SIGLI – Pelaksanaan milad ke 14 tahun Partai Aceh di kabupaten Pidie di isi dengan doa bersama dan zikir.
Acara berlangsung di kantor DPW Partai Aceh kabupaten Pidie yang terletak di Keunire.
Acara berlangsung sederhana dengan mengikuti prokes covid_19 sebagaimana anjuran pemerintah.
Pantauan wartawan, kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua DPW PA Pidie H. Sarjani Abdullah juga selaku mantan bupati Pidie periode yang lalu.
Dalam sambutan singkatnya, Sarjani mengutarakan dengan momentum milad ini semoga Partai Aceh menjadi lokomotiv Pembangunan Aceh dan wadah penyaluran aspirasi masyarakat banyak.
“Kami sangat mengharapkan peran serta masyarakat untuk terus memberikan dukungan, masukan bahkan kritikan yang konstruktif untuk kemajuan dan kemaslahatan Partai Aceh Itu sendiri. Tanpa dukungan rakyat mustahil PA akan bertahan sampai hampir 3 periode (15 tahun),” kata Sarjani.
“Dan kami sendiri akan terus berbenah untuk kebangkitan kembali PA kedepan. Makanya saya selalu menginstruksikan jajaran/kader PA terutama di legistatif Pidie untuk terus memberikan perhatian dan memperjuangkan aspirasi masyarakat secara maksimal.”
Abu Sarjani mengajak seluruh politisi di Aceh dan seluruh tokoh masyarakat untuk bersatu dan bersama – sama memperjuangkan terealisasinya semua butir MoU Helsinki yang hingga kini belum terealisasi seluruhnya.
“Terealisasi semua isi perjanjian ini menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat Aceh, terutama pemangku kepentingan di Aceh,” katanya.
Zikir dan doa kali ini dipimpin oleh Teungku Amri Ayyub selaku Sekjend Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA) Wilayah Pidie.
Acara milad ini ikut hadir juga Ketua KPA Wilayah Pidie Bahtiar Abdullah ( Pang Madon ), Ketua DPRK Pidie yang juga politisi Partai Aceh Mahfuddin Ismail, M.A.P, Ketua Fraksi PA Muhammad Ibrahim Tangse dan seluruh anggota DPRK Pidie Fraksi PA serta jajaran RMPA Pidie.
Ketua DPRK Pidie di kesempatan lain mengatakan dirinya berharap dengan adanya milad seperti ini memberikan semangat juang baru bagi kader Partai Aceh untuk terus berbenah diri dan memperjuangkan butir_butir MoU dan UUPA yang belum tuntas secara keseluruhan.
“Terakhir kita jadikan momentum ini untuk mengenang para pendahulu kita (syuhada-syuhada ) yang telah memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh khususnya petinggi GAM serta seluruh kader Partai Aceh yang telah membangun partai secara susah payah pada saat pasca damai Aceh dengan pemerintah RI,” kata Mahfud. []










