LAUT biru terbentang luar sejauh mata memandang di sisi kanan jalan. Sedangkan barisan perpohonan menjulam tinggi bak permadani alam.
Hempasan ombak terdengar dari jalan. Lambaian angin sepoi-sepoi cukup membuat siapapun terbuai dengan nyaman.
Ada pergunungan di sini kiri jalan. Suasana terasa tenang dan nyaman.
Tak ada suara klakson mobil yang diakibatkan kemacetan yang panjang. Senyum ramah warga menyapa sepanjang perjalanan.
Suasana ini amat terasa di Negeri Tuan Tapa. Nama terakhir adalah legenda yang berkembang di daerah yang bernama asli Aceh Selatan ini. Bagi warga Aceh, nama salah satu kabupaten tertua di pesisir barat selatan Aceh ini tentu bukanlah sesuatu yang asing terdengar di negeri Serambi Mekkah ini.
Sebelum 2000-an, Aceh Selatan sebenarnya merupakan salah satu kabupaten terluas di Aceh. Daerah ini dikenal sebagai penghasil buah pala terbaik serta keindahan alam yang memanjakan mata.
Namun Aceh Selatan pada 10 April 2002 resmi dimekarkan sesuai dengan UU RI Nomor 4 tahun 2002 menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Aceh Selatan.
Aceh Selatan terdiri dari beberapa kecamatan. Kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak adalah Kecamatan Labuhan Haji, diikuti oleh Kecamatan Kluet Utara. Sementara jumlah penduduk tersedikit adalah Kecamatan Sawang. Sebagian penduduk terpusat di sepanjang jalan raya pesisir dan pinggiran sungai.
Tak diragukan lagi, Aceh Selatan merupakan salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan.
Salah satunya yang paling dikenal adalah Tapak Tuan Tapa. Lokasi ini menjadi ikon daerah yang dikenal dengan kota naga ini.
Keberadaan tapak Tuan Tapa ini terletak di kaki Gunung Lampu, ini menjadi daya tarik wisatawan. Untuk berkunjung ke sana memang tidak mudah. Pengunjung harus melewati batu karang beragam ukuran.
Konon, dahulu kala, ada seorang sakti mandraguna yang tinggal di Aceh Selatan dan mampu bertarung dengan Naga. Akibat pertarungan tersebut, tapak kaki Tuan Tapa membekas di pesisir laut dan menjadi objek wisata hingga kini.
“Biasa nya, warga yang datang ke sini di akhir pekan dan hari libur,” kata Ibrahim, 45 tahun, salah seorang warga di lokasi wisata Tapak Tuan.
Menurutnya, wisatawan yang datang, kebanyakan untuk berfoto di area telapak kaki tersebut.
“Namun jika sedang air pasang, susah karena lokasinya agar berombak. Jadi kalau sedang air pasang, warga disarankan tak turun ke lokasi,” ujar Khaira, warga di lokasi wisata lainnya.
Selain Tapak Tuan Tapa, Aceh Selatan juga memiliki seribu pesona yang tak kalah eksotis.
Pantai Batee Puteh adalah salah satu destinasi pariwasata yang terletak di Kabupaten Aceh Selatan Aceh
Nama pantai Batee Puteh dipakai untuk pantai indah yang berada di bagian barat pulau Sumatera ini.
Oleh masyarakat sekitar desa Suak Ujong Kalak, arti bahasa Indonesia dari pantai Batee Puteh berarti pantai batu putih. Nama pantai Batee Puteh berasal dari legenda, dahulu di bibir pantai terdapat sebuah batu besar berwarna putih yang berkilaukan cahaya putih.
Konon, Teuku Umar Johan Pahlawan dikabarkan sering beristirahat di atas batu putih tersebut, lalu ditembak oleh penjajah Belanda.
Lokasi ini berada di Desa Lhok Aman, Meukek, Kabupaten Aceh Selatan.
Kemudian, lokasi yang tak kalah menarik lainnya adalah Pantai Bidari atau Pantai Bidadari.
Ada banyak mitos seputar penamaan pantai dengan nama bidadari ini. Namun lokasinya yang indah dinilai setara dengan nama bidadari.
Pantai Bidadari terletak di kecamatan Samadua ini. Perpaduan pasir pantai yang putih bersihkan dengan keindahan birunya laut serta bebukitan yang mengelilinginya membuat pantai ini benar-benar terlihat eksotis.
Tak jauh dari lokasi pantai ada sebuah air terjun yang mata airnya berasal dari gunung yang dijadikan kolam pemandian alami. Keindahan alam pantai ini amat sayang untuk Anda lewatkan jika berkunjung ke Aceh Selatan.
Apalagi fasilitas di tempat wisata ini terbilang cukup baik. Terdapat jejeran warung makan yang menjual makanan khas laut yang enak-enak. Mulai dari ikan, udang hingga kepiting yang dimasak dengan bumbu khas Aceh tentunya akan menggoyang lidah Anda.
Wakil Ketua DPRK Aceh Selatan, Adi Samridha, mengatakan daerahnya tersebut memang memiliki pesona yang luar biasa di bidang pariwisata. Sayangnya, belum tergarap secara optimal.
“Aceh Selatan memiliki potensi wisata yang luar biasa. Ini seharusnya digarap secara optimal untuk mendatangkan PAD bagi daerah,” kata mantan aktivis mahasiswa.
Menurut Adi, pengembangan wisata tak melulu memiliki konotasi negative. Karena wisata juga bisa berjalan beriringan dengan penegakan syariat Islam. Pengembangan wisata juga membangkitkan ekonomi masyarakat di pesisir.
“Kalau soal wisata, Aceh Selatan itu tak kalah cantik dengan Sabang dan Bali. Ini tak berlebihan. Hanya saja, belum digarap secara optimal,” kata politisi PA ini lagi.

Tulisan ini merupakan hasil kerjasama antara Dinas Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata di Aceh.










