BANGUNAN itu terlihat kokoh meski sudah tua. Dari pusat kota Banda Aceh, Masjid Tuha Indrapuri berjarak 24 kilometer ke arah jalan Banda Aceh menuju Medan di pesisir timur Aceh.
Memasuki kawasan masjid ini akan disuguhkan pemandangan segar dengan pepohonan rimbun.
Suara burung berkicau terdengar dari kejauhan.
Beberapa warga terlihat lalu lalang sepanjang jalan utama.
Bangunan berbentuk persegi empat dengan atap mengerucut tingkat tiga yang menjadi ciri khas masjid dipengaruhi budaya Hindu.
Untuk mencapai serambi masjid harus menaiki belasan anak tangga. Kemudian ada dua kolam di bagian depan yang airnya digunakan untuk membasuk kaki para jemaah yang akan melaksanakan salat dalam masjid.
Bangunan utama Masjid Tuha Indrapuri menggunakan konstruksi kayu, namun dindingnya beton yang disanggah tiang kayu yang masih kokoh.
Dari catatan, bangunan masjid berdiri di atas tanah seluas 33.875 meter, terletak di ketinggian 4,8 meter di atas permukaan laut dan berada sekitar 150 meter dari tepi sungai Krueng Aceh.
Beberapa pria terlihat sedang melaksanakan salat saat penulis mengunjungi masjid tua ini, pekan kedua Mei 2023 lalu. Ada juga yang terlihat merebahkan badan di sana. Sementara di sudut masjid, beberapa pria paruh baya terlibat pembahasan serius.
“Ini salah satu masjid bersejarah di Aceh. Dari kontruksinya, jelas bahwa bangunan ini awalnya berupa candi, tapi kemudian dialihkan menjadi masjid,” kata Muhibuddin, salah seorang penggiat sejarah Aceh yang datang bersama penulis ke lokasi.
“Ciri khas candi atap kerucut tiga tingkat,” kata alumni pendidikan sejarah ini lagi.

Ya, konon dari berbagai catatan disebutkan, bahwa Masjid Tua Indrapuri adalah sebuah bangunan bersejarah bekas Istana dan candi dari Kerajaan Lamuri sekitar abad ke-12 Masehi dan merupakan tempat pemujaan sebelum agama Islam masuk.
Dari berbagai sumber disebutkan, bahwa saat itu Kerajaan Lamuri berperang dengan pasukan bajak laut dari Tiongkok dan pada akhirnya perang dimenangkan oleh Kerajaan Lamuri atas bantuan Meurah Johan yaitu Pangeran dari Lingga, yang kemudian menjadikan Kerajaan Lamuri sebagai penganut Islam, tempat ini yang sebelumnya kuil diubah menjadi sebuah masjid.
Masjid Tuha Indrapuri merupakan satu dari sejumlah peradaban Islam di Tanah Rencong. Tak hanya itu, masjid yang berada di Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar ini juga saksi bisu kerajaan Hindu yang pernah ada di Aceh.
Kerajaan Lamuri adalah salah satu kerajaan tertua di ujung barat Pulau Sumatera, yang menjadi cikal bakal Kesultanan Aceh Darussalam.
Para ahli menduga, kerajaan yang terletak di Lamreh, Aceh Besar, ini telah berdiri sejak abad ke-8 atau ke-9. Sumber sejarah Melayu menyebut bahwa Lamuri awalnya bercorak Hindu, kemudian diislamkan sesudah Kerajaan Samudera, tetapi sebelum Kerajaan Pasai.
Secara umum, sumber-sumber sejarah Kerajaan Lamuri didapatkan dari catatan-catatan asing. Sumber asing menyebut Lamuri dengan banyak nama, seperti Ramni, Lambri, Lamiri, Ilamuridecam, Lan-wu-li, dan Lanli.
Sedangkan Hikayat Aceh mengeja Kerajaan Lamuri dengan l.m.ri. Berita tertua mengenai Lamuri berasal dari penulis-penulis Arab, di antaranya adalah Ibnu Khordadhbeh (844-848 M), Sulaiman (955 M), Mas’udi (943 M), dan Buzurg bin Shahriar (955 M).
Sementara berita China yang paling tua berasal dari tahun 960 M, yang menyebut bahwa Lamuri menjadi tempat singgah utusan-utusan Persia yang menuju atau pulang dari China. Pada 1025 M, Lamuri telah menjadi daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sesuai dengan informasi yang didapatkan pada Prasasti Tanjore (1030 M), yang memuat laporan ekspedisi Rajendracola Dewa I. Dari catatan Chau Yu Kwa (terbit pada 1225), dapat diketahui bahwa raja Lamuri belum beragama Islam.
Raja juga memiliki dua buah ruang penerimaan tamu di istananya, dan apabila bepergian akan diusung atau mengendarai seekor gajah. Di dalam Kitab Negarakertagama, disebutkan bahwa Lamuri telah menjadi negeri taklukan Majapahit.
Temuan artefak yang diteliti para ahli mengungkap Kerajaan Lamuri dulunya telah menjalin hubungan dagang dengan negeri-negeri asing, seperti China, Vietnam, Thailand, India, serta negara di jazirah Arab. Hubungan dagang dengan negeri asing tersebut didukung oleh letaknya yang sangat strategis, yakni di jalur perdagangan dunia.
Sedangkan dari berita-berita Arab, diketahui bahwa Lamuri adalah negeri penghasil kapur barus dan beberapa hasil bumi lainnya. Maka tidak heran apabila Lamuri banyak disinggahi kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia yang melakukan hubungan dagang dengan penduduknya. Laksamana Cheng Ho, Marcopolo, dan sejumlah nama lain diketahui pernah singgah di Lamuri. Laksamana Cheng Ho dalam laporannya menyebut bahwa Lamuri dapat ditempuh tiga hari dan tiga malam dari Kerajaan Samudera Pasai. Sedangkan Marco Polo, yang tiba di Pulau Sumatera pada 1292, mengungkap bahwa Lamuri tunduk kepada Kaisar China dan diwajibkan membayar upeti secara berkala.
Runtuhnya Kerajaan Lamuri Pada akhir abad ke-15, pusat Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Makota Alam (sekarang Kuta Alam), karena adanya serangan dari Pidie.
Sejak itu, Lamuri lebih dikenal sebagai Kerajaan Makota Alam, mengikuti nama ibu kotanya. Sedangkan Kerajaan Aceh, yang saat itu berpusat di Darul Kamal, lebih dikenal sebagai Kerajaan Aceh Darul Kamal. Dua kerajaan yang tidak pernah rukun ini hanya dipisahkan oleh Krueng Aceh atau Sungai Aceh.
Dalam Hikayat Aceh, diceritakan bahwa perseteruan dua kerajaan ini dapat diakhiri setelah Raja Syamsu Syah dari Kerajaan Makota Alam menjodohkan putranya, Ali Mughayat Syah, dengan putri Raja Darul Kamal. Namun, ketika diadakan arakan untuk mengantarkan mas kawin, Darul Kamal diserang hingga menyebabkan para pembesar dan sultannya tewas. Alhasil, Sultan Syamsu Syah menjadi penguasa atas dua kerajaan. Pada 1516, putranya, Ali Mughayat Syah, naik takhta dan memindahkan pusat kerajaannya ke Banda Aceh.
Sejak saat itu, dua kerajaan yang disatukan tersebut dikenal dengan nama Kerajaan Aceh Darussalam. Namun, beberapa ahli memiliki pandangan berbeda terkait runtuhnya Kerajaan Lamuri dan lantar belakang pendirian Kesultanan Aceh Darussalam.
Pandangan lain menyebut bahwa runtuhnya Kerajaan Lamuri adalah untuk menghentikan hegemoni bangsa Eropa yang menguasai perdagangan di Selat Malaka. Oleh karena itu, kerajaan-kerajaan di Aceh (termasuk Lamuri), memutuskan untuk bergabung menjadi satu kerajaan yang lebih kuat demi menghadapi bangsa penjajah.
“Dulunya di sini memang kerajaan Hindu,” kata Ismawardi, pria yang dipercaya menjadi penjaga Masjid Tuha Indrapuri.
“Jadi Lamuri itu terpisah dalam dua fase. Pertama Lamuri Hindu dan kemudian Islam. Nah, masjid ini adalah peralihan fase hindu ke Islam di Aceh,” katanya lagi.
Kata dia, menurut cerita turun-temurun, tempat masjid kuno ini berdiri dahulunya bekas candi dan juga pura yang dibangun oleh masyarakat Hindu yang menetap di Aceh sekitar tahun 600 Masehi.
Namun pada abad ke-7 masyarakat Hindu di daerah ini mulai memeluk agama Islam, sehingga pemeluk agama Hindu di kawasan ini semakin berkurang. Akhirnya pada abad ke-12, di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, bangunan candi itu dihancurkan dan dialihfungsikan menjadi masjid.
“Waktu orang Aceh di sini sudah masuk Islam, tidak ada lagi orang Hindu, diserahkan benteng ini ke orang Islam,” ujar Ismawardi.
Kini, kata Ismawardi, setelah beberapa abad berganti, Masjid Tua Indraputri masih berdiri dengan kokoh.
“Setiap hari, selalu ada warga yang singgah untuk salat atau berkunjung. Ada juga beberapa penulis dari Jakarta yang berkunjung ke sini,” tambah M. Jamil, tertua di Indrapuri, dalam wawancara terpisah.
“Biasanya paling ramai itu ketika Ramadan tiba. Seperti Ramadan lalu, ada banyak warga yang berkunjung ke Masjid Indrapuri,” ujar M. Jamil,
Masjid Indrapuri sendiri kini menjadi satu dari sekian banyak tempat menarik untuk wisata religi di Aceh.
Pemerintah Aceh, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, memang sedang gencar-gencarnya mempromosikan wisata islami di Aceh. Salah satunya adalah Masjid Tua Indrapuri.











