BANDA ACEH – Syair berbahasa Gayo bergema dalam sidang paripurna DPR Aceh, Senin 30 November 2020.
Pantauan atjehwatch.com, syair ini terdengar saat penyampaian pandangan akhir Fraksi PKB-PDA dalam rapat paripurna tentang Rancangan Qanun APBA Tahun Anggaran 2021 yang dibacakan oleh Rijaluddin, SH., MH dari Dapil VIII ( Aceh Tenggara dan Gayo Lues).
Rijaluddin mengawali pidato dengan bahasa Gayo atau adat daerah setempat disebut dengan istilah Salam Persalaman Gayo.
“Tabi Mulo langit sikujunjung, seringkel payung sawah ku ruje jarak e. Maaf mulo bumi sikujejak, seringkel tapak sawah ku atu ampar e.”
Salam persalaman Gayo tersebut disambut tepuk tangan oleh seluruh hadirin yang hadir dalam rapat paripurna tersebut.
“Salam persalaman Gayo menunjukkan keragaman budaya yang ada di Aceh sebagai wujud keistimewaan dan kekayaan Aceh yang saling menghargai dan memuliakan,” kata politisi muda asli Gayo Lues tersebut.
Kata Rijal, fraksi PKB-PDA memberikan beberapa masukan kepada Pemerintahan Aceh yaitu untuk memfokuskan anggaran pada 4 sektor yang menjadi prioritas RKPA tahun anggaran 2021 yang tercantum dalam Nota Keuangan tentang Rancangan Qanun APBA Tahun Anggaran 2021.
“Mendorong pemulihan Agroindustri dan pemberdayaan UMKM, peningkatan sumber daya manusia yang berdaya saing, penguatan ketahanan dan kemandirian pangan serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan,” kata Rijal lagi.
Selanjutnya, kata dia, Fraksi PKB-PDA juga menegaskan penggunaan anggaran 2021 hendaknya mengacu pada prinsip efesiensi, efektifitas, dan disiplin anggaran yang tepat waktu dan tepat sasaran sesuai apa yang telah direncanakan dalam RPJMA dan disepakati dalam APBA Tahun Anggaran 2021.
“Fraksi PKB-PDA menegaskan kembali untuk tahun 2021 nanti tidak ada lagi kegagalan pelaksanaan kegiatan/program pembangunan dikarenakan alasan waktu yang terbatas. Menggali sumber-sumber daya Aceh untuk meningkatkan Pendapatan Asli Aceh agar tidak selalu tergantung dengan pemerintahan pusat, serta mengejar ketertinggalan program yang ada dalam RPJMA 2017-2022,” katanya.
Terakhir, Rijaluddin juga mengapresiasi Pemerintah Aceh dan Lembaga DPRA atas upaya negosiasi untuk melanjutkan proyek multiyears sesuai dengan aturan yang berlaku.








