SIGLI – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sigli Periode 2022-2022 laksanakan Training Raya HMI Cabang Sigli tingkat nasional. Kegiatan dimulai 10 hingga 21 November 2022.
Ketua panitia pelaksana Arif Fadillah mengatakan kepada atjehwatch.com, bahwasanya Training Raya tingkat nasional meliputi Intermediate (LK-2), kemudian Latihan khusus Kohati (LKK) dan Senior Course (SC).
“Dari 85 peserta yang lewat jurnal / makalah / sindikat, hanya 59 yang mampu melewati screning tes 59 dengan rincian untuk peserta lk-2 sebanyak 33 peserta. Sementara untuk LKK sebanyak 13 peserta dan untuk SC sebanyak 13 peserta, yang akan dibina, digodok, digembleng sesuai pedoman perkaderan dan AD/ART HMI oleh tim Master Of Training (MOT) dan instruktur dari Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Sigli selama Satu Minggu lebih kurang,” kata ketua panitia Arif Fadillah.
Ketua Umum HMI Cabang Sigli Mohan Dinata dalam sambutannya, mengucapkan terimakasih Kepada seluruh donatur para kanda/yunda dan kader HMI yang telah berpartisipasi untuk menyukseskan acara Training Raya tingkat nasional yang dibuka langsung oleh PJ Bupati Pidie Ir. Wahyudi Adisiswanto yang diwakili oleh Asisten 3, Drs. Sayuti MM.
“Esensi perkaderan bagaikan mata air yang terus mengalir dan akan selalu diakan di HMI, apalagi training nasional merupakan tugas wajib bagi setiap pengurus cabang di setiap periodenya, semoga para peserta yang lulus srening tes bisa menyelesaikan forum training dan lulus semuanya,” ujar Mohan.
Sementara Kohati HMI cabang Sigli, Irma Suryani, mengatakan pilot projects latihan khusus Kohati (lKK) merupakan program turunan dari Kohati development Projects (KDP) Kohati PB-HMI perdana launching di Sigli.
“Kohati membentuk dasar kebijakan yang terformulasi secara integral dan komprehensif, sehingga kegiatan perkaderan pada tubuh Kohati dapat mengenai sasaran yang tepat didalam Pola Pembinaan Kohati yang tidak bertentangan dengan Pedoman Perkaderan yang ada di HMI,” ujarnya.
Setelah melalui berbagai LKK dan masukan mengenai perkaderan Kohati, maka Kohati PB HMI melakukan Research dan Development (RnD) kepada setiap Cabang agar mengetahui apa saja yang menjadi permasalahandi setiap cabangnya.
“Kohati hadir agar tujuan itu dapat terwujud segera dan dapat menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar, sepanjang hayat untuk semua khususnya untuk kader HMI-Wati.”
Kata dia, berkaca pada pengalaman dan sejarah panjang mengenai perjalanan HMI-wati selama ini, dirasakan bahwa semakin lama penjiwaan dan karakter HMI-wati produk pelatihan yang ada, semakin jauh dan “melenceng” dari arah perkaderan HMI lebih-lebih bila mengacu kepada niat awal pendirian Kohati.
Selain itu sangat terlihat bahwa proses perkaderan formal HMI- wati melalui pelatihan yang disebut LKK (Latihan Khusus Kohati tidak fokus karena kurang terarah, dan kurang terformat antara satu cabang dengan cabang lain.
“Setelah digelar Kohati Development Program, hasil dari kegiatan tersebut seluruh peserta telah menyusun Modul Perkaderan Khususnya untuk LKK. Modul tersebut sebelum terbit dan digunakan oleh seluruh Pengurus Kohati yang akan melaksanakan LKK masih menjadi Prototype,” ujar Irma Suryani.
“Harus diuji coba terlebih dahulu untuk melihat kekurangan dan kelebihan yang harus dimatangkan konsep yang sudah tersusun, maka Kohati PB berupaya untuk mewujudkan itu semua melalui Program Pilot Project LKK Di training Raya HMI Cabang Sigli.”
“Percontohan yang harapannya bisa menjadi Role Model Perkaderan untuk seluruh Kohati Cabang se-Indonesia setelah sukses nantinya di training latihan khusus (LKK) di HMI Cabang Sigli,” kata Irma.[Mul]








