Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Saat Wabah Kolera Menggerogoti Kedaulatan Kesultanan Aceh

Admin1 by Admin1
21/03/2020
in Sejarah
0
Saat Wabah Kolera Menggerogoti Kedaulatan Kesultanan Aceh

Ilustrasi wabah di masa lalu

Pada pertengahan abad ke 19, wabah kolera mulai melanda Batavia. Wabah ini bukan mengancam kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Batavia, tetapi menjadi perantara tergerusnya Kesultanan Aceh yang tak pernah bertekuk lutut di hadapan penjajah.

Ketika Belanda memulai agresi keduanya ke Aceh, wabah kolera mulai menjangkiti pasukan Belanda. Jenderal Jan van Swieten diangkat Loudon menjadi Panglima Militer Tertinggi Ekspedisi ke Aceh kedua. Van Swieten adalah ketika itu berusa 66 tahun. Ia telah pesiun sebagai Tentara Hindia Belanda. Ia kemudian menjadi anggota Dewan Negara dan Komisaris Nederlands-Indische Spoorwegmaatchappij, perusahaan Kereta Api Hindia-Belanda (Paul van t’Veer: 1985).

Ekspedisi kedua membawa hampir tiga belas ribu orang. 389 perwira, 8156 bawahan, 1.037 pelayan perwira, 3.280 narapidana dan 234 wanita. 18 kapal perang uap, tujuh buah kapal uap angkatan laut, 12 kapal barkas, dua kapal peronnda yang dipersenjatai, 22 kapal pengangkut dengan alat-alat pendarat yang terdiri dari 6 kapal uap, dua rakit besi, dua rakit kayu, kurang lebih 80 sekoci, beberapa sekoci angkatan laut dan sejumlah besar tongkang. (Ibrahim Alfian: 2016)

Ekspedisi pun dimulai dengan pelayaran dari Batavia. Ribuan orang berjejal dalam kapal-kapal selama 10-14 hari perjalanan. Pelayaran sudah mengundang maut ketika wabah kolera pada Oktober 1873 telah mencapai Batavia. Keberangkatan ekspedisi yang seharusnya dimulai 1 November 1873, diundur hingga 10 hari. (Paul van t’Veer: 1985)

Segera setelah berlayar, ribuan orang yang berjejal dalam ekspedisi militer ke Aceh tersebut menjadi mangsa wabah kolera. Begitu kapal-kapal mencapai Aceh, 60 orang sudah tewas akibat kolera. Begitu kapal mendarat angka korban kolera segera meroket. Hujan tanpa henti, bedeng-bedeng yang becek, dan kurangnya tenaga medis membuat jumlah korban wabah kolera meningkat setiap hari. (Paul van t’Veer: 1985)

Angkanya terus meroket. Bahkan pada akhir bulan Desember telah tewas 150 orang akibat kolera. 18 perwira dan ratusan bawahan segera dibawa ke rumah sakit di Kota Padang, tanpa pembasmian hama terlebih dahulu. Sebelum peluru ditembakkan dari ekspedisi ini, Van Swieten telah kehilangan lebih dari sepersepuluh kekuatannya. (Paul van t’Veer: 1985)

Akibat khawatir akan penularan wabah pula, akhirnya pada 9 Desember 1873, satu dari ketiga brigade didaratkan di Pantai Rawa. Pasukan induk sendiri akhirnya tiba di Peunayong setelah 14 hari menembus serangan pasukan Aceh. Pertempuran untuk menguasai Masjid Raya terus berlangsung hingga akhir Desember. (Mohammad Said: 2007)

Pasca menguasai Masjid Raya, pasukan Belanda merangsek ke Istana Kesultanan Aceh. Celakanya mereka bukan hanya menembakkan peluru tetapi juga menularkan kolera ke kubu Aceh. Kolera segera merebak di dalam Istana yang sedang dipertahankan. (Mohammad Said: 2007)

Setidaknya 150 orang Aceh setiap hari tewas akibat kolera. Salah satu yang ikut terkena kolera adalah Sultan Mahmud. Ia menjadi orang yang terakhir Bersama Panglima Tibang keluar dari istana. Sultan kemudian diungsikan ke Pagar Aye. Takdir menentukan berbeda. Pada 28 Januari 1874 Sultan Aceh tersebut wafat. (Mohammad Said: 2007)

Kesultanan Aceh memang tak segera lenyap. Tetapi tak dapat dipungkiri, kekuatan Kesultanan tersebut melemah pasca wabah kolera. Tidak seperti di masa Turki Usmani abad pertengahan yang dilanda wabah The Black Death hingga mengubah tatanan dunia dan membawa gelombang humanisme sekular di Eropa, dampak wabah kolera di nusantara tak sedemikian dahsyat. Hanya saja wabah tersebut turut menggerogoti kedaulatan Kesultanan Aceh yang telah berdiri ratusan tahun.

Sungguh menarik jika dipikirkan. Amat mudah bagi Allah membalikkan keadaan. Bukan lewat satu bencana yang terlihat kasat mata, tetapi melalui zat yang bahkan mata kita tak mampu melihatnya. Di Eropa, wabah The Black Death justru telah membuat masyarakatnya menoleh pada humanisme sekular yang menyingkirkan Tuhan, setelah gagalnya kaum agamawan memberikan sikap yang tepat pada persoalan-persoalan masyarakat di sana.

Tags: acehsejarah acehwabah korea
Previous Post

Cerita Wabah dan Karantina di Zaman Hindia Belanda

Next Post

Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Pemerintah Aceh Tangani Covid-19

Next Post
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Pemerintah Aceh Tangani Covid-19

Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Pemerintah Aceh Tangani Covid-19

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

SMPN 1 Seunagan Raih Juata Satu Pawai Karnaval HUT Nagan Raya

SMPN 1 Seunagan Raih Juata Satu Pawai Karnaval HUT Nagan Raya

22/07/2026
Rapor Hijau untuk Dr. Safaruddin — Zaman Akli, Satu Tahun Memimpin Abdya

Rapor Hijau untuk Dr. Safaruddin — Zaman Akli, Satu Tahun Memimpin Abdya

22/07/2026
Wakapolres Pidie Perkuat Pengawasan Penyidikan, Gelar Perkara Jadi Filter Utama Penegakan Hukum

Wakapolres Pidie Perkuat Pengawasan Penyidikan, Gelar Perkara Jadi Filter Utama Penegakan Hukum

22/07/2026
Qanun MAA Pidie Jangan Hanya Menjadi Dokumen Mati

Qanun MAA Pidie Jangan Hanya Menjadi Dokumen Mati

22/07/2026
Pemerintah Aceh Pacu Pemulihan Sawah Terdampak Bencana Hidrometeorogi

Pemerintah Aceh Pacu Pemulihan Sawah Terdampak Bencana Hidrometeorogi

22/07/2026

Terpopuler

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

21/07/2026

Saat Wabah Kolera Menggerogoti Kedaulatan Kesultanan Aceh

Kapaloe, Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur

STAI Tgk. Chik Pante Kulu dan Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh Bangun Kolaborasi Penguatan Tridarma Perguruan Tinggi

Rp4,65 Miliar Dana Umat Siap Disalurkan, Baitul Mal Pidie Perketat Verifikasi demi Cegah Salah Sasaran

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com