BIREUEN – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) H.Muhammad Nasir Djamil merasa kurang lengkap bila tidak singgah di “Sate Apaleh” yang kesohor di Geurogok, Kecamatan Gandapura, Bireuen. Nasir Djamil sudah terbiasa, bila berkunjung ke wilayah timur, “singgah” untuk bersantap lezatnya Sate khas Kota Juang tersebut.
Namun, kunjungan Nasir Djamil, Sabtu 7 November 2020 menjadi berbeda, sebab pemiliknya M. Saleh yang kemudian dikenal “Apaleh” turut menamaninya, bahkan Apaleh kepada Ketua Forbes DPR-RI itu Apaleh menjelaskan alasannya mengapa usaha “Satenya” tidak membuka cabang di tempat lain.
“Saya ingin menjadikan Geurugok ini menjadi Kota Sate, biar Geurugok dikenal orang,” keta Apaleh saat ditanya Nasir Djamil mengapa “Apaleh” tidak membuka cabang di Tempat lain.
Apaleh menjelaskan alasannya kalau dirinya sudah memulai usaha sate sejak masa Presiden Suharto (orde baru), dan banyak yang menawarkan untuk membuka cabang di Banda Aceh, tapi ditolak Apaleh. Kata Apaleh, dirinya harus menjadi rejeki di negerinya, harus menjadi raja di negeri sendiri–bila tidak berhasil di daerah sendiri–bagaimana bisa menjadi raja di negeri orang.
“Ada yang mengajak ke Banda Aceh, saya bilang tidak usah. Padahal anak ada yang kuliah di Banda tapi juga menolak,” kata Apaleh.
Apaleh juga menyampaikan apabila anak-anaknya 9 orang, hanya satu anak alaki-lakinya saja yang mengambil S2, sementara yang lain lebih memilih usaha dan menjalan pendidikan di pesantren.
“Saya melihat Apaleh sudah menang di Geurogok ini,” lnjut M. Nasir Djamil.
“Sekarang berkat orang makan disini, saya sudah membangun dayah perempuan, sebelumnya dayah untuk anak laki-laki saja,” ujarnya.
Dalam obsesi Apaleh–seperti dijelaskannya pada Nasir Djamil–dirinya sudah menyampaikan kepada seluruh santrinya agar suatu saat nanti–setelah dirinya tiada lagi–merekalah yang akan memperjuangkan Geurugok kedepan.

“Dalam Haji saya juga saya berdo’a untuk tiga hal saja. Pertama, nanti setelah saya meninggal Allah bisa menempatkan saya di sisi-Nya. Kedua, Saya memohon agar Dayah saya berkembang dan menyebar ke seluruh kampung saya, dan Ketiga, Memohon agar Geurugok bisa dijadikan Kota Sate,” jelas Apaleh.
Dikatakan Apaleh, dayah yang dia bangun dari hasil penjualan satentya tanpa pungutan biaya apapun. Bentuk Dayah Salafi, lebih tradisional.
Untuk kedai Sate Apaleh–katanya–bila dari Medan dirinya sendiri tidak menandai Geurugok, sering kelewatan. Takdir adanya Sate Apaleh sekarang orang tahu Kota Geurugok.
“Kalau arah dari Banda orang mengenal Geurugok. Kalau dari Medan dulu tidak tahu Geurugok. Sekarang takdirnya orang tahu Geurugok, begitu keluar dari Aceh Utara langsung Geurugok,” jelas Apaleh.
Ditanya Nasir, hingga jam berapa buka? Apaleh menyampaikan kedainya tidak pernah tutup selama 24 Jam.
“Kalau memang Apaleh ingin mewujudkan Geurugok Kota Sate maka harus ramai selalu. Cita-cita Apaleh seperti di Garut, Jawa Barat, yang menjadi Kota kulit, maka kini Geurugok menjadi kota sate,” Demikian penjelasan Nasir Djamil dipenghujung obrol-obrol dengan Apaleh, Pemilik toko Sate di Geurugok.[ji]











