Oleh : H. Roni Haldi, Lc
Penghulu Muda KUA Kec. Susoh, Abdya dan Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh.
Memiliki keteguhan iman adalah sebuah nikmat disaat kita hidup di akhir zaman ini. Zaman yang didalamnya penuh dengan gelapnya fitnah. Ditambah lagi bujukan rayuan penggoda iman. Jika kita tak hirau, godaan dan fitnah itu pula yang lewat menggelayut dihadapan kita.
Berkaca mengambil tauladan kepada orang terdahulu sebelum kita merupakan semestinya kita lakukan, apalagi dalam tauladan keteguhan mempertahankan iman. Imam Adz Dzahabi dalam kitabnya Siyaru A’lami An-Nubalaa’ mengisahkan ketika Amirul mukminin Umar bin Khattab radhiayallahu ‘anhu memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” Raja Romawi berkata, “Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?” Abdullah bin Hudzafah menjawab, “Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sekejap mata pun.” Raja Romawi berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Ia menjawab, “Silahkan saja!”
Maka Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyalibnya dan berseru kepada pasukan pemanah, “Panahlah ia, arahkan sasarannya pada tempat-tempat yang terdekat dengan badannya.” Sementara dia tetap berpaling, enggan, dan tidak takut. Maka raja Romawi pun menurunkannya dari tiang salib. Dia perintahkan kepada pengawalnya untuk menyiapkan belanga (kuali) yang diisi dengan air dan direbus hingga mendidih. Kemudian ia perintahkan untuk memanggil tawanan-tawanan dari kaum muslimin. Kemudian ia lemparkan salah seorang dari mereka ke dalam belanga tadi hingga tinggal tulang belulangnya. Namun, Abdullah bin Hudzafah tetap berpaling dan enggan untuk masuk agama Nashrani. Kemudian Raja memerintahkan pengawalnya untuk melemparkan Abdullah bin Hudzafah ke dalam belanga jika ia tidak mau memeluk agama Nashrani. Ketika mereka hendak melemparkannya beliau menangis. Kemudian mereka melapor kepada Raja, “Sesungguhnya dia menangis.” Raja mengira bahwasanya beliau takut, maka ia berkata, “Bawa dia kemari!” Lalu berkata, “Mengapa engkau menangis?” Jawabnya, “Aku menangisi nyawaku yang hanya satu yang jika engkau lemparkan ke dalamnya maka akan segera pergi. Aku berharap seandainya nyawaku sebanyak rambut yang ada di kepalaku kemudian engkau lemparkan satu per satu ke dalam api karena Allah.” Maka, Raja tersebut heran dengan jawabannya. Kemudian ia berkata, “Apakah engkau mau mencium keningku, kemudian akan kubebaskan engkau?” Abdullah menjawab, “Beserta seluruh tawanan kaum muslimin ?” Ia menjawab, “Ya.” Maka ia pun mencium kening raja tersebut dan bebaslah ia beserta seluruh tawanan kaum Muslimin. Para tawanan menceritakan kejadian ini kepada Umar bin Khattab. Maka, berkatalah Umar, “Wajib bagi setiap muslim untuk mencium kening Abdullah bin Hudzafah. Aku yang akan memulainya.” Kemudian Umar mencium keningnya.
Keteguhan Abdullah bin Hudzafah ternyata telah merubah pendirian sang Kaisar Romawi. Berbagai tipu daya dunia telah ditawarkan bahkan ancaman penghilangan nyawa pun telah dilancarkan, namun tak sedikit pun menggoyahkan apalagi mencabut hilang alat iman di dadanya. Sungguh berat melewati semua cabaran yang telah di alami Sahabat mulia Abdullah bin Hudzafah, bagaimankah jika kita berada pada posisi seperti beliau?Akankah kita sanggup atau sebaliknya kita takluk tak lulus, bukan dari ancaman tapi hanya dengan secuil bujuk ratu sang Kaisar Romawi?
Perhatikanlah firman Allah, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” ( QS. Ibrahim: 27 ).
Yang meminta Allah meneguhkan orang beriman di dunia adalah dengan meneguhkan mereka dalam amal shaleh. Sementara di akhirat, mereka akan diteguhkan di kubur dalam menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir serta peetanggungjawaban di hari berbangkit kelak. Begitulah dijelaskan oleh imam Ibnu Katsir dalam tafsir al Quranul Adhim.
Keteguhan memegang prinsip berdasarkan iman adalah kemestian pada diri setiap muslim. Teguh prinsipnya dalam kesabaran dan kebenaran bukan dalam dosa dan kemaksiatan. Seseorang yang teguh prinsipnya akan sulit diombang ambing ditarik diulur oleh siapapun jua, walau hampir semua orang bersatu menyalahkan prinsip yang diusungnya, namun sedikit pun keteguhan prinsipnya bergeser berpindah.
Sayyid Qutub dalam bukunya Ma’alim di ath tahriq pernah berkata ; “Orang beriman adalah manusia yang senantiasa menjalin hubungan keimanan yang kuat dengan Rabb-nya, Allah subhaanahu wa ta’aala. Dan jalinan hubungan imannya yang kuat dengan-Nya menyebabkan dirinya bermental kokoh. Bagaikan batu karang di tengah samudera. Ia tidak pernah merasa hina atau bersedih hati. Justru, ia selalu merasakan ketinggian dan kemuliaan di dalam hidupnya karena dirinya tersambung dengan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi.’
Begitu pentingnya sebuah keteguhan prinsip mampu menguatkan posisi seorang muslim dalam menghadapi pancaroba kehidupan dunia yang penuh fitnah. Kehidupan yang memisahkan makhluk dari Khalik-Nya. Kehidupan dunia yang menjadikan seseorang percaya diri dengan semua yang telah di raih dimiliki di dunia namun akan menangis menyesali menanggung untung diri di akhirat.
Teguh prinsip yang lahir dari ketinggian iman bukanlah keras kepala atau otak batu tak menentu. Tapi Teguh berprinsip berangkat dari ilmu bukan dari kebodohan murakkab. Tak mudah agar tak bergeser dari prinsip yang dianut diyakini. Mulai dari cibiran cemoohan, hinaan penistaan hingga ancaman hilangnya kehormatan bahkan nyawa pun akan mungkin terjadi didapati. Itulah tantangan yang biasanya dihadapi.
Orang yang memiliki keteguhan prinsip yang lahir dari iman menjadikan ilmunya untuk mencerahkan yang bodoh bukan menipu membodohi. Menjadikan hartanya untuk membebaskan kaum dhu’afa bukan mengikat mendzalimi. Dan kekuasaan yang digenggam dijadikan sebagai sarana merubah keadaan agar lebih baik bukan menumpuk menimpa kan kesalahan. Jika semua yang dimilikinya digunakan bukan untuk keburukan dan kemaksiatan maka disaat itulah ia telah menggauli lubang kehancurannya. Teguh prinsip dalam kesabaran dan kebenaran yang dilandaskan nilai iman, itulah penyeimbang dan penyelamat dalam menjalani kehidupan.











