LHOKSEUMAWE – Calon Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh, Iwan Bahagia, meminta media tidak berspekulasi soal nama yang bakal terpilih sebagai anggota lembaga itu.
Menurut salah satu peserta yang berasal dari Aceh Tengah itu menjelaskan, sejumlah media terus berspekulasi soal calon komisioner KPIA.
“Sampai sekarang sudah ada tiga media daring setahu saya. Yang satu ceritakan sumber dari Pansel. Silahkan buka datanya, kan ada UU Keterbukaan informasi publik? Kok tidak disebut. Yang berikutnya disebut-sebut dari dewan. Validitasnya mana?” kata Iwan.
Berikutnya, mantan penyiar dan reporter RRI Takengon ini juga menanggapi berita atjehwatch.com yang berjudul “Belum Diumumkan, Nama-Nama Komisioner KPI Aceh Beredar”. Ia menganggap narasumber yang diwawancarai soal mahar, harusnya melapor ke polisi, bukan ke media.
“atjehwatch.com menulis tentang cerita narasumber yang mengaku terlibat dengan urusan mahar. Namun disisi lain kami 7 orang disebut dalam prediksi. Padahal bukan pengumuman resmi, jadi kesannya ada hubungan nama saya dengan pengakuan narasumber. Mari fokus kasus hukumnya, siapa dan kapan serta apa bukti permintaan itu? Kan enak, jangan berspekulasi,” katanya.
Ia menjelaskan, hingga saat ini tidak pernah ada telepon dari pihak mana pun terkait permintaan mahar. Sebab Iwan merasa dewan sudah pasti melaksanakan tugasnya dengan baik.
“Pertama, dewan itu lembaga politik. Jadi sah-sah saja mereka mengambil keputusan politik. Kedua saya merasa prediksi itu tidak tepat, apalagi ditambah dengan bumbu cerita mahar. Asumsi pembaca berbeda, seolah yang diprediksi itu ada hubungannya dengan mahar,” ujar Iwan.
Mengenai nama yang dipublikasikan sejumlah media, termasuk atjehwatch.com, Iwan merasa tidak pantas untuk dipublikasi. Karena bukan dari sumber resmi.
“Ada aspek dampak berita, karena kami sesama calon jadi saling curiga, dengan Komisi I jadi curiga. Kecuali ada teken dewan, ada drafnya. Jadi saya simpulkan, saya masih sama dengan 21 calon yang lain, menunggu pengumuman pasti. Soal mahar tolong pilahkan kasusnya, lapor ke polisi,” kata Iwan yang juga anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bireuen tersebut.
Ia merasa ada yang para pihak yang sengaja ingin menjatuhkannya dalam seleksi kali ini, sebab Iwan merupakan satu-satunya perwakilan wilayah tengah.
“Saya indikasikan ada yang berusaha menjatuhkan saya karena cuma satu dari wilayah tengah. Jadi caranya begini, diberitakan lolos, dibuat skenario, di pengumuman tidak. Saya baru pertama ikut. Dan saya murni orang penyiaran dan jurnalis,” ujarnya.
Selain meminta media tidak berspekulasi, Iwan merasa keikutsertaannya dalam seleksi ini penuh pengorbanan, sehingga tidak pantas dikaitkan dengan mahar.
“Saya ke Banda Aceh itu naik L300 beberapa kali untuk test. Ke DPRA naik ojek. Saya cuma punya sepeda motor di Takengon. Sakitnya, ibu saya sedang stroke sudah mendengar kabar kalau saya diprediksi lulus tapi pakai mahar. Itu yang saya tidak terima. Saya tidak peduli lagi, mau lolos atau tidak lolos sebagai komisioner. Tetapi ini catatan bagi warga di wilayah tengah untuk ikut berbagai peluang di provinsi,” kata Iwan.










