Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Syurga Tersembunyi Itu Bernama Barbate

redaksi by redaksi
19/07/2020
in Feature
0

Kebun kurma Barbate. Nama ini kian akrab dengan masyarakat Aceh selama 4 tahun belakang ini. Dari lembah tak bertuan, tempat ini mampu disulap menjadi syurga tersembunyi di antara pergunungan Aceh Besar.

Ke sinilah, wartawan atjehwatch.com berkunjung pada Sabtu siang, 11 Juli 2020.

Kami bertiga berangkat dari jembatan Cot Iri Aceh Besar. Selain atjehwatch.com, ada Agam Iskandar selaku ketua Ikatan Alumni Pesantren Darul Arafah (IKAPDA) Aceh, serta Mustafa Kamal, yang juga alumni Darul Arafah.

Kami bergerak dari Cot Iri sekitar pukul 14.24 WIB. Dari Cot Iri menuju Simpang Blang Bintang. Kemudian menuju ke area Barbate dengan jarak 13,4 kilometer.

Melewati pintu tol Blang Bintang dan gugusan perpohonan hijau sejauh mata memandang. Cukup memanjakan mata.

Udara segar tersaji sepanjang perjalanan. Tak ada polusi serta hiruk pikuk kemacetan kota.

Hujan turun rintik-rintik saat kami tiba di lokasi. Namun parkir dipenuhi dengan mobil pengunjung dan roda dua.

Pohon kurma yang baru berusia dua hingga tiga tahun terlihat tumbuh subuh mulai dari lokasi parkir. Beberapa batang, mulai bertangkai buah hijau.

Untuk masuk ke area ini, setiap mobil dikenakan biaya masuk Rp5 ribu. Cukup murah untuk sebuah kawasan hijau nan asri.

“Uang tadi untuk membantu warga bersih-bersih sampah sekitar lokasi. Sehingga tempat ini tetap bersih,” kata Agam.

Selain perkebunan kurma, Barbate kini juga dibuka sebagai lokasi wisata bagi warga yang ingin berkunjung ke sana. Ada cafe dan sejumlah wahana permainan seperti berkuda, ATV, serta memanah.

Hal ini pula yang membuat daerah ini tak pernah sepi dari aktivitas di akhir pekan. Terutama keluarga yang ingin melepas penat dan berwisata di tengah-tengah kebun kurma.

Dari lokasi parkir, kami turun ke resto kecil di sana. Resto ini dipadati oleh sejumlah pengunjung.

Kami kemudian berkeliling melihat hamparan pohon kurma muda. Berberapa di antaranya sudah bertangkai buah. Pohon yang sebelumnya identik dengan kawasan timur tengah, ternyata bisa tumbuh subur di Aceh.

Puas berkeliling. Kami singgah di area wacana kuda, ATV serta memanah. Kawasan ini paling banyak dipadati pengunjung. Mereka rela antri berjam-jam hanya untuk mencoba setiap wacana yang ada.

Agam kemudian mengajak atjehwatch.com untuk beristirahat di salah satu pondok yang ada dekat resto. Resto ini juga menjual berbagai olahan kurma, seperti kurma muda dan jus kurma, serta ada juga madu linot yang mulai dibudidayakan di lokasi.

Ada juga prasasti tandatangan Ustadz Abdul Somad yang dibingkai di sana. Konon, saat awal-awal lokasi ini dibangun, UAS dan Syech Fadhil (sekarang anggota DPD RI-red) turut hadir dan menanam pohon kurma sebagai bentuk dukungan terhadap para petani di sana.

Sedangkan kami lebih memilih menikmati segelas sanger dan mie telur sambil menikmati angin sepoi-sepoi.

Syukri, pemilik Barbate, bergabung dengan kami di atas pondok.

Menurut Syurki, luas Barbate lebih kurang 150 hektare. Ada 10 ribu pohon kurma yang telah ditanam di antara hamparan lembah itu. Beberapa di antaranya mulai berbuah.

“Yang penting harus yakin dulu. Karena kalau sudah yakin, maka 50 persennya akan berhasil. Sebaliknya, kalau dari awal saja sudah ragu atau tidak yakin, maka 50 persennya menuju gagal,” kata pria asal Pidie ini.

Syukri memberi nama kawasan itu dengan Barbate. Ada makna tersendiri mengapa nama tersebut diberikan.

“Kalau Anda cari di internet, Barbate itu menuju ke dua tempat. Pertama, salah satu lembah di Eropa. Dalam sejarah, tempat itu adalah tempat pertama prajurit Islam turun di Eropa. Dari situ, kemudian Islam menyebar ke seluruh Eropa. Di lembah tadi, ditanam pohon kurma sebagai simbol bahwa perjuangan Islam berawal dari sana. Kalau menang, maka Islam jaya dan kalau kalah, maka Islam juga berakhir di sana,” cerita Syukri penuh filosofi.

Syukri (kanan)

Demikin juga dengan nama Barbate yang diberikan Syukri untuk kawasan tadi.

“Kami memulai dengan pohon kurma ini di sini. Tidak tanggung-tanggung, ada 10 ribu pohon kurma kami tanam di sini. Kalau berhasil, nama kami akan tercatat bahwa kamilah yang memulai. Tapi kalau gagal, kami juga akan tercatat dari sisi negatif di sini, dan orang-orang tak akan ada yang berani tanam pohon kurma lagi di Aceh,” kata Syukri.

Kini, kata Syukri, setelah hampir 4 tahun, keyakinannya tadi mulai berbuah hasil. Sejumlah pohon kurma mulai berbuah dan bertangkai buah.

“Yang penting itu sabar dan yakin, karena seperti kata saya tadi, sabar dan yakin, maka 50 persen, berhasil,” pria yang juga alumni dayah terkemuka di Sumatera Utara, Darul Arafah, ini.

Syukri mengaku fokus pada perkebunan kurma. Karena itu, ia hampir saban hari berada di lokasi, meski jauh dari rumah dan kota, serta kawasan Barbate sendiri belum memiliki sinyal handphone.

“Saya menikmati apa yang ada. Karena bahagia itu ada di pikiran kita. Kalau kita menikmati, maka semua akan terasa bahagia,” kata Syukri.

Bagi Syukri, fokusnya adalah kebun kurma. Sedangkan konsep wisata yang berkembang saat ini serta budidaya madu Linot yang mulai menghasilkan adalah kenikmatan lebih yang dihadiahkan oleh Allah Swt untuk nya dan petani di Barbate.

“Ini hadiah yang patut disyukuri,” ujar Syukri.

Usai salat Ashar, rombongan kami meminta izin pamit pada Syukri. Kami kemudian menuju ke lokasi yang lebih tinggi. Di sana, ada bangunan kecil berbentuk vila, serta kolam renang yang sedang direhab. Seorang pria bertubuh subur, Ibrahim, menanti kami di sana.

Ibrahim adalah seorang pemilik tanah di kawasan Barbate. Ia juga memiliki sejumlah pohon kurma di ladangnya.

Rencananya, Ibrahim akan membangun Cafe kecil di area tanah yang dimilikinya. Kami menikmati sore di atas puncak itu.

Dari puncak tadi, angin berhembus lembut. Gunung Seulawah Agam terlihat mengakar kokoh. Kicauan burung serta pemandangan indah terhampar sejauh mata memandang.

Segelas kopi hitam dan kentang goreng melengkapi suasana santai kami sore itu. Saat hari berganti malam, sunset terlihat super indah dari sana.

Keindahan Barbate yang memikat mata.

 

 

 

 

Tags: acehaceh besarBarbateKebun Kurmakurmasyech fadhiluas
Previous Post

Kembali ke Zona Kuning, Wali Kota Minta Warga Terus Patuhi Protokol Kesehatan

Next Post

Wujudkan Desa Proklim, Pijay Gleeh Lakukan Aksi dan Sosialisasi di Era New Normal

Next Post
Wujudkan Desa Proklim, Pijay Gleeh Lakukan Aksi dan Sosialisasi di Era New Normal

Wujudkan Desa Proklim, Pijay Gleeh Lakukan Aksi dan Sosialisasi di Era New Normal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Roni Guswandi Buka Turnamen SSB Driber, Tekankan Sportivitas dan Pembinaan Usia Dini

Roni Guswandi Buka Turnamen SSB Driber, Tekankan Sportivitas dan Pembinaan Usia Dini

11/05/2026
IAIN Takengon: Menyongsong Era Digitalisasi Pendidikan Tinggi

IAIN Takengon: Menyongsong Era Digitalisasi Pendidikan Tinggi

11/05/2026
Rumah sakit Gayo medical center (GMC)  Telah berlaku BPJS

Rumah sakit Gayo medical center (GMC) Telah berlaku BPJS

11/05/2026
Unjukrasa Mahasiswa Soal Pergub JKA, Jubir Nurlis: Penting untuk Bahan Evaluasi

Unjukrasa Mahasiswa Soal Pergub JKA, Jubir Nurlis: Penting untuk Bahan Evaluasi

11/05/2026
Pengkab Abdya Peusijuk 93 CJH, Dijadwalkan Berangkat 18 Mei

Pengkab Abdya Peusijuk 93 CJH, Dijadwalkan Berangkat 18 Mei

11/05/2026

Terpopuler

Ratusan Eks Karyawan PT KKA Mengadu ke Azhari Cage Terkait Tunggakan Gaji dan Pesangon

Ratusan Eks Karyawan PT KKA Mengadu ke Azhari Cage Terkait Tunggakan Gaji dan Pesangon

06/05/2026

Tabligh Akbar Muhammadiyah Abdya, Dr. Safaruddin Titip Beberapa Pesan Keumatan

Di Ikuti Dua Kemukiman, Sekda Abdya Buka MTQ Tingkat Kecamatan Jeumpa

Krak, Pasangan Asal Aceh Tempuh Perjalanan Darat dari Indonesia hingga Mekkah

314 Peserta Siap Bersaing dalam ASAC 2026 Se-Aceh di Pesantren Al Zahrah Bireuen

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com