“Uang ini harusnya dicairkan tiap bulan untukmu. Tapi karena kau menghilang entah kemana. Jadi seperti sekarang. Awalnya, persoalan ini hanya diketahui oleh adik ayah, tapi kemudian pengacara ayah, kembali mengingatkan.”
“Keluarga kami meminta maaf karena menutup hal ini selama belasan tahun. Atas dasar itu, aku minta maaf,” ujar Dara lagi.
Ibnu terdiam dengan pengakuan Dara. Ia memegang buku rekening tua di depannya itu dengan sangat hati-hati.
Entah kenapa, ia seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. Bertahun-tahun ia mencoba terhadap hidup. Ia mencari uang hari demi hari untuk makan dan sekolah. Namun kini seolah-olah menjadi mudah baginya.
Beberapa jam lalu, ia masih memikirkan beasiswa untuk bisa meraih Magister di Australia. Tiap waktu salat, ia selalu bersujud untuk diberi solusi atas persoalan yang menderanya selama ini. Kini doanya terwujud meskipun ia belum tahu berapa isi rekening tersebut.
Air mata Ibnu tiba-tiba menetes. Ia benar-benar tak menduga jika takdir kini menunjukan jalan terang baginya.
“Ayahku berkali kali datang dalam mimpi. Ia seperti marah. Pengakuan yang sama juga datang dari kakek dan nenekku. Kami berpikir karena tak menjalankan wasiat ini. Aku kemudian mencoba menarikmu tapi tak kunjung ketemu,” ujar Dara lagi.
Gadis itu begitu terus terang. Ia mencoba tersenyum di depan Ibnu yang masih gamang dengan apa yang didengarkannya itu.
“Mumpung aku ada di sini. Besok kita bergerak ke Bireuen, aku akan telepon pengacara ayah untuk menemani kita ke bank. Ini hak kamu dan sudah sepantasnya kamu terima,” ujar Dara lagi.
Ibnu mengangguk senang. Ia kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kebahagiannya tersebut.
Dara kemudian tiba-tiba terdiam. Ia terlihat ingin mengungkapkan sesuatu, tapi kemudian menahannya. Hal tersebut membuat Ibnu penasaran dan ingin mengetahuinya.
“Apakah ada hal lain yang harus aku dengar?” ujar Ibnu kemudian.
Wajah Dara kemudian merona. Namun ia masih sulit untuk menyampaikan hal tersebut. Ia berulangkali mencari kalimat yang tepat tapi tak kunjung didapatkannya.
“Ada tapi baiknya bukan aku yang sampaikan. Mungkin pengacara tadi atau kakek nenekku. Aku tak berani untuk mengungkapnya,” ujar Dara.
Penjelasan Dara membuat Ibnu terdiam. Ia merasa hal kedua yang ingin disampaikan Dara mengenai wasiet ayah angkatnya sangat sensitive.
“Apakah itu artinya aku harus ke Sumatera Barat?” tanya Ibnu kemudian.
Dara nyegir mendengar pengakuan Ibnu. Namun tebakannya bisa jadi benar. Tapi Dara ingin menjawab lebih diplomatis.
“Belum tentu. Nanti aku telepon kakek dan nenek dulu. Aku akan berita soal pertemuan kita. Kalau beliau mau ke Aceh, itu lebih baik. Sekaligus melihat dirimu dan beberapa warung peninggalan ayah disini,” katanya.
Ibnu mengangguk tanda setuju. Ia merasa ada hal besar yang akan belum diketahuinya. Namun untuk mencairkan suasana, ia kembali bertanya sesuatu kepada Dara.
“Sebentar. Aku telah bercerita banyak hal, namun Mbak Dara belum. Aku ingin tahu apakah Mbak Dara sudah menikah?” ujar Ibnu tiba-tiba.
Dara cemberut. Ia ingin mencari kalimat yang tepat tapi susah untuk diungkapkan.
“Belum. Yang naksir banyak, tapi karena wasiet ini…” ujar Dara gantung. []
[Bersambung]








