Oleh: Muhammad Riza
(CEO Futsaltainment Indonesia)
Man City baru saja merayakan keberhasilan mereka dalam memenangkan gelar juara Liga Primer Inggris untuk yang kesembilan kalinya. Mereka mengamankan gelar juara ini dengan meraih 88 poin dari 36 pertandingan dengan menyisakan dua pertandingan lainnya. Kekalahan Arsenal sebagai pesaing terdekatnya dengan skor 0-1 atas Nottingham Forest telah membuka karpet merah untuk merengkuh juara lebih awal bagi klub yang bermarkas di Etihad Stadium ini.
Pencapaian ini sangat mengesankan, terutama karena mereka berhasil meraih tiga gelar secara beruntun dalam tiga musim terakhir. Namun, keberhasilan yang luar biasa ini telah menimbulkan pertanyaan tentang kualitas dan daya saing dalam Liga Inggris yang mulai mendapat cibiran oleh sebagian penikmat sepak bola sebagai “Farmer League” atau “Liga Petani”.
Secara denotasi, istilah ini merujuk kepada sebuah liga sepak bola dimana pekerjaan utama pemainnya adalah petani yang kemampuan olah bolanya tidak lebih baik daripada pemain professional pada umumnya. Secara konotasi istilah ini sendiri sering digunakan oleh para penggemar sepak bola khusus dalam jagad maya untuk merujuk pada kompetisi yang dianggap kurang berkualitas di mana ada dominasi yang sangat kuat dari satu tim terhadap tim-tim lainnya, sehingga menciptakan kesan bahwa persaingan tidak seimbang.
Dalam kasus Man City, dominasi mereka dalam Liga Inggris selama beberapa musim terakhir ini telah memicu perdebatan tentang keadilan dan keseimbangan dalam kompetisi. Kemapanan The Citizen dalam dunia sepak bola saat ini bahkan merambah sampai kepada kompetisi yang mempertemukan para jawara liga Eropa lainnya dalam format Liga Champion.
Beberapa waktu yang lalu, mereka baru saja mengkandaskan langganan juara Champion Real Madrid dengan aggregat 5-1 untuk mengambil satu tike di final yang akan mempertemukan mereka dengan wakil liga Italia, Inter Milan yang telah lebih dulu menyudahi perlawanan rival sekotanya AC Milan dengan aggregat 3-0.
Di atas kertas, Inter Milan bukanlah lawan sepadan bagi Man City dengan kekuatan pemain seperti Erling Haaland yang saat ini menjadi top skor dengan torehan 36 gol dalam 34 penampilan dimusim perdananya di liga Inggris. Belum lagi pemain pendukung lainnya seperti De Bryune, Bernado Silva dkk yang telah fasih bermain dengan filosofi permainan menghibur ala Pep Guardiola.
Mayoritas pengamat bola saat ini memprediksi laga yang akan dihelat di Ataturk Olympic Stadium pada 11 Juni 2023 mendatang hanya berupa prosesi penyerahan gelar juara kepada klub yang bermakas di Etihad Stadium ini, kecuali Inter Milan saat ini yang dilatih Simone Inzaghi bisa meniru cara bermain Inter ala Jose Mourinho pada musim 2010 dengan cara memarkirkan ‘bus’ di depan area pertahanan mereka.
Kedigdayaan Man City saat ini ibarat anomali yang pada satu sisi mendongkrak populeritas liga Inggris sebagai liga terbaik dunia karena mampu menjadi magnet bagi sejumlah pemain dan pelatih kelas wahid, namun di sisi lainnya telah berperan dalam melemahkan persaingan dalam kompetisi. Sejatinya, kebangkitan Liga Inggris sebagai salah satu liga top Eropa jika ditarik kebelakang dimulai sejak kehadiran Roman Abramovich sebagai pemilik Chelsea pada tahun 2003. Sebelumnya pamor liga ini nyaris terhalangi oleh gemerlapnya liga Seri A Italia. Namun kepemilikan Chelsea di bawah Abramovich berhasil memboyong pelatih top seperti Jose Mourinho, yang saat itu baru saja membawa FC Porto meraih gelar juara Liga Champions pada musim 2003.
Chelsea tidak hanya mendatangkan pelatih kelas wahid, tetapi juga memperkuat tim dengan pemain-pemain bintang seperti Petr Cech, Carvalho, Lampard, Robben, dan Drogba. Dominasi Chelsea pada masa itu berimbas pada peningkatan nilai pasar Liga Primer Inggris, yang menggeser popularitas Liga Italia akibat skandal pengaturan skor Calcio Poli yang melibatkan klub-klub elit negeri Pizza seperti Juventus, AC Milan, Lazio dan Fiorentina.
Dalam perjalanan selanjutnya, estafet klub elit liga Inggris mulai bergeser ke kota Manchester, bukan Manchester United tapi ke klub lainnya yang identik dengan jersey biru langit yakni Manchester City. Diawali dengan akuisisi dari pemilik sebelumnya oleh mantan PM Thailand, Thaksin Shinawatra pada tahun 2007. Salah satu gebrekan transfer pemain yang sangat diingat saat itu adalah keberhasilannya membajak Robinho dari Real Madrid sebagai salah satu pemain muda yang digadang-gadang sebagai reinkarnasi Pele.
Era kepemilikan Shinawatra tidak berlangsung lama karena kasus korupsi yang melibatkan dirinya di Thailand memaksa dirinya menjual klub tersebut ke Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan dari Uni Emirat Arab. Di bawah kepemilikan Sheikh Mansour, Man City mengalami perubahan besar. Mereka menghabiskan ratusan juta poundsterling untuk membangun tim yang kuat.
Musim 2011-2012 menjadi tonggak awal dominasi City dalam Liga Primer dalam satu dekade terakhir ini. Mereka berhasil meraih gelar juara dan mengubah nasib klub dari yang sebelumnya merupakan tim semenjana menjadi salah satu klub elit di liga tiga singa ini.
Setelah fondasi tim telah terbentuk hasrat City untuk menguasai industri sepak bola tidak terbendung hingga terus melakukan perombakan pemain hingga pelatih. Ambisi mereka untuk menjadi kekuatan baru dalam dunia sepak bola sampai harus meng”indent” Pep Guardioal jauh hari saat masih aktif melatih klub raksasa Jerman Bayern Muenchen.
Dominasi Man City dalam beberapa musim terakhir telah menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan dan daya tarik kompetisi khususnya di liga Primer Inggris. Meskipun prestasi mereka patut diakui, penting bagi liga dan klub-klub lain untuk menjaga persaingan yang sehat dan menjaga daya tarik kompetisi. Kompetisi yang seimbang dan adil akan memberikan kesempatan bagi klub-klub lain untuk tumbuh dan bersaing, sehingga Liga Inggris tetap menarik bagi semua pihak yang terlibat.
Sebagai penggemar sepak bola, kita semua menginginkan kompetisi yang sengit, persaingan yang sehat, dan kejutan-kejutan yang tak terduga. Dominasi Man City dalam Liga Inggris memang mengesankan, tetapi penting bagi klub-klub lain untuk mengembangkan strategi yang efektif dan untuk regulasi yang adil dan transparan dalam kompetisi. Hanya dengan menjaga keseimbangan dan memperhatikan daya tarik kompetisi, Liga Inggris dapat tetap menjadi salah satu liga terbaik dan paling menarik di dunia sepak bola.










