Oleh Muhammad YS. Penulis adalah mahasiswa pascasarjana UIN Ar-Raniry Jurusan Ekonomi Syariah dan Juga Pemerhati Sosial yang berdomisili di Sigli, Pidie.
Menyongsong era digitalisasi, online, dan serba cepat. Penyesuian diri dalam membaca keadaan zaman sangat penting untuk dilakukan. Terlebih pemuda sebagai “next generation” yang akan bergelut dengan dunia baru ini.
Bagi generasi Z dan generasi milenial, era digital adalah ruang kehidupan kedua, dan platform di mana semua ekspresi berkecimpung di dalamnya. Bicara pendidikan, sosial, ekonomi, informasi, komunikasi dan cakupan lainnya, semua dikemas dalam alam maya.
Generasi Z adalah penduduk yang lahir pada kurun tahun 1997-2012, sementara generasi milenial lahir pada rentangan tahun 1981-1996. Generasi Z lahir dan tumbuh diantara perkembangan teknologi sehingga sejak usia dini sudah beradaptasi dengan teknologi digital. Sedangkan generasi milenial lahir dan dibesarkan pada masa peralihan, di mana generasi milenial harus beradaptasi dengan teknologi digital di tengah perkembangan hidupnya.
Bicara Gen Z dan milenial, tentu arahnya adalah pemuda. Generasi produktif yang hidup di saat ini. Mau dibawa ke mana arah bangsa ini, tentu jawabannya ada di tangan pemuda, sejauh mana pemuda ini berkiprah dalam menatap kiblat masa depan. Terlebih harapan kepada generasi muda semakin besar lantaran pada 2030 Indonesia akan menikmati bonus demografi. Pada era ini komposisi penduduk Indonesia didominasi usia produktif.
Lalu sudah siapkah pemuda di Aceh?
Untuk menjadi sosok pemuda yang produktif, tentu harus diikuti dengan proses pendidikan yang matang dan juga power ekonomi yang siap.
Bila tingkat pendidikan masih rendah dan daya saing ekonomi masih lemah, maka kita gagal menghadapi fase yang satu ini. Bicara ekonomi dan pendidikan merupakan dua mata sisi yang sangat urgensif, bila ekonomi itu seperti bara api maka pendidikan laksana embun.
Berbicara ekonomi dan bisnis, kita sebagai umat Islam tentunya sangat melekat dengan sistem satu ini. Baik dalam Al-Qur’an maupun kisah perjalanan Rasulullah SAW itu sendiri.
Pada usia 12 tahun, Nabi mulai belajar berdagang bersama pamannya Abu Thalib ke negeri Syam untuk berdagang. Perjalanan bisnis pertama yakni mengunjungi negeri Suriah, Jordan dan Lebanon. Kemudian pada usia 17-20 tahun, Nabi Muhammad SAW bersaing dengan pebisnis senior tingkat regional. Namun demikian, mitra-mitra bisnis Nabi mengaku Beliau matang dalam perhitungan, jujur dan profesional.
Sehingga keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis mampu memberikan mahar kepada Khadijah sebanyak 20 bakrah, yang dimaksud dengan bakrah adalah unta yang muda betina. Anggaplah harga seekor unta sedikit di atas harga sapi, misalnya 30 juta rupiah seekor. Maka setidaknya nilainya menjadi kurang lebih 600 juta rupiah.
Dari perjalanan Rasulullah SAW setidaknya menjadi contoh bagi kita pemuda untuk mempunyai karakter semangat bekerja sejak usia muda, dan membangun kekuatan ekonomi mandiri.
Hari ini masalah ekonomi adalah momok dan belenggu yang sangat menghantui pemuda, terlebih Aceh selalu disedori data sebagai daerah termiskin di Sumatra. Ini tentunya warning bagi pemuda untuk tidak menghabiskan waktunya sia-sia.
Problem ini mengingatkan penulis dengan pesan yang dulunya pernah disampaikan oleh Allahyarham Prof Farid Wajdi Ibrahim dalam suatu momentum, beliau mengatakan:
“Di dunia ini hanya di Aceh 80 persen generasi muda duduk di cafe siang dan malam. Ini musibah yang lebih besar dari bom atom”.
Karena itu, Prof Farid Wajdi selalu mengharapkan para sarjanawan agar tidak menjadi pengemis intelektual dan menghabiskan waktu sia-sia tanpa berbuat untuk pengembangan diri yang lebih baik dan berguna untuk dirinya dan daerah.
Ini bukanlah suatu hal yang kebetulan beliau sampaikan, tentu berdasarkan fakta dan fenomena yang bisa kita perhatikan. Kecenderungan menghabiskan waktu secara percuma telah menjadikan mereka candu dengan hal yang tidak produktif.
Para generasi muda sebenarnya memilki kekuatan (strength) yang mumpuni untuk mengembangkan dan meningkatkan perekonomian. Para pemuda memiliki modal yang besar yaitu mempunyai ide-ide kreatif dan inovatif yang kemudian dapat direalisasikan dalam perindustrian. Para pemuda di era digital ini juga memiliki kelebihan yaitu dapat menguasai teknologi dan hal tersebut dapat dikolaborasikan dengan ide-ide kreatif yang mereka miliki.
Di sinilah peran pendidikan menunjang proses ide-ide pemuda dalam membentuk karakter pejuang, sekaligus memberi arah bagi mereka untuk menemukan jatidirinya. Pendidikan memang tidak menjamin kesuksesan seseorang, namun pendidikan mampu mengubah karakter dan pandangan.
Oleh karenanya pemuda, ekonomi dan pendidikan adalah aset yang sangat penting dalam menunjang arah masa depan. Baik acuannya sebagai individu maupun masyarakat luas. Sudah saatnya kita pemuda “turi droe dan tusoe droe”, jangan terbelenggu oleh kultur malas yang menjadi penyakit jiwa. Lebih baik menjadi harimau satu kali saja, daripada menjadi kambing selamanya.
Dari air kita belajar ketenangan, dari batu kita belajar ketegaran, dari kupu-kupu kita belajar berubah lebih baik dan dari padi kita belajar rendah hati.
![[Opini] Pemuda, Ekonomi dan Pendidikan](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2022/04/IMG_20220205_171333-720x375.jpg)









