BLANGPIDIE — Lembaga Forum Jurnalis Aceh (FJA) Wilayah Aceh Barat Daya (Abdya) memberikan apresiasi kepada Bupati Abdya, Dr. Safaruddin, S. Sos MSP atas raihan memecahkan dua rekor dunia dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam satu kegiatan sekaligus.
Dua rekor MURI ditorehkan pemerintah daerah dan masyarakat Abdya pada kegiatan yang bertajuk “Meuseuraya Toet Lemang” yang digelar di bantaran sungai Krueng Beukah, Desa Lhung Asan, dan Lhung Tarok, Kecamatan Blangpidie, Sabtu (25/04/2026).
Ketua FJA Abdya, Rusman melalui Sekretaris Salman Syarif mengatakan, capaian prestasi memecahkan dua rekor dunia dalam satu kegiatan sekaligus merupakan hal tidak mudah.
Ia menilai, rekor dunia MURI yang diukir masyarakat Abdya pecah dalam setengah hari, lantaran kerjasama yang apik antara pemerintah daerah bersama unsur Forkompimda, masyarakat dan seluruh pihak yang telah terlibat.
“Luar biasa, sangat spektakuler, tercatat dalam sepanjang sejarah, Abdya mampu menyabet gelar rekor dunia dari MURI dalam satu kegiatan yang berlangsung setengah sehari,” ujar Salman.
Salman menyebut, pemerintah daerah Abdya memasukan agenda bakar 15 ribu batang lemang dan menyajikan 34 ribu bungkus tape sebagai makanan pelengkap dari kuliner tradisional itu adalah gagasan yang luar biasa.
“Kita ketahui masak lemang dan tape adalah tradisi budaya kita orang Aceh. Jadi, membakar lemang secara massal adalah ide yang sangat cemerlang. Artinya, pak bupati Safaruddin mampu menciptakan tradisi menjadi sebuah prestasi,” ungkap CEO Media Acehglobalnews.com itu.
Karena itu, ucap Salman, FJA Abdya, mengapresiasi gagasan pemerintah daerah Abdya dibawah kepemimpinan Bupati Safaruddin dan Wakil Bupati Zaman Akli atas pencapaian rekor MURI tersebut.
“Prestasi ini patut kita apresiasi, karena rekor MURI yang dicetak oleh masyarakat Abdya hari ini adalah upaya pemerintah untuk melestarikan kuliner tradisional Aceh agar tidak ditelan oleh perkembangan zaman,” kata Salman, yang turut didampingi Ketua FJA Rusman, Bendahara Robi Sugara dan Anggota Ade Al-Kausar.
Ia menambahkan, dengan kegiatan “Meuseuraya Toet Lemang” itu, tradisi masak lemang rakyat Aceh itu agar terus dikenal dan dilestarikan oleh generasi muda, khususnya generasi gen Z dan milenial hingga generasi-generasi Abdya selanjutnya.
Selain itu, lanjut Salman, event “Meuseuraya Toet Lemang” dan kegiatan-kegiatan lainnya yang menjadi agenda rangkaian HUT ke-24 Abdya juga menjadi momentum bagi para pelaku usaha kecil untuk mendongkrak perekonomian mereka.
“Kami lihat sangat ramai masyarakat kita yang menjual makanan dan minuman di lokasi acara, mulai dari pedagang keliling hingga pedagang dadakan yang antusias berjualan di sekitar lokasi kegiatan,” imbuhnya.
FJA, kata Salman, berharap agar event-event seperti ini terus berlanjut diselenggarakan oleh pemerintah daerah atau pihak-pihak lainnya dengan tujuan dapat menambah penghasilan masyarakat Abdya.
“Selama bang Safar menjabat Bupati Abdya dan sebelumnya ketika ia masih duduk di DPR Aceh, banyak sekali event-event besar yang terselenggara mulai dari event olahraga, pentas seni dan budaya, hingga sejumlah kegiatan lain yang menjadi rangkaian HUT ke-24 Abdya,” tuturnya.
“Dan kami berharap langkah ini terus berlanjut di masa kepemimpinan Bupati Safaruddin dan Wabup Zaman Akli. Sehingga perputaran uang terus meningkat di tengah masyarakat,” pungkas Salman.










