MEUREUDU – Upaya membangkitkan sektor pertanian pascabanjir di Kabupaten Pidie Jaya terus diperkuat melalui Program Kemandirian Ekonomi Pesantren dalam kerangka Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Komoditas Beras 2026.
Program tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Ummul Ayman 3 Aceh bekerja sama dengan IPB University, Senin 8 Juni 2026.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi langkah penguatan ketahanan pangan berbasis pesantren, tetapi juga menjadi pintu masuk penerapan teknologi pertanian modern yang adaptif terhadap perubahan iklim di daerah yang tengah berupaya bangkit dari dampak bencana banjir.
Sekretaris Daerah (Sekda) Pidie Jaya, Munawar Ibrahim, mengatakan daerah yang sempat dilanda musibah banjir kini perlahan mulai bangkit dengan memanfaatkan potensi lahan pertanian sebagai kekuatan utama pembangunan ekonomi masyarakat.
“Pascamusibah banjir yang melanda Pidie Jaya, pelan-pelan daerah ini akan bangkit, tumbuh dan berkembang menjadi daerah yang tangguh. Dari lahan pertanian yang produktif, kita menanam harapan dan memanen masa depan,” ujar Munawar.
Sementara itu, perwakilan IPB University, Dr. Ahmad Junaidi, memperkenalkan varietas padi unggul terbaru 13S, yang disebut memiliki produktivitas tinggi sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.
Menurutnya, varietas tersebut memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari efisiensi penggunaan pupuk dan air, ketahanan terhadap kekeringan, hingga potensi hasil yang lebih tinggi dibanding sejumlah varietas yang saat ini banyak ditanam petani.
“Varietas 13S ini merupakan varietas cerdas iklim (smart climate). Selain produktivitasnya tinggi, kebutuhan pupuk dan airnya lebih hemat serta memiliki ketahanan terhadap kondisi kekeringan,” jelas Ahmad.
Untuk mendukung sistem budidaya yang lebih presisi, IPB juga memperkenalkan teknologi Automatic Weather Station (AWS) yang dapat diakses melalui telepon genggam. Teknologi tersebut memungkinkan petani memantau kondisi cuaca secara real time dan memproyeksikan perubahan iklim beberapa hari ke depan.
“Melalui AWS, petani dapat mengetahui unsur-unsur iklim dan mengantisipasi serangan hama, penyakit, kekeringan, maupun cuaca ekstrem sehingga langkah mitigasi bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.
Ahmad menjelaskan, varietas 13S merupakan varietas baru yang mendapat dukungan Kementerian Pertanian untuk disebarluaskan sebagai alternatif bagi petani yang selama ini bergantung pada varietas lama seperti Ciherang dan Inpari 32.
Berdasarkan deskripsi varietas, potensi hasil 13S dapat mencapai 11 ton per hektare, dengan produktivitas rata-rata sekitar 8,5 ton per hektare. Khusus untuk wilayah Pidie Jaya dan Bireuen yang dinilai memiliki potensi lahan kelas satu, produktivitasnya diyakini mampu melampaui rata-rata nasional.
“Pidie Jaya memiliki potensi yang sangat baik. Dengan dukungan teknologi dan manajemen budidaya yang tepat, produktivitas varietas ini bisa berada di atas rata-rata 8,5 ton per hektare,” ujarnya.
Ke depan, IPB juga mendorong pengembangan penangkaran benih di Pidie Jaya agar kebutuhan benih unggul dapat dipenuhi secara mandiri oleh daerah. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat adopsi varietas baru sekaligus mendukung program bantuan benih dari pemerintah pusat.
“Kami siap membawa benih sumber dan memberdayakan penangkar lokal untuk memproduksi benih di daerah. Apalagi Pidie Jaya baru mengalami musibah, sehingga layak mendapat perhatian khusus dalam program penguatan pertanian,” tambahnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, Muhammad Nur SP, MS.I, menyambut positif dukungan IPB dan Kementerian Pertanian. Menurutnya, pemerintah daerah siap menjadikan Pidie Jaya sebagai lokasi uji coba dan pengembangan varietas 13S.
“Kami sangat merespons positif dukungan dari IPB. Saat ini ada lahan yang sedang dipersiapkan dan dalam waktu dekat akan ditanami. Jika mendapat dukungan dari IPB dan Kementerian Pertanian, insya Allah varietas ini akan kita uji coba dan kembangkan di Pidie Jaya,” kata Muhammad Nur. SP.,MS.I. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya
Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari strategi pemulihan sektor pertanian pascabanjir sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah melalui penerapan teknologi modern, pengembangan benih unggul, dan pemberdayaan pesantren sebagai pusat ekonomi produktif masyarakat.[Mul]








