Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Internasional

Dedengkot Apartheid Ini Tewas Ditikam Kurir yang Alami Gangguan Jiwa

redaksi by redaksi
11/06/2026
in Internasional
0
Dedengkot Apartheid Ini Tewas Ditikam Kurir yang Alami Gangguan Jiwa

Ilustrasi. (istockphoto/coldsnowstorm)

Jakarta – Kebijakan pemisahan warga kulit hitam dan kulit putih di Afrika Selatan, yang dikenal dengan apartheid, dibuat oleh Perdana Menteri Hendrik Verwoerd.

Dia adalah perdana menteri berkulit putih kelahiran Amsterdam, Belanda yang dilantik pada 1958.

Ayahnya adalah seorang pemilik toko dan seorang yang sangat religius yang memutuskan untuk pindah ke Afrika Selatan pada tahun 1903 karena simpatinya terhadap bangsa Afrikaner setelah Perang Afrika Selatan.

Keluarga Verwoerd menetap di Wynberg, Cape Town selama sepuluh tahun, setelah itu mereka pindah ke Bulawayo, Rhodesia di mana Verwoerd senior menjadi asisten penginjil di Gereja Reformasi Belanda.

Setelah empat tahun mereka kembali ke Afrika Selatan dan menetap di Brandfort, di Negara Bagian Oranye, seperti tercatat dalam laman sahistory.org.

Selama memimpin Afrika Selatan, dia memberlakukan kebijakan apartheid, sebuah sistem segregasi rasial membagi kelompok etnis di negara yang sangat merugikan warga pribumi.

Sebagai perdana menteri sejak tahun 1958, ia melembagakan sistem hukum rasis yang rumit yang memisahkan orang kulit putih, Afrika (Kulit Hitam), Kulit Berwarna, dan Asia, dan memindahkan orang kulit hitam ke reservasi terpencil.

Kebijakannya yang memandang rendah bangsa kulit hitam, diikuti dengan menangkap para pemimpin anti-apartheid seperti Nelson Mandela dan menjatuhkan hukuman penjara yang lama kepada mereka berdasarkan berbagai dakwaan.

Namun pada sore hari tanggal 6 September 1966, dalam sebuah acara Parlemen Afrika Selatan yang seluruh anggotanya berkulit putih, dia ditikam hingga tewas oleh seorang kurir bernama Demetrio Tsafendas, imigran Mozambik keturunan campuran Yunani dan sebagian Swazi.

“Itu adalah hari yang akan dikenang warga Afrika Selatan selama beberapa dekade mendatang. Pukul dua lewat seperempat, seorang utusan Parlemen tiba-tiba bergegas masuk ke ruangan. Dengan seragam resminya, ia pasti tidak banyak diperhatikan.”

“Tetapi kemudian utusan itu-yang kemudian digambarkan sebagai “seorang pria tinggi, kuat, berambut abu-abu berusia akhir 40-an”-mengeluarkan pisau dan menusuk Verwoerd empat kali di dada dan lehernya. Perdana Menteri itu terhuyung ke depan, darah mengalir deras dari tubuhnya. Pada saat rekan-rekan Verwoerd berhasil menangkap si pembunuh-seorang pria setengah Yunani, setengah Afrika-Amerika yang sakit jiwa bernama Dimitri Tsafendas-karpet sudah berlumuran darah. Verwoerd meninggal sebelum sampai di rumah sakit,” demikian catatan dari situs History.

Namun, Tsafendas bukan bertindak atas dasar protes terhadap apartheid. Dia mengalami gangguan jiwa hingga dikirim ke rumah sakit jiwa di dekat Johannesburg, tempat ia tinggal hingga kematiannya pada tahun 1999.

Meski sang arsitek telah tewas, kebijakan apartheid tetap dipertahankan oleh para penerus Hendrik hingga beberapa dekade kemudian.

Apartheid baru dihapuskan di Afrika Selatan pada tahun 1993. Salah satu sosok yang kemudian dibebaskan dari penjara adalah Nelson Mandela yang kemudian menjadi pemimpin Afrika Selatan pertama dari kulit hitam. Ia menjabat dari tahun 1994 hingga 1999.

Sumber: CNNIndonesia

Previous Post

HUT Pidie Jaya ke-19 Dipadukan dengan Tahun Baru Islam 1448 H, Pemkab Gelar Festival Islami dan Beragam Kegiatan Sosial

Next Post

Pangkalan Udara Israel Hancur Dihujani Rudal-rudal Iran

Next Post
Pangkalan Udara Israel Hancur Dihujani Rudal-rudal Iran

Pangkalan Udara Israel Hancur Dihujani Rudal-rudal Iran

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kwarcab Abdya Peringati Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026, Usung Tema Swasembada Pangan

Kwarcab Abdya Peringati Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026, Usung Tema Swasembada Pangan

12/09/2026
Penyaluran Jadup Korban Banjir Tahap Pertama Gelombang Satu di Aceh Timur Capai 99 Persen

Penyaluran Jadup Korban Banjir Tahap Pertama Gelombang Satu di Aceh Timur Capai 99 Persen

12/09/2026
Dinkes Banda Aceh Dampingi Penerapan LLTT di Gampong Jeulingke

Dinkes Banda Aceh Dampingi Penerapan LLTT di Gampong Jeulingke

12/09/2026
KUA di Aceh Besar Diserahterimakan, Layanan bukan Hanya Soal Asmara

KUA di Aceh Besar Diserahterimakan, Layanan bukan Hanya Soal Asmara

12/09/2026
K3SD Tapaktuan Gelar Bimbingan Teknis E-Raport bagi Guru dan Admistrator SD

K3SD Tapaktuan Gelar Bimbingan Teknis E-Raport bagi Guru dan Admistrator SD

12/09/2026

Terpopuler

Dedengkot Apartheid Ini Tewas Ditikam Kurir yang Alami Gangguan Jiwa

Dedengkot Apartheid Ini Tewas Ditikam Kurir yang Alami Gangguan Jiwa

11/06/2026

Ini Nama Nama Lengkap Pejabat UIN Ar-Raniry yang Baru Dilantik

Demam Foto Jadul AI Melanda Jagat Maya, Termasuk Abdya

Kwarcab Abdya Peringati Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026, Usung Tema Swasembada Pangan

Bupati Aceh Jaya Rotasi Empat JPT Pratama, Dorong Birokrasi Lebih Profesional

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com