Ku-tegur Keserakahan
Aku kira;
Akan begini nanti jadinya
Kau pusing, Tuan. dan kanjai dari segala bidang
Sedang kami (rakyat) layaknya Kambing yang di ikat
di padang tandus. dibakar matahari dan kelaparan.
Kusampaikan sepatah ingat; bukan teguran pada Tuan. pemimpin kami yang baik hati dan bijaksana
Tentang wabah, longsor, banjir dan bencana alam
Pun menyoal tentang rimba kita dan lautan
Semesta yang damai; sejuk kehijauan.
Tuhan, adalah zat penyanyang; kepada insan
Yang tamak dan serakah, seperti kita, Tuan;
Seperti kita yang membiarkan hutan kita dijarah
Oleh koloni dan kapitalis.
Tuhan, adalah zat pengasih; kepada insan
Yang dusta dan bebal; seperti kita, Tuan.
Seperti kita yang mengizinkan bumi kita dikeruk
Pun Pabrik-pabrik tambang menumpuk
Didirikan oleh para kroni dan kapitalis.
Tuan, ingin sedikit ku-ingatkan; bukan celaan
Pun bukan kritikan dan hinaan
Tentang bala beuncana yang sedang melanda
Bumi kita; Bumoe Seuramoe Meukkah.
Ingin kutegur sedikit keserakahan; paduka
Ule Balang, Nujum, Brahma dan para dendayang
di Istana Raja.
Aku kira;
Memang benar begini ujungnya
Semua akan engkau sandarkan kepada Tuhan
Sedang kami, terkesan menjadi yang salah
Atau pula disalah-salahkan.
Tuhan, adalah maha penyayang; kepada insan
Walaupun kita geureuda dan ingkar
Tuhan tetap maha pemurah; kepada insan
Walaupun kita menduakannya, menuhankan uang
Tahta dan jabatan.
Aku kira;
Memang begini akhirnya, kami (rakyat) lantang
Sebab Tuan dan jajaran sering ngibul dengan blusukan
Dengan beragam bantuan yang tak masuk akal
Pun membuat kami layaknya cacing di kandang Ayam.
Gampong Lumpoe, Mei 2020.
Kinet BE
Puisi ini adalah karya Adam Zainal atau yang dikenal dengan Kinet BE, penulis dan penikmat sastra asal Bireuen, Aceh.









