SEJUMLAH pria muda terlihat duduk di atas balai kecil yang terbuat kayu semi terbuka. Mereka mengenakan kemeja dan bersarung. Ada peci berwarna hitam di kepala.
Wajah mereka sumbrigah. Saat itu pengajian baru saja selesai.
Jumlah mereka sekitar delapan orang. Mereka sedang belajar kitab kuning.
Aktivitas rutin tersebut berlangsung setiap sorenya.
Ada satu di antara mereka yang ditunjuk sebagai guru. Lelaki yang bertindak sebagai guru duduk di depan. Sedangkan para santrinya melingkari untuk mendengar petuah-petuah agama dari sang guru.
Hembusan angin sepoi-sepoi membuat siapaapun yang duduk di sana terasa nyaman dan betah berlama-lama.

Dalam bahasa Aceh, bangunan tersebut biasa disebut rangkang atau balai beut. Tak hanya satu, tapi ada beberapa bangunan sejenis di sana yang diperuntukan bagi santri yang ingin belajar memperdalam ilmu agama.
“Beginilah suasana kami pasca damai. Sekarang sedang pandemi tapi tak begitu berpengaruh di sini,” kata teungku tadi.
“Baru soal covid ketika keluar dayah,” sela seorang santri.
Mereka kemudian tertawa bersama.
Ya, aktivitas tadi terekam di komplek Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah, kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, awal Juni 2021 lalu.
Dayah ini merupakan salah satu dayah salafi terkemuka di Aceh. Saat konflik di Aceh, Dayah Tanoh Mirah pernah diduduki militer serta aktivitasnya sempat tersendat.
Dayah ini didirikan oleh Teungku H. Abdullah Hanafi atau akrab disapa Abun Tanoh Mirah Pada 1956.
Abu Tanoh Mirah merupakan alumni Dayah Labuhan Haji di bawah bimbingan Al Mukarram Abuya Mudawali.
Tanoh Mirah sendiri merupakan nama desa setempat. Nama asli dayah itu sendiri adalah Darul Ulum.
Dayah ini berkembang pesat di awal-awal pendirian dan mengalami beberapa kali perluasan.
Adapun luas tanah Dayah Darul ‘Ulum Tanoh Mirah pada 1956-1961 dengan luas tanah 2.450 M. Selanjutnya pada 1962 diperluas menjadi 4.063 M. Kemudian pada 1963 diperluas menjadi 4.747 M.
Sedangkan pada 1969 diperluas menjadi 9.428 M. Selanjutnya pada 1976 diperluas menjadi 9,863 M. Kemudian pada 1990 diperluas menjadi 18.957 M. Adapun kepemilikan tanah pada Dayah Darul ‘Ulum Tanoh Mirah adalah tanah pribadi, kemudian dengan perkembangan yang pesat sebagian masyarakat ada yang mewaqaf tanah untuk Dayah Tanoh Mirah.
Pembangunan yang diselenggarakan pada Dayah Darul ‘Ulum Tanoh Mirah pada masa pendirian selain dari pada penyedian tempat yang dilakukan oleh Abu adalah bantuan dari masyarakat dan wali murid yang datang dari berbagai daerah diindonesia.
Pada 1956-1961 terdapat 8 ruang belajar, kemudian pada 1962-1998 bertambah menjadi 15 ruang belajar, pada tahun 1998-2010 menjadi 20 ruang.
“Saat konflik, banyak santri dari luar Aceh yang akhirnya harus pulang kampung. Padahal sebelumnya, dayah ini berkembang pesat,” kata Teungku Muhammad Nur, salah seorang alumni Dayah Tanoh Mirah.
Informasi yang diperoleh, adapun guru pertama yang mengajar adalah Teungku Usman Meunasah Krueng salah satu murid Abu yang tertua. Jumlah santri antara tahu 1956-1961 sebanyak 35 orang. Pada tahun 1991-1996 jumlah santri mencapai 1.250 orang.
Abu Tanoh Mirah meninggal dunia pada 20 November 1989, kemudian Dayah Darul ‘Ulum dipimpin oleh Putra sulungnya Teungku H. Muhammad walie Al-Khalidie yang lebih dikenal dengan waled Tanoh Mirah.
Kepemimpinan kemudian berganti ke Abon Tanoh Mirah atau Teungku Marzuki. Namun Teungku H Marzuki selaku pimpinan Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah meningggal dunia pada Jumat 11 September 2020.
Menurut Teungku Usman, salah seorang guru di dayah setempat, ada 4 jenjang pendidikan yang berlaku di sana selain pengajian salafi, pertama adalah kelas Tahijizi atau kelas persiapan untuk jenjang Tsanawiyah dan ‘Aliyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah ‘Aliyah serta Ma’had Al ‘Aly Darul ‘Ulum.
“Kebanyakan santri kita mondok,” katanya.
“Kalau program unggulan adalah Mahad Aly dan khalwat atau khalut,” ujar dia lagi.
Sedangkan untuk sarana, seperti dua ruang kantor, 20 ruang belajar, 1 perpustakaan, 1 ruang kegiatan santri, satu ruang lab computer, dua mushala, 80 bilik santri serta satu rumah pimpinan.
Sedangkan jumlah santri yang mondok saat ini diperkirakan mencapai 350 orang dengan jumlah pengajar sekitar 30 orang.
“Kita berharap dari dayah ini lahir pemimpin pemimpin yang lebih baik kedepan. Baik untuk Aceh maupun tingkatan nasional.” [Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islam (dayah) di Aceh.









