PRIA itu berdiri lama di ruang kedatangan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar, Minggu sore 2 Mei, pukul 14.45 WIB.
Ia mengenakan baju kaos krem dan masker berwarna putih. Tak ada barang bawaan yang berarti.
Matanya menyorot seisi ruangan. Namun ia seperti orang linglung. Ia seperti tak mengenal satupun orang di sana.
“Pawang Jamal…,” terak seseorang dari arah depan.
Pria tadi melihat ke arah suara. Ada beberapa pria yang melambai ke arahnya. Di sana, ada Iskandar Usman Al-Farlaky anggota DPR Aceh, Kepala Dinas Sosial Aceh, serta beberapa pejabat lainnya.
“Hoe neujak lom?” tanya Iskandar saat Pawang Jamal merapat.
“Keuneuk cok tas,” jawabannya kemudian. Ia baru sadar bahwa orang yang menyapanya di depan adalah Iskandar, orang yang berkomunikasi dengan keluarga dan KBRI di Yangon terkait upaya kebebasannya selama ini.
Pawang Jamal tersenyum. Ia kemudian menarik nafas lega.
“Pakon?” tanya Iskandar.
“Hana keluarga yang menjemput,” ujar Pawang Jamal.
Kini giliran Iskandar dan lainnya yang tersenyum. “Tenang. Ureung Dinsos akan mengantar droneuh hingga ke rumoh. Lon pih akan mengantar droneuh. Neu ek moto lon peu moto awak Dinsos?” kata Iskandar kemudian.
“Moto droneuh mantonglah,” jawab Pawang Jamal kemudian.
Semua kemudian tersenyum. 10 menit kemudian dilalui dengan sesi foto-foto.
Mobil Iskandar kemudian mengarah ke Komplek Perumahan DPR Aceh. Di sana, Pawang Jamal meminta izin mandi dan dilanjutkan sholat Ashar di lantai 2.
Usai sholat, ia turun ke lantai satu untuk meminta Iskandar menghubungi adiknya, Jamaliah. Wanita inilah yang aktif berkomunikasi dengan Iskandar selama Pawang Jamal ditahan serta melalui hari-hari di penjara Kwathong, Myanmar.
Melalui hanphone Iskandar, Pawang Jamal menelpon adiknya itu. Ia berbicara dengan volumen kecil. Pawang Jamal juga menghubungi istrinya.
Nomor istrinya tadi dicatat di selembar kartu nama ‘Aji KBRI Yangon.’ Sedangkan nomor handphone Jamaliah memang sudah lama tersave di handphone Iskandar.
“Kajak u rumoh mak beh. Lon ka di Banda,” ujarnya singkat.
Ia memutuskan komunikasi dan menyerahkan kembali handphone Iskandar.
Mata Pawang Jamal tiba-tiba berkaca-kaca usai menelpon istrinya. Tapi ia buru-buruh mengalihkan pandang.
Pawang Jamal mengaku terharu bisa kembali ke Aceh. Peristiwa naas yang dihadapinya sekitar 2,5 tahun lalu, masih sangat membekas dalam ingatanya. Kepada atjehwatch.com, ia bercerita detail soal kisah kelam yang pernah menimpanya.
Saat itu, Pawang Jamal dan 13 krunya berangkat melaut. Ia mendapatkan titik koordinat dari nelayan lain bahwa banyak ikan di koordinat tadi.
Ternyata saat tiba di lokasi, mereka berada di laut dalam, ada banyak kapal besar yang melintas di sana. Menurut perkiraan Pawang Jamal, perairan tersebut adalah perairan internasional, maka ia pun meminta kru menebar pukat.
Namun baru hendak menurunkan pukat, sebuah kapal nelayan asing mendekat. Dalam kapal tadi, hanya dua orang berpakaian dinas. Sedangkan yang lain berpakaian preman.
“Kami pikir mereka perampok,” kata Pawang Jamal.
Pria yang berada di kapal tadi memiliki senjata dan menembak ke udara. Awak kapal Pawang Jamal panik.
“Nurdin tak bisa berenang. Namun loncat ke laut dan akhirnya…..,” ujar Pawang Jamal.
Usai ditangkap, mereka akhirnya digiring ke darat jelang dini hari. Mayat Nurdin dikebumikan pada hari ke 3 untuk mencegah hal-hal tak diinginkan.
Selain boat KM Bintang Jasa yang dipawangi Jamal, petugas setempat ternyata kemudian juga menahan KM Troya.
“Saya sempat satu penjara dengan almarhum Zulfadli (Pawang KM Troya-red). Namun kemudian dipisahkan karena saya sudah ada putusan hubungan. Sedangkan Zulfadli masih mengikuti persidangan,” kata Pawang Jamal.
Pawang Jamal mengaku kaget saat mengetahui Zulfadli meninggal dalam tahanan di Myanmar.
“Dia banyak pikiran. Dalam penjara, kalau banyak pikiran pasti…,” ujar Pawang Jamal terputus.
Pawang Jamal sendiri, dijatuhi hukuman 7 tahun penjara. Sekitar 6 bulan pasca dirinya ditahan, pemilik boat KM Bintang Jasa juga meninggal dunia. Boat ditahan oleh otoritas Myanmar. Demikian juga dengan seluruh identitas yang dimilikinya.
[Bersambung]








