Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

“Susahnya Beasiswa ke Timur Tengah dari Pemerintah Aceh”

Admin1 by Admin1
17/11/2020
in Feature
0
“Susahnya Beasiswa ke Timur Tengah dari Pemerintah Aceh”

DUA wanita muda itu memakai jilbab panjang. Wajahnya teduh meski sedang dilanda persoalan berat.

Keduanya terancam gagal berangkat ke Al Azhar Mesir karena persoalan klasik. Ya, kedua tak memiliki biaya yang cukup untuk menimba ilmu ke Mesir.

Ia adalah Khofifah Nasution, alumni dari Ma’had Musthafawiyah Purba Baru.

Khofifah adalah anak dari pasangan Abdus Shomad Nasution, dan Rosdiana.

“Setelah saya tamat dari Musthafawiyah, saya ingin melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar As-Syarif, karna di sanalah intisarinya ilmu. Info pembukaan pendaftaran pun terus saya cari, baik itu ke saudara maupun teman, hari demi hari saya lewati, dan akhirnya, saya mengenal yang namanya Pusiba,” ujar Khofifah.

Menurutnya, Pusiba merupakan satu-satunya cabang dari Lembaga Bahasa yang ada di Al-Azhar yang di resmikan Di Indonesia, sebagai syarat masuk perkuliahan di Al-Azhar.

“Setelah saya mengetahui persyaratan masuk ke Pusiba, ternyata sangat mengejutkan, terutama dalam hal pembiayaan, mulai awal tahdid mustawa harus mengeluarkan uang 1 juta, hingga biaya perbulannya yang mencapai 4.900.000.”

“Di pusiba ada 7 level, 1 level dihitung 1 bulan, dengan biaya yang sebesar itu tidak membuat semangat saya ke Al-Azhar turun, bahkan saya lebih bersemangat.”

“Mengingat pembiayaan yang begitu besar yang harus dikeluarkan, saya pun berinisiatif untuk mengajukan proposal, dengan niat meringankan beban orang tua saya.Akhirnya saya mengajukan proposal ke 7 kantor pemerintahan, mulai dari kabupaten hingga provinsi. Akan tetapi, sampai detik ini blm ada titik terang! Walaupun demikian, saya yakin, barang siapa yang berjuang di jalan Allah, pasti rezeki Allah selalu menyertainya,” ujarnya lagi.

“Saya tak berharap kepada manusia, karna ujung-ujungnya pasti kecewa, semua harapan fifah gantungkan kepada sang maha pencipta, hanya do’a dan usaha, yg semaksimal mungkin saya lakukan demi menuntut ilmu.”

“Yang sangat menyedihkan, ketika proposal sampai di kantor pemerintahan, mereka seolah-olah tak mau meresponnya. Padahal kami berjuang mati-matian di jalan Allah,bukankah pada akhirnya nanti, kami yang akan mengharumkan nama Aceh,” ujar dia.

“Jadi kepada para pejabat yang ada di pemerintahan, tolong dengarkan suara kami. Anakmu yang sedang menuntut ilmu ini nantinya juga akan menjadi penerus generasi Aceh yang menduduki posisimu dan akan menjadikan Aceh lebih berjaya.”

Fifah, demikian wanita muda ini biasa disapa, mengaku tak berharap 100 persen pemerintah membantu. “Tapi setidaknya pemerintah bisa meringankan biaya kami dalam menuntut ilmu. Demikian kronologi yang saya sampaikan, kiranya mendapat perhatian yang besar, khususnya untuk para pejabat yang ada di lingkungan provinsi Aceh. Besar harapan kami kepada pemerintah Aceh, sudi kiranya meringankan beban kami dalam berjuang di jalan Allah.Semoga kebijakan dan kebaikan yang diberikan, bermanfaat bagi kami, dan menjadi ladang pahala bagi ibu/bapak sekalian.”

Tak hanya Khofifah, nasib naas yang hampir sama juga dialami oleh Fadhila Talia Salsabila, anak pertama dari 3 bersaudara. Fadhila merupakan alumni Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan asal Banda Aceh.

Fadhila dua kali gagal mengikuti tes Kemenag untuk berangkat ke Al Azhar Mesir. Namun ia tak putus asa. Fadhila telah mengikuti pelatihan bahasa melalui Pusiba.

Namun Fadhila terkendala dibiaya. Ia dan orangtuanya sudah mencoba memasukan proposal ke Kantor Gubernur Aceh tapi ditolak. Alasannya, khusus untuk berangkat ke Timur Tengah, kata staf di kantor Gubernur Aceh, ada beasiswa di Kemenag. Padahal, beasiswa tersebut hanya untuk 20 orang yang diperuntukan bagi seluruh Indonesia.

“Ini yang sangat kami sesalkan. Kami sangat berharap Pemerintah Aceh dapat membuka jalan bagi kami,” kata Fadhila.

Sementara itu, Senator muda DPD RI asal Aceh, HM Fadhil Rahmi Lc, mengaku geram dengan kondisi yang sedang berlangsung di Aceh, terutama di BPSDM.

Syech Fadhil berharap Pemerintah Aceh mengalihkan kerjasama bahasa dari Institut Francais d’Indonesie dengan lembaga lain yang memiliki kredibilitas serupa, khususnya untuk bahasa Arab.

“Untuk bahasa Arab ada lembaga yg bagus. Putra putri Aceh terutama alumni dayah butuh pelatihan bahasa Arab. Insya Allah kita siap fasilitasi kerjasama dengan lembaga resmi dibawah Alazhar Mesir. Sehingga nantinya setelah pelatihan Bahasa, peserta akan resmi menjadi mahasiswa Alazhar. Insya Allah bisa,” kata Syech Fadhil.

“Seiring banyak anak Aceh yang berminat melanjutkan sekolah ke timur tengah, Kenapa tidak diberdayakan ke sana. Dengan demikian maka ada banyak anak Aceh yang terbantu. Selama ini hanya yg mampu finansial saja yg ikut pelatihan resmi tersebut di Jakarta. Kalau Pemerintah Aceh mau, dengan doa rakyat Aceh insya Allah bisa kita bawa pulang ke Aceh,” ujar mantan ketua IKAT Aceh ini lagi.

Syech Fadhil berharap Pemerintah Aceh memberi porsi yang sama untuk semua pendidikan bahasa kepada anak anak Aceh. Hal ini dinilai penting agar tak terkesan diskriminatif nantinya.

“Karena selama ini banyak anak Aceh yang hendak timur tengah tapi terkendala dana untuk mengikuti pelatihan bahasa tersebut. Semoga pak Gubernur bisa menyambut harapan ini,” ujar Syech Fadhil lagi.

Previous Post

Dosen Unsyiah Latih Mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia Aceh Produksi Pupuk Granular

Next Post

Anies Baswedan Penuhi Panggilan Polda Soal Kasus Kerumunan Massa Rizieq Shihab

Next Post
Anies Baswedan Penuhi Panggilan Polda Soal Kasus Kerumunan Massa Rizieq Shihab

Anies Baswedan Penuhi Panggilan Polda Soal Kasus Kerumunan Massa Rizieq Shihab

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kejari Sabang Periksa 22 Saksi Kasus Korupsi Dana Desa

Kejari Sabang Periksa 22 Saksi Kasus Korupsi Dana Desa

26/03/2026
Jadi Daerah Basis Mualem-Dekfadh, Anggaran Dayah untuk Aceh Utara Kalah Jauh dari Bireuen di APBA 2026

Jadi Daerah Basis Mualem-Dekfadh, Anggaran Dayah untuk Aceh Utara Kalah Jauh dari Bireuen di APBA 2026

26/03/2026
Al-Farlaky Melayat ke Rumah Empat Pelajar Tenggelam di Perairan Peudawa

Al-Farlaky Melayat ke Rumah Empat Pelajar Tenggelam di Perairan Peudawa

26/03/2026
Wabup Aceh Besar Apresiasi Disiplin ASN Hari Pertama Kerja

Wabup Aceh Besar Apresiasi Disiplin ASN Hari Pertama Kerja

26/03/2026
DLH Aceh Besar Kerahkan Armada Penuh Bersihkan Sampah

DLH Aceh Besar Kerahkan Armada Penuh Bersihkan Sampah

26/03/2026

Terpopuler

JK ke Iran–Gaza di Tengah Ancaman Perang, PMI Banda Aceh: Ini Pertaruhan Kemanusiaan

JK ke Iran–Gaza di Tengah Ancaman Perang, PMI Banda Aceh: Ini Pertaruhan Kemanusiaan

25/03/2026

Abang Samalanga dan Jejak Perebutan Kursi Ketua di DPR Aceh

“Susahnya Beasiswa ke Timur Tengah dari Pemerintah Aceh”

Ini Sosok Bagher Ghalibaf, Incaran Trump Buat Pemimpin Iran Masa Depan

Jadi Daerah Basis Mualem-Dekfadh, Anggaran Dayah untuk Aceh Utara Kalah Jauh dari Bireuen di APBA 2026

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com