Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Internasional

Orang Asia di AS Mulai Beli Senjata untuk Lindungi Diri

Admin1 by Admin1
07/05/2021
in Internasional
0

Jakarta – Sejumlah orang keturunan Asia di Amerika Serikat dilaporkan membeli senjata untuk melindungi diri lantaran serangan yang kerap terjadi belakangan ini.

Namun sejumlah komunitas menentang langkah itu.

Pilihan membawa senjata dan perdebatan tentang apakah akan membantu mencegah kekerasan muncul ketika komunitas Asia Amerika dan Kepulauan Pasifik (AAPI) terus dilecehkan, diancam, dan diserang dengan kekerasan.

“Saya tahu betul bahwa senjata tidak membuat kita aman,” kata ketua Newton Action Alliance (NAA), Po Murray, mengutip CNN, Rabu (5/5).

NAA merupakan kelompok nasional pencegahan kekerasan senjata akar rumput yang dibentuk setelah insiden penembakan Sandy Hook tahun 2012.

“Adalah mitos umum bahwa orang baik dengan senjata akan melindungi kita dari orang jahat bersenjata,” ujarnya.

Murray dan aktivis Asia Amerika lainnya mengaku prihatin kepada orang-orang yang mencari rasa aman dengan membeli senjata.

Wakil presiden kelompok advokasi nasional Moms Rising, Gloria Pan, mengatakan secara historis, orang Asia-Amerika tidak terlibat dalam debat senjata seperti kelompok lain.

Hambatan budaya, etnis dan bahasa telah, terang Pan, memengaruhi kemampuan mereka untuk sepenuhnya memahami masalah tersebut, bersama dengan kurangnya sumber daya multi-bahasa dan kemitraan dengan organisasi lokal.

“Jika Anda orang Asia-Amerika dan Anda sedang mempertimbangkan untuk membeli senjata, coba pikirkan baik-baik secara rasional,” ujar Pan, Selasa (4/5).

Pan beranggapan membawa senjata bisa jadi dapat memicu konsekuensi lain yang tidak diinginkan dan membahayakan.

Di sisi lain, sebuah kelompok baru menawarkan diri membantu orang Asia mempelajari cara memegang hingga menembak menggunakan pistol jika mereka mau.

Pendiri dan presiden Missouri Asian American Youth Foundation Caroline Fan, mengatakan ia diminta orang-orang di komunitasnya, termasuk imigran generasi pertama, untuk membantu menemukan kursus pelatihan keselamatan senjata.

“Saya tidak berpikir bahwa senjata membuat kita lebih aman. Saya memahami ketakutan itu. Tetapi saya hanya ingin komunitas kami menemukan pilihan lain,” kata Fan.

Orang Asia-Amerika, lanjut Fan, jarang berbicara mengenai dampak kekerasan senjata, dan penting untuk mulai membicarakannya.

Penembakan di spa di Atlanta Maret lalu mengingatkan Fan pada insiden di Midwest dan menyebabkan mantan pelatih bola basket Northwestern University Ricky Byrdsong serta seorang mahasiswa Korea-Amerika di Universitas Indiana tewas.

“Saya ingat teror,” ucap Fan. “Pada usia 18 tahun, saya menyadari bahwa ada orang di luar sana yang akan menembak kami karena kami terlihat berbeda.”

Para pendukung pembelian senjata memperingatkan mengenai risiko bagi orang yang mungkin belum sepenuhnya terlatih menangani senjata api atau menyimpannya dengan benar.

Seperti dialami Mike Song yang kehilangan putranya berusia 15 tahun, Ethan, setelah tidak sengaja menembak dirinya sendiri dengan senjata di rumah tetangganya di Guilford, Connecticut pada 2018.

Song mendesak orang agar mempertimbangkan cara lain untuk keamanan.

Penjualan senjata di Amerika disebut melonjak tahun lalu.

Berdasarkan data National Shooting Sports Foundation, bulan lalu, FBI melakukan pemeriksaan terkait latar belakang kepemilikan senjata lebih dari 3,5 juta pemeriksaan.

Dari jumlah itu, hampir 1,7 juta pemeriksaan latar belakang senjata tersebut khusus untuk pembelian senjata.

Kelompok perdagangan industri senjata api mereferensikan data FBI dengan angka penjualan aktual yang diberikan oleh pedagang senjata untuk menentukan berapa banyak senjata yang dijual setiap bulan.

Seorang advokat hak senjata dan mantan juara “Top Shot” dari History Channel, Chris Cheng, menjawab banyak email dan pesan media sosial dari orang Amerika keturunan Asia yang ingin membeli senjata api pertama mereka dalam beberapa bulan terakhir.

Banyak orang Asia Amerika yang memiliki persepsi bahwa mereka adalah “lapisan pertama perlindungan” diri sendiri. Mereka pikir penegakan hukum tak bisa diandalkan.

Bulan lalu, klub Asian American and Pacific Islander Gun Owners (AAPI GO) dibentuk untuk menekankan keamanan dan tanggung jawab kepemilikan senjata di kalangan masyarakat.

Salah satu pendiri grup, Vincent Yu, mengaku bergabung setelah melihat kurangnya pesan solidaritas dan tindakan yang mendukung komunitas AAPI usai penembakan spa di area Atlanta dan serangan kekerasan anti-Asia. Dia ingin memberi dampak positif di masyarakat.

Yu telah memiliki senjata api selama beberapa tahun, karena dia tertarik pada olahraga menembak.

Scott Kane, salah satu pendiri grup, berbulan-bulan mengaku mulai mencari cara bertahan setelah istri dan putrinya, yang orang Asia, diteriaki dan diludahi oleh sekelompok pria dari mobil pikap.

“Saya mulai mencari pertahanan dan opsi pribadi, yang akhirnya membawa saya ke pembelian senjata api pertama saya,” kata Kane.

Sumber: CNNIndonesia

Previous Post

Kasus Melonjak, Nepal Ketar-ketir Susul Badai Corona India

Next Post

Gelora Aceh Besar Ajak Keluarga Yatim Cot Glie Belanja Suka-Suka

Next Post

Gelora Aceh Besar Ajak Keluarga Yatim Cot Glie Belanja Suka-Suka

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

LPPM IAIN Takengon Gelar Coffee Morning, Perkuat Kolaborasi Riset Berbasis Data

LPPM IAIN Takengon Gelar Coffee Morning, Perkuat Kolaborasi Riset Berbasis Data

23/09/2026
Tingkatkan Mutu Layanan, Direktur RSUD Teungku Peukan: Tahun ini Ada 178 Nakes Telah Ikut Pelatihan

Tingkatkan Mutu Layanan, Direktur RSUD Teungku Peukan: Tahun ini Ada 178 Nakes Telah Ikut Pelatihan

23/09/2026
Lembaga Wali Nanggroe Dorong Penguatan Konservasi Berbasis Adat untuk Menjaga Hutan dan Keseimbangan Alam Aceh

Lembaga Wali Nanggroe Dorong Penguatan Konservasi Berbasis Adat untuk Menjaga Hutan dan Keseimbangan Alam Aceh

23/09/2026
DPRK Pidie Jaya Rindu Wakil Bupati Hadir di Paripurna: Semoga Bupati Bisa Gandeng Tangan

DPRK Pidie Jaya Rindu Wakil Bupati Hadir di Paripurna: Semoga Bupati Bisa Gandeng Tangan

23/09/2026
Peukan Bada Jadi Tempat Pembibitan Tanaman Mangrove

Peukan Bada Jadi Tempat Pembibitan Tanaman Mangrove

23/09/2026

Terpopuler

Akademisi Minta Waktu Penjaringan Dekan FK USK diperpanjang dan syaratnya Mudah

Utang RSUDZA Tembus Rp416,97 Miliar, Nasrul Zaman: Periksa Manajemen Lama

22/09/2026

Orang Asia di AS Mulai Beli Senjata untuk Lindungi Diri

Idris Abdya Mantapkan Langkah Maju Sebagai Bakal Calon Anggota DPD RI Utusan Aceh Periode Akan Datang

Warga Asal Pidie Ditangkap Polisi Sumut dengan 480 Gram Sabu

Rp1,005 Triliun Belanja Pidie Jaya: Naik Lebih Cepat dari Pendapatan, FKPD Tagih Transparansi

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com