Oleh. Rusman
Hari itu, sekelompok anak-anak Desa Suak Nibong terlihat sedang mengerumuni sosok seorang pemimpin yang berkarakter dan visioner, muda bersahaja.
Saat itu pejabat daerah Kabupaten Aceh Barat Daya sedang melaksanakan agenda kedaerahan untuk mendukung penuh program ketahanan pangan.
Di persimpangan jalan Lhung Naga Ilee atau sejumlah warga setempat juga sering menamai jalan Lhung Padee Dara tepatnya di Desa Suak Nibong, Bupati Abdya dan juga sejumlah pejabat daerah sedang menghadiri kegiatan Tanam Perdana Musim Tanam Gadu (TP-MTG) tahun 2026.
Anak-anak yang mengenakan seragam merah putih itu terlihat girang gembira saat mendekati sosok lelaki berkulit eksotis yang mengenakan pakaian krem (khaki), menempel lencana Burung Garuda di dada sebelah kanan disela-sela kegiatan secara simbolis menanam padi perdana.
Pria muda itu adalah seorang Bupati Aceh Barat Daya yang bernama lengkap title Dr. Safaruddin, S. Sos MSP atau yang akrab disapa Dhien Kalon.
Tulisan Ini bukan hanya saja tentang bupati viral dan tener itu, namun jauh lebih penting terhadap rasa riang dan gembira sekelompok anak-anak SDN 3 Tangan-tangan yang menggambarkan psikologis positif fondasi penting untuk tumbuh kembang yang optimal, sejatinya anak yang ceria secara emosional lebih mampu beradaptasi, mengendalikan stres dan tumbuh menjadi individu yang percaya diri saat dewasa.
Disini sejenak kita selaku orang dewasa kembali mengenang masa-masa kecil sekaligus me-restart mekanisme koping alami yang sehat. Saat penat dengan rutinitas, bernostalgia membawa kenyamanan emosional. Ingatan ini membangkitkan rasa aman, kebebasan dan kepolosan. Ini adalah cara pikiran bawah sadar kita untuk beristirahat sejenak dari tekanan hidup.
Waktu kecil, cita-cita kita biasanya adalah profesi yang terlihat keren atau menyenangkan. Entah itu menjadi dokter, astronaut, pilot atau profesi populer lainnya seperti Bupati, Gubernur hingga Presiden. Demikian lah juga anak-anak Desa Suak Nibong itu saat ini, sebagian mereka pasti bercita-cita menjadi Bupati.
Dari sekelompok anak-anak tersebut terlihat secara psikologis ada yang ingin jadi pemimpin, salah seorang mengarahkan atau mengajak bupati untuk berphoto. Ada juga yang malu-malu tapi berani meminta materi seperti minta jajan pada bupati. Berani mencoba hal baru dan melihat kesalahan sebagai proses belajar memiliki mental yang tangguh tanpa takut gagal terlihat di gerak gerik mereka.
Anak desa itu lahir di antara sawah, hutan, dan laut. Mainnya becek, sekolahnya jalan kaki, tapi mimpinya nggak pernah pendek.
Banyak yang bilang “ngapain anak desa mimpi jadi Bupati?”. Padahal justru karena dia anak desa, dia paling paham. Dia tau rasanya nunggu mobil desa lewat jalan rusak. Dia tau capeknya orang tua jual hasil panen tapi harga jatuh. Dia tau sedihnya lihat teman berhenti sekolah karena biaya.
Kursi Bupati bukan kursi kerajaan, kursi itu amanah. Dan amanah paling pas dipegang orang yang dari kecil udah kenal getirnya hidup rakyat kecil.
Anak desa bercita-cita jadi Bupati itu bukan sombong. Itu bukti kalau demokrasi jalan. Siapa pun, dari mana pun, punya hak yang sama buat ngabdi. Yang bikin beda bukan asal-usulnya, tapi niatnya. Mau kerja buat rakyat, atau cuma buat kuasa?
Kalau dia duduk nanti, dia nggak akan lupa. Karena dia besar dari tanah itu. Dia main layangan di lapangan itu. Dia ngantri air di sumur itu. Jadi kebijakannya pasti berangkat dari rasa, bukan dari laporan.
Desa itu bukan batas. Desa itu pijakan. Dari sinilah pemimpin-pemimpin yang ngerti rakyat bisa lahir.









