Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Vaksin Amelia

Admin1 by Admin1
03/08/2021
in Opini
0

Oleh Zulfata. Penulis adalah Direktur Sekolah Kita Menulis (SKM).

Amelia, namanya mirip dengan album lagu Camelia karya Ebiet G Ade. Sebutan Camelia tak asing bagi pecinta lagu lawas Indonesia yang populer di tahun 1980-an. Namun sebutan Amelia menggugah jagat raya Aceh di tahun 2021. Meski dua hal yang berbeda, Amelia dan Camelia dapat ditarik dari satu penggalan liriknya Ebiet. “…mengarungi nasibmu mengikuti arus air berlari”. Dari tafsiran bebas lirik inilah cerita vaksin Amelia dimulai.

Amelia, nasibmu “mengikuti arus” peraturan untuk dapat wisuda, mendapat gelar, apakah itu persembahan untuk orang tua, sanak saudara, atau untuk tumpuan karier masa depannya. Amelia mengikuti “air berlari”, dari meja birokrasi satu ke birokrasi lainnya. Kegigihan Amelia tak segigih pimpinan sekolahnya dalam mensyiasati pencegahan penularan covid-19 dengan jalan pintas politik administrasi.

Amelia terus menyusuri rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya untuk melengkapi syarat dalam mencapai impian. Ternyata bernar, rumah sakit itu memang “sakit”. Begitu juga sekolah itu, “sakit” dalam membuat peraturan. Pelayan administrasinya pun “sakit”. Karena Amelia mengigikuti arus pelayanan publik yang “sakit”. Hingga ia pun merasakan kesakitan itu.

Seterusnya, jati diri Amelia menolak, tubuhnya mengeluarkan muntah, sekujur tubuhnya kejang-kejang, mendekam, dirumah sakit yang sengaja mengundangnya untuk sakit. Amelia terbaring, lumpuh setengah badan. Vaksin Amelia pun terus berlanjut. Jagat raya informasi berwarna, masyarakat tersentak sembari mengucapkan “gimana ni?”, “vaksin oh vaksin”. “setelah begini, siapa yang bertanggung jawab?”.

Apa yang dialmi Amelia bukan bagian dari menolak vaksinasi. Ini adalah prestasi kebijakan konyol dari sebuah sekolah yang dipimpin oleh seorang guru besar, berlagak bak rektor, ingin jadi menteri, tapi jejak altruismenya masih dipertanyakan oleh publik. Sebab ia terlibat dalam pembangunan tembok “Berlin”. Namanya juga disebut dalam kasus keistemewaan gubernur, ia gencar bicara kualitas pendidikan. Sungguh ia memang sosok orang yang sukses. Sukses untuk menyelesikan catatan pinggir yang usil ini. Cukup. Lanjut cerita vaksin Amelia.

Di balik Amelia, ada peristiwa kemanusiaan. Ada ketimpangan pelayanan. Ada keapatisan generasi muda yang sama-sama mempertontonkannya tanpa ada sikap untuk mengevaluasi kebijikan. Menolak adanya Amelia-Amelia baru, yang jelas ini bukanlah sebuah kecelakaan medis, tapi ini adalah potret pelayanan publilk yang akut, mulai dari hasrat pembuatan kebijakan, hingga tradisi birokrasi yang dihadapi wong cilik.

Amelia tak lumpuh, ia hanya diam sejenak, berbaring dalam diam, sesekali ia merenungkan beberapa hal yang membuatnya seperti itu bukanlah karena ia tak taat aturan. Melainkan ia terkapar karena peraturan. Dari Amelia kita banyak mengambil pelajaran. Mulai pelajaran bagi pembuat kebijakan yang ugal-ugalan, hingga pelayanan publik yang tak ubahnya dengan lari obor. Kebijakan klasik, tak mampu menerobos kebijakan yang bersifat berlapisan rekomendasi. Di era kenormalan baru pun masih berlaku rekomendasi bertahap-tahap. Di era memperkuat inovasi pun masih mempertanyakan sertifikat. Cerita vaksin memang bukan sekedar soal medis, tapi juga mampu membuka kotak pandora kebrobrokan manusia di dalamnya.

Dari Amelia, pejabat, dan pelayanan publik seharusnya dapat mengambil pelajaran. Bahwa tidak semua manusia dapat diperlakukan secara sama dan merata, ini masih problem ketimpangan keadilan. Demikian halnya pelayanan berbasis presisi yang dilayani harus dijadikan kesadaran bagi siapapun yang menjadi aktor pelayan publik. Ingat, “pelayan” publik. Bukan majikan, sekali lagi bukan majikan.

Jalan persimpangan Amelia pun telah dilewatinya, ia berusaha untuk memilih semua jalan yang disodorkan padanya, namun dari dalam dirinya membunyikan lonceng jeda. Dirinya memberontak karena kecongkakan pola administrasi yang harus di laluinya. Tentu Amelia sudah memafkan, memafkan apa yang telah dilaluinya sebagai takdir baik, senantiasa pula membaikkan kondisi birokrasi negeri dalam menghadapi pandemi.

Dari Amelia pula kembali mengingatkan kita bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati, mengevaluasi bukan barati membenci. Yang sudah terjadi jangan sempat terulang kembali. Amelia sudah menjadi saksi. Terima kasih Amelia, sementara waktu memang anda sedang sakit, semoga cepat pulih, meski kondisi negeri terus menjadi-jadi dengan praktik pilihan administrasi yang menimpamu.

Tragedi vaksin Amelia terus melahirkan sintesa baru di kalangan masyarakat, yang seharusnya masyarakat Aceh siap untuk divaksin, justru kehadiran Amelia di jagat media membuat yang lain berfikir dua kali ketika ingin divaksin. Pertama, soal siapa yang melakukan vaksin? Kedua, bagaimana potensi vaksin ketika mendekam di dalam dirinya? Efek Amelia dari daerah barat bukan menggiring kita untuk mencari siapa yang benar atau siapa yang salah. Tetapi sejauhmana kita mampu melakukan langkah mitigasi sebelum menciptakan kebijakan.

Jangan sempat niat untuk menyelamatkan manusia jutrus mengundang kecelakaan manusia, atau seiringan berjalannya waktu, dibalik semangat kita melakukan vaksinisasi, terus menampilkan sosok-sosok manusia celaka akibat tak meresapi tragedi kemanusiaan di sekitar kita. Demikianlah cerita vaksin Amelia, sebuah vaksin kemanusiaan dari seorang mahsiswa semester akhir yang menggugah kita dan pejabat kita. [ ]

Previous Post

Kakankemenag Aceh Tamiang Lantik Dua Kepala KUA

Next Post

DPRK Pijay Target Rampungkan Tiga Prolegda 2021

Next Post

DPRK Pijay Target Rampungkan Tiga Prolegda 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Polres Aceh Tenggara Gagalkan Peredaran 17,8 Kilogram Ganja

Polres Aceh Tenggara Gagalkan Peredaran 17,8 Kilogram Ganja

28/03/2026
Korban Banjir di Pantan Cuaca Cuma Butuh 2 Hari Perbaiki Mandiri Jembatan Rusak

BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Lhokseumawe

28/03/2026
Mudik Lebaran, Jalur Banda Aceh–Medan Disesaki Pemudik Sejak Sahur

Dishub Aceh: Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026 Berjalan Aman dan Lancar

28/03/2026
PW APRI Aceh Jalin Silaturahim Lebaran dengan Kakanwil Kemenag

PW APRI Aceh Jalin Silaturahim Lebaran dengan Kakanwil Kemenag

28/03/2026
Dua Hektare Lahan di Montasik Dilalap Sijago Merah

Dua Hektare Lahan di Montasik Dilalap Sijago Merah

28/03/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

Truk Hauling LKT Hantam Becak Motor, Satu Nyawa Melayang

Prof Saifullah Resmi Mendaftar sebagai Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030

Teungku Muhammad Nur: Aktivis Dayah Jadi Direktur di PT PEMA

Jadi Daerah Basis Mualem-Dekfadh, Anggaran Dayah untuk Aceh Utara Kalah Jauh dari Bireuen di APBA 2026

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com