Selatan, kini sepakat untuk menggelar peringatan 4 Desember dari satu lokasi.
“Ini ide bersama. Kita telah duduk bersama beberapa kali. Mudah-mudahan bisa terwujud,” kata Adi Samridha, sekretaris DPW PA Aceh Selatan.
Adi Samridha adalah darah muda di jajaran Partai Aceh. Tapi pemikiran yang diungkapkannya adalah bentuk keresahan terhadap perpecahan yang terjadi di Aceh. Ia mewakili aspirasi para kombatan yang jenuh dengan pertikaian dan tingginya ego pimpinan yang terjadi selama ini.
“Kita berharap perbedaan partai tak menghalangi tujuan yang sama. Para aktivis, kaum muda serta simpatisan dari partai manapun yang memiliki ideologi ke-Acehan yang kental, dapat bergabung bersama. Kita memiliki tujuan yang sama untuk Aceh, meski beda partai,” ujar Adi Samridha.
Apa yang disampaikan oleh Adi ini harusnya mendapat aspirasi dari seluruh anak-anak ideologi Hasan Tiro. Ini juga menjadi renungan bagi seluruh warga Aceh yang mengklaim dirinya adalah pejuang bangsa Aceh.
Apa yang dilaksanakan di Aceh Selatan harusnya juga disambut dengan kegiatan serupa di seluruh Aceh. Stop pertikaian sesama Aceh yang hanya membuat pemerintah pusat di Jakarta bersorak gembira.
Mari kita jadikan 4 Desember 2019 ini sebagai titik balik dalam peneruskan perjuangan Aceh secara politik. Menuntut semua kewenangan Aceh secara bersama-sama. Para ‘orangtua’ perjuangan harusnya juga terbuka jika ada saran saran yang baik dari generasi muda terkait perjuangan Aceh.
Karena perjuangan adalah milik bersama. Daud Beureueh telah memulai. Hasan Tiro melanjutkan selama 32 tahun. Kini dilanjutkan dengan perjuangan politik.
“Ketika kita iktiar ini perjuangan politik, maka apapun rintangan yang ada harus dihadapi. Kita rangkul kawan baru, tanpa harus meninggalkan kawan lama. PA dan PNA itu sejatinya memiliki tujuan yang sama, meski mesin politik berbeda. Alhamdulillah kesadaran ini telah tumbuh di Aceh Selatan,” kata Adi.
“Tak hanya PA, PNA serta KPA. Milik 4 Desember itu milik seluruh rakyat Aceh. Saya berharap ini jadi momen bagi seluruh rakyat Aceh untuk mencapai cita-cita bersama. Saya yakin harapan ini ada di kepala kita semua.”









