Bireuen – Anggota MPR-RI M. Nasir Djamil mensosialisasikan perkembangan teknologi dan arus budaya populer saat ini diyakini dapat menggerus jati diri bangsa, bahkan seluruh jenjang generasi dapat terpapar budaya-budaya yang bertolak belakang dengan nilai luhur bangsa indonesia.
Menurut Nasir Djamil, Indonesia dengan kekhasannya, belakangan ini cenderung dilupakan. Carut marut dan polusi informasi dan polusi budaya mengacaukan konsentrasi, membenturkan pemahaman dan kegalauan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Untuk itu sudah saatnya kita kembali kepada landasan ideologis, konstitusi, komitmen kebangsaan serta semangat kesatuan dalam perbedaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang terangkum dalam empat pilar MPR RI, Keempat pilar tersebut yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” kata Nasir Djamil saat menyampaikan pandangan 4 Pilar Kebangsaan di Bireuem, Kamis (27/4/2023).
Katanya, nilai-nilai yang terangkum dalam empat pilar Kebangsaan yang digagas oleh founding father adalah prinsip patokan setiap warga negara dalam kehidupan sosial.
H Nasir Djamil yang juga anggota Komisi III DPR RI menyampaikan bahwa sosialisasi empat pilar ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni untuk rasa cinta tanah air, memiliki wawasan kebangsaan serta untuk memperkuat potensi integrasi bangsa seperti kerukunan antar suku, golongan dan lain sebagainya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Sosialisasi ini diformulasikan dalam bentuk edukasi, pendalaman materi dan pembelajaran sejarah yang diharapkan menjadi triger semangat cinta tanah air untuk membangkitkan kesadaran memperkokoh persatuan dan kesatuan berbangsa.
“Di Aceh sebagai daerah majemuk, hidup berdampingan dengan rukun dalam bingkai NKRI harus dijalankan, agar semakin indah keamanan, ketentraman, kenyamanan dan kedamaiannya,” katan Nasir Djamil.
Sosialisasi ini dihadiri oleh masyarakat lintas jenjang generasi yang difasilitasi Koalisi Masyarakat Peduli.[]










