Sial. Mungkin ini kalimat yang tepat bagi Aceh Utara. Sebagai salah satu kabupaten tertua di Aceh, kini ia bagai perawan tua di usia senja.
Masa keemasan soal pengolahan gas alam cair PT. Arun LNG sejak 1974 kini telah berlalu. Demikian juga dengan pabrik Kertas Kraft Aceh, pabrik Pupuk AAF (Aceh Asean Fertilizer) dan pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang kini meugap-gap.
Aceh Utara juga ditalak Lhokseumawe sejak 21 Juni 2001. Ya, sejak Lhokseumawe jadi daerah ortonom baru, maka otomatis Pemkab Aceh Utara harus pindah dari pusat kota itu. Lokasi yang dipilih adalah Lhoksukon.
Namun hingga akhir 2020, prosesi pemindahan tak kunjung terjadi. Dua kantor besar yang berada di Lhoksukon hingga kini masih kosong melompong.
Hanya sapi yang setia merumput di sana. Selebihnya adalah kucing kawin dan kawanan anjing yang sering patroli di sana.
Maka pantaslah muncul sejumlah spanduk yang berisi, “Cekmad Bang Toyid, tak usah pulang lagi.”
Cekmad sepertinya ‘cinta mati’ dengan Lhokseumawe. Inilah yang mungkin membuatnya betah di kota tetangga itu.
Ibarat seolah duda, ia masih terlalu cinta dengan Lhokseumawe. Meski sudah ditalak, tapi ia tidak mau pindah dari rumah mantan istrinya. Tidur di dapur pun boleh. Walaupun mantan istri sudah menikah lagi dan memiliki suami baru.
Sial. Tapi inilah yang terjadi.
Nasib Aceh Utara sebenarnya tak jauh beda dengan Aceh Timur. Kota Administratif Langsa diangkat statusnya menjadi Kota Langsa berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 tanggal 21 Juni 2001. Hanya beda bulan dengan Aceh Utara.
Mau tak mau, Aceh Timur harus pindah dari Kota Langsa.
Namun sedikit kelebihan Aceh Timur, ia memiliki Bupati Rocky yang tak mau berlama-lama nostagia dengan mantannya.
Hasballah M. Thaib atau Rocky dilantik sebagai bupati pada 6 Juli 2012. 25 hari pertama, ia langsung memindahkan pusat adminitrasi ke Idi walaupun masa itu masih serba kekurangan.
Ada banyak persoalan yang terjadi saat itu. Salah satunya adalah mayoritas PNS Pemkab Aceh Timur yang ogah pindah dari Langsa. Hal ini kemudian disikapi Rocky dengan razia rutin setiap pagi. Keadaan ini terjadi hingga beberapa bulan lamanya. Efek positif, PNS Aceh Timur ramai-ramai pindah ke Aceh Timur untuk memudahkan masuk kantor di pagi hari dan terhindar dari razia yang rutin oleh bupati Rocky.
Kini setelah hampir 20 tahun, Idi mulai bergeliat dengan tatanan kota baru. Aceh Timur menunjukan taringnya sebagai kota induk.
Maka beruntunglah Aceh Timur memiliki bupati Rocky, terlepas dari segala kekurangannya. Jika Rocky tak bersikap tegas, maka nasib nasib Aceh Timur pasti tak jauh beda dengan Aceh Utara.
Sialnya Aceh Utara, karena Cekmad yang terpilih dua periode seperti Rocky, partai sama pula, tak memiliki kemampuan yang sama.
Kini Cekmad sudah di ujung periode ke dua. Ia tidak mungkin maju lagi sebagai calon bupati. Maju pun mungkin tidak akan terpilih lagi.
Cekmad tak memiliki kenangan indah untuk diingat, termasuk untuk kami warga Aceh Utara. Tak ada prestasi yang membanggakan selama dua periode.
Dua kantor pusat adminitrasi Aceh Utara pun hingga kini terbengkalai begitu saja. Kota yang dulu dibanggakan kini seolah kehilangan ruh.
Tak ada yang spesial.
Duh, mungkin kami sedang sial.
Penulis adalah Firdaus, warga Lhoksukon Aceh Utara.









