Jakarta – Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa jika Amerika Serikat memutuskan untuk memasok Kyiv dengan rudal jarak jauh, itu akan melewati “garis merah” dan menjadi “pihak dalam konflik” di Ukraina.
Dalam briefing pada hari Kamis, 15 September 2022, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova menambahkan bahwa Rusia berhak untuk mempertahankan wilayahnya.
Washington telah secara terbuka memasok Ukraina dengan sistem roket peluncuran ganda terpandu (GMLRS) canggih, yang ditembakkan dari peluncur sistem roket artileri mobilitas tinggi (HIMARS) dan yang dapat mencapai target hingga 80 km (50 mil) jauhnya.
“Jika Washington memutuskan untuk memasok rudal jarak jauh ke Kyiv, maka itu akan melewati garis merah, dan akan menjadi pihak langsung dalam konflik,” kata Zakharova, sebagaimana dikutip Aljazeera, Jumat, 16 September 2022.
Para pejabat AS mengatakan Ukraina telah berjanji untuk tidak menggunakan roket AS untuk menyerang Rusia.
Peluncur HIMARS juga dapat digunakan untuk menembakkan rudal taktis ATACMS jarak jauh, yang dapat memiliki jangkauan hingga 300 km (186 mil). Seorang pejabat senior Ukraina pada 19 Agustus menolak untuk mengatakan apakah Kyiv sekarang memiliki ATACMS.
Belum ada penjelasan publik lengkap tentang serangan pada 9 Agustus yang menghantam pangkalan udara Rusia di Saky, sekitar 200 km (124 mil) dari wilayah terdekat yang dikuasai Ukraina, di Semenanjung Krimea, yang dianeksasi Moskow pada 2014 dalam sebuah langkah yang tidak diakui oleh masyarakat internasional.
Ukraina telah meminta dan menerima sejumlah besar senjata dari AS dan sekutu Barat lainnya untuk membantunya melawan angkatan bersenjata Rusia yang dikirim ke Ukraina pada Februari.
Moskow mengatakan telah mengirim pasukan untuk mencegah Ukraina digunakan sebagai platform untuk agresi Barat dan untuk membela penutur bahasa Rusia. Kyiv dan sekutu Baratnya menolak argumen ini sebagai dalih tak berdasar untuk perang agresi gaya kekaisaran.
Bulan lalu, AS mengumumkan US$ 3 miliar dalam bentuk bantuan militer baru ke Ukraina – satu-satunya paket bantuan AS terbesar untuk Ukraina sejak invasi Rusia. Secara total, AS telah berkomitmen sekitar US$ 10,6 miliar dalam bantuan keamanan ke Ukraina sejak awal pemerintahan Presiden AS Joe Biden pada Januari 2021, menurut kantor berita Reuters.











