SEORANG pria muda berjalan santai. Dia memikul bungkusan besar di atas kepalanya. Lumayan berat. Beberapa kali, keseimbangannya terlihat terganggu dan kakinya goyah. Ia berhenti dan menarik nafas dalam-dalam dan kemudian melanjutnya perjalanan-nya.
Jarak antara rumahnya dengan meunasah, lokasi yang dituju, hanya belasan meter. Namun beratnya ‘bungkusan’ yang dia bawa membuat dirinya kerap berhenti selang beberapa meter.
Namun senyum menghiasi wajah pria muda tadi.
Sesekali ia tersenyum saat berpapasan dengan warga di jalan.
“Lon antar bu keu meunasah,” ujar dia.
Ia melambai kecil dan meneruskan langkah hingga ke meunasah. Di lokasi yang dituju, ada ratusan hidangan serupa yang diatur rapi di sana.
Hidangan ini diatur berdasarkan dusun tempat tinggal masing-masing.
“Keunoe laju jeut ta atur beuget. Jame ka rame katrok,” kata seorang pria lainnya yang berada di sana. Ia menyambut bungkusan tadi dan diletakan dengan hati-hati di antara bungkusan lain lainnya.
Suasana ini terekam pada perayaan molod di Desa Lamnga, Kecamatan Masjid Raya, pertengahan Oktober 2022 lalu.
Ya, bungkusan tersebut berisi nasi dan lauk pauk. Sesuai dengan tradisi di gampong tadi, setiap perayaan maulid nabi, masyarakat beramai-ramai membuat hidangan yang nikmat dan lezat untuk di bawa ke meunasah.
Nantinya, semua hidangan dari warga ini dikumpulkan menjadi satu dan dihidangkan kepada para undangan yang hadir dari berbagai gampong lainnya.
Ada juga yatim piatu dan masyarakat lainnya. Seusai salat Dhuhur, warga kemudian makan bersama.
Di Aceh, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dikenal dengan istilah “maulod atau molod“. Dalam kelender Aceh, molod dirayakan selama tiga bulan. Molod Awai, Molod Teugoh dan Molod Akhe.
Dalam perayaan maulid, momen ini menjadi sakral bagi masyarakat Aceh yang dalam kehidupannya sehari-hari melekat dengan nilai adat dan budaya. Maka tak heran apabila memasuki bulan Rabiul Awal, perayaan maulid Nabi terlihat sangat meriah.

Provinsi Aceh merupakan salah satu wilayah yang warganya kental dengan tradisi Islam. Pada ritual-ritual keagamaan, Bumi Serambi Mekkah ini memiliki tradisi unik dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Perlu diketahui, tradisi perayaan maulid di Aceh dengan kenduri besar. Bagi masyarakat yang mampu melakukan kenduri, maka akan berkenduri dan membagikan makanan kepada masyarakat lain yang berkumpul di meunasah-meunasah.
“Bagi masyarakat Aceh, jika tidak melakukan kenduri maulid merasa ada sesuatu yang kurang. Sehingga tidak mengherankan apabila pada bulan maulid masyarakat berbondong-bondong membawa makanan yang telah dimasak ke Meunasah,” kata M. Ali Ibrahim, seorang tetua gampong di Desa Lamnga.
Katanya, perayaan molod juga merupakan bagian dari membumikan pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Dimana, syariat Islam melekat dalam sendi-sendi tradisi dan budaya di Aceh. Salah satunya melalui perayaan molod.
“Ada nilai kebersamaan yang dibangun melalui tradisi molod,” kata dia.
“Kemudian juga menyantuni fakir miskin dan gotong royong. Dimana kita memuliakan hari-hari besar Islam dan mengingat hari kelahiran nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah islam,” ujar M. Ali lagi.
Yang paling penting, kata dia, setiap perayaan molod juga diadakan ceramah agama yang berisi tausiah tentang keagamaan.
“Dengan demikian, nilai-nilai syariah Islamnya akan melekat dalam kehidupan masyarakat. Syariah Islam bukan cuma milik Dinas Syariah Islam tapi juga milik seluruh masyarakat di Aceh,” ujar Bahktiar, warga lainnya.
Tradisi molod, kata dia, hanya sarana bagi warga untuk menguatkan indentitas Islam di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.
“Ini semacam tradisi untuk menguatkan pageu gampong. Sehingga generasi muda di tiap gampong berkewajiban untuk menjaga dan melestarikan budaya ini secara turun temurun. Bagaimana syariah Islam bisa berjalan kaffah di Aceh. Ini semua kita mulai dari gampong,” ujar dia lagil
Ustadz Muhammad Nasril, salah seorang dai kondang di Aceh menerangkan bahwa arti khanduri molod adalah melahirkan nilai positif, yaitu, ajang memperkuat silaturahim dan untuk perbaikan gizi dengan menu khas yang ada pada musim maulid, dan ini sangat dianjurkan Rasulullah SAW.
“Inti dari ihtifal maulid ini yaitu momen mengingat, mengatur kembali serta menata tentang kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Ini yang dimaksud sebagai ajang perbaikan ‘gizi’ spritual untuk lebih mencintai dan meneladani Rasulullah,” katanya seperti dikutip atjehwatch.com dari Republika.co,id.
Terkadang, kata Nasril, selama ini kita terus berjalan, tanpa mau mengikuti amalan-amalan dan perkataan-perkataan Rasulullah. Dengan adanya momen semacam ini, satu hikmah paling besar, kita jadikan muhasabah cinta kita kepada Rasulullah SAW dengan meneladani dan menjalankan sunahnya.
Melalui khanduri molod, umat Islam bisa merajut persaudaraan, merawat kebersamaan. Untuk itu bagi yang membolehkan merayakan khanduri molod, juga berbeda tata caranya sesuai dengan adat daerah masing-masing tak mesti dipermasalahkan.
“Ada sebagian daerah khanduri di masjid dan di meunasah, masyarakatnya membawa bu kulah, dan ada juga masyarakat membawa nasi kotak,” katanya.
Di samping para panitia mengundang desa tetangga, di sini juga sudah terbentuk silaturrahim antara satu gampong dengan gampong yang lainnya dan santunan anak yatim. Kemudian di rumah-rumah mengundang sanak famili, tetangga dan kerabatnya untuk berkenan hadir dan menyantap sedikit hidangan dari tuan rumah.
“Ini tentu hal yang sangat positif untuk menyambung dan mengikat silaturrahim. Kadang saudara yang jauh pun merapat utuk memenuhi undangan,” katanya.
Nasril yang juga penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kuta Malaka ini menyampaikan, yang perlu diketahui bahwa khanduri molod itu sebagai wasilah atau cara saja, karena berbeda generasi tentu berbeda cara mengungkapkan cinta kepada Rasulullah SAW.
“Namun, yang perlu diperhatikan, jangan sampai terjadi kemungkaran karena adanya acara-acara semacam ini,” katanya.
Misalnya, jangan sampai karena alasan menghadiri khanduri, seseorang malah meninggalkan sholat atau khanduri dijadikan ajang unjuk gengsi semata, dan hal-hal lain yang dilarang syariah.
“Kemungkaran yang mungkin terjadi tersebut, tentunya bertentangan dengan tujuan mulia dilaksanakannya khanduri. Hal ini perlu dihindari mereka yang menyelenggarakan khanduri molod,” katanya.
Jadi, sebetulnya kata dia, hakikat perayaan Maulid Nabi SAW itu merupakan bentuk pengungkapan rasa senang dan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini yang diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak, lalu diisi dengan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji sejarah dan akhlak Nabi SAW untuk diteladani, kemudian di akhir acara dilanjutkan dengan makan-makan bersama.
Ada suatu hal yang membuat sebagian orang menjadi ragu-ragu untuk merayakan peringatan maulid ini, yaitu ketiadaan perayaan semacam ini pada masa-masa awal Islam yang istimewa (alqurun al ula al mufadhalah).
Argumen ini, bukanlah alasan yang tepat untuk melarang perayaan itu, karena tidak ada seorang pun yang meragukan kecintaan mereka radhiyallahu ‘an hum terhadap Nabi SAW.
Namun, kecintaan ini mempunyai cara dan bentuk pengungkapan yang bermacam-macam. Tentu saja bentuk pengungkapan rasa cinta kita kepada Rasulullah, berbeda dengan para sahabat kala itu.
Berbahagia dan bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW merupakan ibadah, tapi cara pengungkapan kebahagiaan itu hanya merupakan washilah (sarana) yang diperbolehkan untuk dilakukan. Setiap orang dapat memilih cara yang paling sesuai dengan dirinya untuk mengungkapkan hal tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. EMK. Alidar, S. Ag,. M. Hum, mengatakan penegakan syariat Islam di Aceh harus masuk ke semua sendi-sendi kehidupan masyarakat di Aceh. Hal ini bagian dari membumikan pelaksanaan syariat Islam.
“Ini tugas kita semua. Sehingga syariah Islam menjadi kaffah,” ujar Dr EMK Alidar.
Tulisan ini merupakan hasil Kerjasama antara Dinas Syariat Islam Aceh dengan media atjehwatch.com.










