Catatan Perjalanan Bersama UAS (Bagian 2)
SABTU malam pekan lalu, ribuan warga Aceh memadati taman depan Masjid Keuchiek Leumiek Kota Banda Aceh. Warga terlihat padat merayap mulai dari Simpang Surabaya Kota Banda Aceh hingga Jembatan Pango.
Warga mulai memadati lokasi usai magrib. Hal sebahagian kecil yang bisa menonton ceramah UAS dari depan panggung utama.
“Kami menonton dari jarak jauh saja. Bisa mendengar suara UAS saja sudah lebih dari cukup,” kata Nurlaila, warga Beurawe, Kota Banda Aceh.
“Bisa seperti ini sudah membuat kami cukup senang. Semoga UAS dan Syech Fadhil diberi kesehatan dan umur panjang oleh Allah Swt,” kata Firdaus, suami Nurlaila.
Ia dan keluarga mendengar ceramah UAS dari bantaran sungai Aceh di Beurawe. Lokasi ini berhadapan langsung dengan masjid Keuchiek Leumiek meski dipisahkan oleh Sungai Aceh.
Sedangkan Syech Fadhil yang dimaksud Firdaus adalah sosok senator DPD RI asal Aceh yang setia menemani UAS dalam sejumlah kegiatan di Aceh. Termasuk kali ini.
Di taman Masjid Keuchiek Leumiek, UAS juga didampingi oleh Bang Memed, putra dari almarhum Keuchiek Leumiek. Selain itu, juga ada coordinator UAS untuk Aceh, Ustadz Nazaruddin Yahya Lc dan Ketua IKAT Aceh Muhammad Fadhillah serta tim.
Tabligh akbar UAS di sana berlangsung hingga tengah malam. Rombongan UAS kemudian kembali ke penginapan di Kawasan Peuniti.

Minggu subuh, 25 Desember 2022, UAS dan rombongan bergerak ke Masjid Baiturrahim di Uleee Lhee, Kota Banda Aceh.
Salat subuh di Masjid Baiturrahmi juga dipadati warga. Usai salat subuh dilanjutkan dengan zikir bersama yang dipimpin oleh Ustadz Zul Arafah.
UAS yang tampil dengan peci Alam Peudeung ternyata mampu memukau warga Kota Banda Aceh yang datang dari berbagai lokasi.
Keberadaan UAS membuat subuh di Masjid Baiturrahim penuh. Warga Bahkan rela parkir kendaraan hingga ke pantai Ulee Lhee Banda Aceh.
“Ada warga yang datang sejak pukul 03.00 WIB,” kata Teungku Mustafa, seorang pengurus masjid setempat.
“Ini membuktikan kecintaan masyarakat terhadap UAS masih sangat tinggi,” ujar pengurus lainnya.
Para pengurus masjid ini bertindak sebagai keamanan selama acara berlangsung. Mereka berkerja sejak pukul 01.00 dini hari Minggu.
“Karena kami memang sudah yakin kalau jamaah yang datang luar biasa banyak. Jadi kami ingin memastikan jamaah bisa mendengar ceramah UAS dengan baik,” ujar salah seorang pengurus masjid setempat.
Usai ceramah, UAS dan rombongan awalnya dijadwalkan untuk sarapan pagi bersama pengurus masjid setempat di café depan Masjid Baiturrahim. Namun karena warga yang terus berdatangan dan memadati lokasi guna meminta bertemu dengan UAS mengakibatkan jadwal tersebut batal.
UAS kemudian kembali ke penginapan di Kawasan Peuniti. Rombongan ini kemudian memutuskan untuk sarapan pagi di penginapan.
Sekitar pukul 10.00 WIB, UAS dan rombongan melanjutkan perjalanan ke barat selatan Aceh untuk tabligh akbar.
Mobil yang kami tumpangi memimpin dari arah depan.
Di tengah perjalanan, Zuhri, anggota tim UAS Aceh menelpon Ustadz Syukran, guna dicarikan lokasi yang strategis di Kawasan Geurutee. Rencananya, UAS akan mampir di lokasi tersebut untuk sekedar melepas lelah serta menikmati pemandangan laut Aceh dari atas Geurutee.
Tim ‘perjuangan’ memilih lokasi yang cukup strategis. Pemandangan laut dengan gugusan pulau kecil serta lokasi parkir mobil yang lumayan luas. Ini untuk menghindari macet di Kawasan Puncak Geurutee.
Seorang ibu-ibu dan keluarga yang mampir di salah satu café Kawasan Puncak Geurutee menyapa penulis.
“Awak droneuh tim UAS peu?” tanya dia. Ia melihat peci Alam Peudeung di kepala penulis.
“Semalam UAS tampil di Masjid Keuchiek Leumiek dengan peci itu,” katanya lagi.
Ibu tadi mengaku berasal dari Aceh Barat. Ia dan keluarga hadir khusus ke Banda Aceh untuk menghadiri tabligh akbar UAS. Kini kerinduannya terhadap UAS sedikit terobati.
“Saat ini kami rencana balik ke Meulaboh karena UAS juga akan ceramah di sana. Ini singgah di sini untuk sekedar melepas lelah,” kata dia.
[Bersambung]










