LETAKNYA jauh dari pusat kota. Butuh puluhan menit untuk mencapai lokasi.
Ada beberapa gedung berlantai satu digunakan sebagai sarana belajar di sana. Di depan jugaa ada plamplet ukuran sedang bertuliskan Nurul Islam.
Dayah ini merupakan salah satu dayah tertua di Aceh Tenggara yang berbatasan dengan provinsi Sumatera Utara.
Ke sanalah tim atjehwatch.com bertandang pada akhir Mei 2021 lalu.
“Ini benteng iman umat Islam yang menjaga aqidah sejak dulu hingga sekarang,” ujar salah seorang tokoh agama di Aceh Tenggara, Teungku Siddiq, yang menyertai rombongan, begitu tim tiba di sana.
“Meski sekarang tak lagi setenar era 90-an,” katanya lagi.
Memasuki komplek, beberapa siswa berpakaian seragam tampak sedang menikmati santapan siang.
Mereka duduk di bawa pohon yang cukup rindang.
Mereka tampak gugup saat didekati oleh atjehwatch.com. Namun wajah sumbrigah terpancar tatkala mengetahui maksud kedatangan kami ke sana.
Salah seorang di antara mereka menjawab dengan bahasa Alas. Kemudian terdiam saat mengetahui bahwa tak seorangpun di antara rombongan kami yang bisa berbahasa Alas.
Mereka kemudian tertawa.
“Langsung ke kantor guru pak,” ujar salah seorang di antara mereka dalam bahasa Indonesia.
Ya, komplek tersebut adalah bagian dari Dayah Nurul Islam yang berada di Jalan Kelapa Gading – Kuning Desa Pinding, kecamatan Bambel.
Warga setempat menyebut Nurul Islam sebagai benteng pertahanan aqidah umat Islam di Aceh Tenggara.

Pondok Pesantren Nurul Islam merupakan ponpes yang ada di kabupaten Aceh Tenggara dan telah berdiri sejak tahun 1954.
“Misi yang selama ini dibangun pada pondok pesantren nurul islam adalah membangun sumber daya mukmin yang ahli dzikir,fikir, dan ikhtiar dengan berlandaskan Alquran dan hadis, dan huffaz di masa akan datang,” kata Rabbayani, salah seorang guru di sana.
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Pondok Pesantren Nurul Islam didirikan oleh almarhum Teungku H. Djafar Siddiq pada 1964. Beliau adalah tokoh masyarakat dan pemuka agama yang cukup berpengaruh di Aceh Tenggara kala itu.
Pada masa kepemimpinan almarhum Teungku H. Djafar Siddiq keberedaan pola pendidikan pondok pesantren bersifat salafi.
Pendidikan lebih difokuskan agama. Fasilitas dan sarana juga sangat minim saat itu.
Perkembangan pondok pesantren Nurul Islam mengalami pasang surut dari waktu ke waktu selama lebih kurang 31 tahun masa kepemimpinan Teungku Djafar.
Pada awal 1970 sampai dengan 1982 keberadaan Pondok Pesantren Nurul Islam semakin jaya karena ditopang tenaga guru yang professional.
“Saat itu ada Teungku Usman Fauzi, almarhum Teungku Drs. Hasan Fakeh, almarhum Tgk. H. Jahidin Abdul Waris Hasan, serta Teungku H. Sabirinsyah,” kata Rabbayani.
Menurutnya, dengan adanya guru-guru yang handal tadi sehingga keberadaan santri lebih kurang 500 orang pada waktu itu dan keseluruhannya mondok di pondok Pesantren Nurul Islam.
Tetapi pada tahun 1982 sampai dengan 1987 keberadaan pendidikan di Pondok Pesanteren Nurul Islam agak menurun reputasinya dikarenakan para guru yang handal dan propesional melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi Banda Aceh, dan ada juga yang keluar negeri hingga ke Mesir.
Pada 1988 sampai dengan 1995, pada masa ini Pondok Pesantren Nurul Islam berubah kedalam bentuk Yayasan pada tahun 1994 dengan nama “Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam.”
Setahun setelah berubah bentuk pada 1995, pimpinan Yayasan Tgk. H. Djafar Siddiq berpulang kerahmatullah dalam usia 63 tahun. setelah sepeninggalan almarhum, Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam berganti pimpinan yaitu Drs, Tgk. H. Irfan Husni dari 1995 sampai 1998.
Teungku Irfan adalah anak ketiga dari dua belas bersaudara, anak almarhum H. Djafar Siddiq. Namun keberadaan pondok pesantren kurang berjalan dengan baik.
Kepemimpinan kemudian beralih ke Teungku Appan Husni Js pada 1998. Teungku Appan adalah anak kedua dari dua belas bersaudara dari almarhum Teungku H. Djafar Siddiq. Pada masa kepemimpinan Teungku Appan Husni Js ini keberadaan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam kembali berjaya seperti pada era 70-an.
Pola pendidikan di Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam ditingkatkan dengan dimasukkannya pendidikan sekolah agama, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Swasta dan berjalan dengan baik sampai saat sekarang ini.
Kini, setelah puluhan tahun, Nurul Islam telah melahirkan ribuan alumni. Para alumninya tersebar hingga ke Sumatera Utara.
“Bahkan ada yang mendirikan dayah di Sumatera Utara,” kata Teungku Siddiq.
“Ikatan alumninya cukup kuat,” tambahnya.
Berdasarkan data terakhir yang diupdate Kemenag, Yayasan Pondok Pesantren Nurul Islam memiliki santri 1.374 orang dari berbagai tingkatan, baik untuk MTs, MAS, atau dayahnya sendiri.
Sedangkan tenaga pengajar mencapai 103 orang untuk berbagai tingkatan.
Santri tidak hanya berasal dari Aceh Tenggara tapi juga seluruh Aceh. Bahkan ada dari Sumatera Utara. [Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.











