BANDA ACEH – Pengadaan armada pemadam kebakaran yang diperuntukan untuk Pemko Banda Aceh sempat menghebohkan public Aceh pada akhir 2014 lalu.
Konon, mobil yang dibeli oleh Pemerintah Aceh melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) ini dapat memadamkan api meski tanpa ada petugas di atas tangga.
Ini yang digembar-gempor saat awal pembelian.
Ya, mobil pemadam kebakaran modern yang dirakit dengan menggunakan Chassis Volvo dari Swedia resmi diserahkan pada Pemerintah Kota Banda Aceh di depan kantor Gubernur Aceh, 7 Desember 2014 lalu.
Pada saat penyerahan, juga digelar demontrasi menyemprotkan air dari ketinggian sekitar 33 meter. Semua yang hadir tepuk tangan yang meriah saat itu.
Armada Damkar tersebut dilengkapi tangga lipat dan kamera CCTV sebagai water monitor di ujung tangga.
Dijelaskan pula bahwa Damkar tadi memiliki spesifikasi mesin kendaraan 370 HP, 6X4R, 11.000 CC, dan dilengkapi sistem komputerisasi canggih. Untuk material tangga dibuat dari baja berkekuatan tinggi yang diimpor dari Amerika.
Selain itu, mobil pemadam tersebut juga dilengkapi pompa pemadam yang dibuat di Amerika dengan kapasitas pompa maksimal 5000 liter per menit dan berkekuatan semprot sampai 30 bar. Mobil ini dilengkapi dengan tangki air 1.500 liter dan tangki foam 500 liter untuk pemadaman air dan busa.
Namun semua ‘kehebatan’ tadi hanyalah uraian di atas kertas belaka.
Usai pembelian, masalah demi masalah mulai terbongkar satu persatu. Masalah pertama adalah dugaan korupsi dalam pengadaan Damkar canggih tersebut.
Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh menahan 4 tersangka yang diduga terlibat dalam kasus dugaan mark up pengadaan Damkar sejak 2017. Kemudian, Damkar ini disita hingga adanya putusan dari Mahkamah Agung pada 2018 untuk mengembalikan Damkar ini pada Pemko Banda Aceh sebagai penerima.
Sebelumnya, Damkar ini sempat berstatus pinjam pakai.
Bagaimana soal kehandalan di lapangan? Nah itu juga masalah selanjutnya.
Kehandalan Damkar canggih ini pernah diuji coba saat kebakaran kantor Bank Aceh di samping Dinas Pendidikann Aceh beberapa tahun silam. Namun hasilnya jauh dari harapan.
Damkar ini hanya bisa menyemprot air beberapa menit dan kemudian tak bisa berbuat apa-apa. Ia kemudian hanya berfungsi sebagai sensor bagi Damkar lainnya. Imbasnya, keberadaan Damkar ini mendapat cemoohan dari sejumlah warga Aceh saat kebakaran Bank Aceh berlangsung saat itu.
Usai kebakaran Bank Aceh, Damkar canggih tadi lebih banyak di-parkir-kan. Hanya sekedar pajangan semata. Damkar ini kemudian juga dilaporkan ‘rusak’ dan jarang diturunkan dalam musibah kebakaran di Banda Aceh.
Damkar ini tak lebih sebagai pajangan belaka.
Terbaru, ia juga juga dilaporkan rusak saat kebakaran Suzuya Mall di Banda Aceh.
Sudah mahal sering rusak pula.










Mau bagaimana lagi…impian tidak seindah kenyataan..seiring perkembangan zaman..sudah mulai ada gedung yang lumayan tinggi..tpi tidak di dukung oleh alat damkar yang canggih dan dapat dioperasikan.terimakasih untuk petugas damkar banda aceh dalam menangani kebakaran suzuya mall banda aceh.terimakasih
Pemerintah aceh hanya pandai buang buang uang alias mubazir padahal sebelum kontrak pengadaan barang musti ada tim ferifikasi layak tidak barang dengan harga barang ada surat perintah kerja dan ada surat selesai kerja yg di berikan kpd rekanan oleh tim ferifikasi kontrak pengadaan barang yg sdh di teliti betul betul dengan jujur dan tanggung jawap dengan memakai teknisi dalam dan luar negeri kerena itu produk luar negeri supaya uang negara tidak mubazir agar bisa di pergunakan ke bidang2 yg lain yg sangat membutuhkan .